Dalam Bulan Muharam ini (tahun 1448 H atau 1960 tahun Jawa dan 2026 tahun Masehi), tepat hari ini atau hari ke-10 Muharam dikenal dengan sebutan Hari Asyura yang terdapat dua momentum besar, yakni;
Pertama, pada hari Asy-Syura (hari ke-10 Muharam) ada peristiwa kemenangan atau kejayaan yang dialami oleh semua para Nabi/Rasul Allah, seperti diterimanya taubatnya Nabi Adam, Nabi Nuh selamat dari banjir besar, Nabi Ibrahim selamat dari pembakaran Raja Namrudz, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan hiu, Nabi Yusuf dikeluarkan dari sumur selama 3 hari, dan sebagainya.
Itulah sebabnya hari Asyura tersebut dikenal pula dengan “syahr al-anbiya” yang artinya bulan milik para Nabi/Rasul. Semua peristiwa besar yang dialami para Nabi/Rasul tersebut terjadi sebelum masa Kenabian Nabi Muhammad Saw.
Kedua, ada juga peristiwa besar pada hari Asy-Syura sesudah masa Kenabian Rasulullah Saw, yakni terjadinya peristiwa pembantaian kepada Sayyidina Husein, cucu Rasulullah atau putra Sayyidina Ali dan Fatimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad di Padang Karbala Irak.
Dengan demikian, pada hari Asy-Syura (hari ke-10 Muharam) itu terdapat dua peristiwa momentum besar yakni peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan, kemenangan dan kejayaan serta menjadikan rasa bersyukur kepada Allah Swt dengan peristiwa yang dialami para Nabi/Rasul dan sekaligus peristiwa memprihatinkan, kesedihan dan kepiluan sebagaimana yang dialami Sayyidina Husein yang berujung pada kesabaran.
Belum lama ini umat Islam di seluruh dunia telah menunaikan ibadah haji (Rukun Islam ke-5) di kota suci Makkah al-Karomah di Arab Saudi. Kaum muslimin berjuta-juta orang sedunia yang berbondong-bondong mengunjungi Ka’bah di Makkah tersebut jelas identik dengan kesyukuran, kemewahan, kejayaan, kemewahan, kemasyhuran dan sebagainya bagi Kerajaan Arab Saudi.
Sebaliknya belum lama ini juga Israel juga telah memborbardir warga Palestina du Gaza yang identik dengan penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan serta musti dihadapi dengan kesabaran. Hal itu sesungguhnya terjadi di dekat dua buah masjid di Kota Suci yakni Masjidil Haram di Makkah di Arab Saudi dan Masjidil Aqsha di Yerusalem Palestina sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Israa’ 1.
Dari dua momentum besar di atas, yakni hari Asy-Syura dan dua buah masjid (Masjidil Haram & Masjidil Aqsha) di atas, barangkali kita dapat mengambil hikmahnya bahwa dalam kehidupan ini tidak terlepas dari dua hal; kesenangan dan kesusahan, kekayaan dan kemiskinan, kemewahan dan kesengaraan, serta sekaligus kesyukuran dan kesabaran.
Allah menciptakan dalam kehidupan ini berpasang-pasangan; ada siang-malam, benar-salah, baik-buruk, laki-laki-wanita, sehat-sakit, menang-kalah, jaya-menderita, dan sebagainya.
Dalam perspektif spiritual Islam dikenal istilah Maqam Tujuh yang identik dengan terminal atau fase spiritual yang biasanya ditempuh para Salik (pejalan spiritual Tasawuf), yakni Taubat, Wara’, Zuhud, Faqir, Sabar, Ridha, Taqwa.
Mengenai maqamatul spiritual itu, meski syukur dan ikhlas tidak disebutkan, tetapi syukur dan ikhlas merupakan perspektif spiritual puncak. Hal itu setidaknya tercermin dari sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya; “Kesabaran adalah setengah dari keimanan. Sesungguhnya Iman itu terdiri dari dua bagian, Separuh yang pertama adalah sabar, yang separuh kedua adalah rasa syukur….”
Itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw merasa kagum dengan urusan dan perkara dialami seorang mukmin yang senantiasa bersama Allah Swt, yakni ketika seorang mukmin mendapatkan kenikmatan, kebaikan dan kegembiraan yang yang mengantarkan kesyukuran sehingga ia meraih keberuntungan dan pahala dan apabila Allah mengujinya lalu ia bersabar atas musibah tersebut, rela menerimanya, serta berharap pahala dan ganjaran di sisi Allah Ta’ala, maka Allah pun memberinya ilham untuk bersabar dan menghiburnya, serta melimpahkan karunia kepadanya sebagai balasan atas kesabaran dan keridaannya.
Demikian halnya ketika kaum mukminin berperang di jalan Allah; bila ia kalah hingga wafat, maka ia telah jihad fu sabilillah sehingga tergolong mati syahid an surga balasannya. Sebaliknya bila mereka menang niscaya akan jaya dan bersyukur kepada-Nya.[*]
Editor : Vidya Sajar Fitri