TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - DI bawah sinar bulan purnama yang sedang menampakkan pesonanya, kemarin malam saya ngopi bareng dengan Aris Sudanang di Lawasan, sebuah warung "fenomena" di Tulungagung.
Fenomena lantaran warung ini berdiri dua omah limasan kuno artistik dengan "outdoor" jembar yang bikin hati jadi lapang,.
Pun dihiasi pepohonan rindang meneduhkan, dan sesekali terdengar derai suara kereta api lewat amat mengasyikkan.
Kiranya itulah saya suka nongkrong di Waroeng Lawasan. Menu-menunya amat enak di lidah dan harganya tak bikin dompet jadi bedah. Murah.
Malam itu saya nongkrong bareng dengan Aris Sudanang, teman lama yang kini sebagai Direktur Radar Tulungagung (Jawa Pos). Malam itu kami berdua selain membincang perihal kekinian, juga kerap bercanda. Bercanda apa saja yang bisa kita candai. Termasuk mencandai diri sendiri. Hehe..
"Bos Aris semakin tua, terliat kian seksi saja. Kian langsing dan atletis," puji saya kepada Aris. Pujian ini amat beralasan, sebab dulu muda semasih sebagai wartawan debutan alias anyaran, Aris berbadan tambun. Gemuk glinuk-glinuk.
Mendengar candaan saya ini Aris tertawa ngakak. "Cak Wot ini ada-ada saja. "Seksi" itu maksutnya sekarang umur sudah "seket siji" lebih. Iya memang, umur saya sudah hampir enam puluh sih. "Seket siji" lebih, wis tuo Cak," kata Aris bercanda pula.
Kami berdua pun sama-sama tersenyum. "Meski sudah tua, Bos Aris masih terlihat muda. Selain terlihat seksi, tampak bugar. Ini pasti berkat suka puasa dan nggowes (bersepeda)," ujar saya.
"Hahaha..., kalau puasa tidak Cak. Tapi berkat nggowes mungkin. Belasan tahun saya nggowes, selain sebagai ajang untuk badan sehat, juga bisa untuk berkumpul dengan teman-teman penyuka nggowes," kata Aris bernas.
Nggowes, sambung Aris, baginya tak sekadar hobi. Pun tak sekadar untuk badan sehat, mencari angin segar, dan melihat-lihat pesona alam. Tapi lebih dari sekadar itu, nggowes memiliki filosofi yang tinggi dalam hidup ini. "Itu yang saya suka dari nggowes. Bisa mencipta kesegaran jasmani dan ruhani. Pokoknya, nggowes itu lengkap manfaatnya," kata Aris Sudanang dengan meyakinkan.
Lalu, saya bertanya tentang filosofinya. "Nggowes itu pasti melewati jalan naik dan turun, seperi perjalanan hidup ini. Naik dan turun jalan itu harus dilalui dengan rasa senang. Bersyukur. Jika tidak, nggowes tidak akan mencapai tujuan. Itu kalau saat sedang jalan menanjak atau naik, tak disertai semangat atau keyakinan, maka tak akan bisa mencapai tujuan," ujar Aris serius.
Begitu pula saat jalan turun, lanjut Aris, janganlah bersukaria atau malah takut. Jalan turun kok takut? "Loh ada lo penggowes itu yang takut dengan jalan turun tajam. Takut tergelincir rem blong dan terjatuh," jawab Aris.
Dengan cekatan Aris mencontohkan Ivo, anak dari salah satu bos PT Gudang Garam Kediri Tbk. Ivo adalah isteri Azrul Ananda, putra Pak Dahlan Iskan. "Mbak Ivo itu kalau di jalan turun tajam, lebih memilih turun dan menuntun sepedanya," jelas Aris.
Pun begitu saat jalan menanjak tajam, tak sedikit penggowes turun dan memanggul sepedanya. "Nggowes itu naik turun, seperti perjalanan hidup. Naik juga butuh cara dan semangat, sebaliknya ketika jalan naik tajam pun begitu, perlu strategi dan semangat," ujar Aris seperti dawuh kiai sepuh.
"Intinya naik-turun nggowes dan hidup ini selalu harus tetap semangat. Bersyukur. Berkesadaran menerima setiap perjalanan ini dengan penuh dedikasi," pungkas Aris sembari menghabiskan kopi tubruk kesukaannya yang sudah dingin akibat terpaan dingin musim kemarau sebelum meninggalkan Waroeng Lawasan. (**)
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung
Editor : Anggi Septian A.P.