TULUNGAGUNG – Tidak semua pertemuan penting lahir di ruang rapat. Sebagian justru dimulai dari ruang tamu, secangkir kopi, dan percakapan yang mengalir tanpa naskah.
Itulah yang tergambar saat Direktur Jawa Pos Radar Tulungagung, Aris Sudanang, berkunjung ke kediaman pengusaha ekspor asal Tulungagung yang telah lama berkiprah di Malaysia, Datuk Diraja Dimyani, atau yang akrab disapa Kaji Dim, Selasa (4/8) malam.
Suasana hangat langsung terasa sejak awal di kediaman Kaji Dim di Kelurahan Patihan, Kecamatan Tulungagung. Belum lima menit berbincang, keduanya sudah larut dalam cerita-cerita lama.
Aris bahkan mengaku baru menyadari bahwa mereka pernah beberapa kali berada dalam forum yang sama ketika berada di Bandung.
"Saya baru sadar ternyata kami sudah beberapa kali berada di forum yang sama. Aneh juga, sama-sama orang Tulungagung, tetapi baru benar-benar ngobrol malam ini," ujar Aris sambil tersenyum.
Obrolan pun mengalir dari pengalaman pribadi menuju satu nama yang sama-sama mereka kagumi, yakni Dahlan Iskan. Dari sanalah muncul istilah yang memancing gelak tawa sekaligus memantik diskusi lebih dalam.
Aris berseloroh dirinya termasuk kelompok "pesuruh", sedangkan Kaji Dim dikenal sebagai salah satu "perusuh" dalam lingkaran diskusi Dahlan Iskan.
Namun, istilah "perusuh" yang dimaksud bukanlah pembuat keributan. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang berani menyampaikan pandangan berbeda, mengkritisi gagasan, dan memberikan sudut pandang lain sebagai bahan pertimbangan.
"Abah itu tidak suka dikelilingi orang yang hanya mengangguk. Beliau justru senang ada yang mengkritik, menguji, bahkan berbeda pendapat. Dari situ biasanya muncul gagasan yang lebih matang," kata Aris.
Bagi Aris, budaya berdiskusi seperti itulah yang membuat banyak ide besar lahir. Sebab, sebuah pemikiran akan semakin kuat ketika diuji oleh pandangan-pandangan yang berbeda.
Percakapan tentang Dahlan Iskan nggak berhenti cuma di istilah "pesuruh" dan "perusuh". Buat Kaji Dim, mantan Menteri BUMN itu adalah sosok yang cara pikirnya jauh melampaui zamannya.
"Yang saya kagumi dari Pak Dahlan itu bukan cuma keberaniannya mengambil keputusan, tapi juga cara beliau menyatukan cara berpikir organisasi. Beliau selalu mikir beberapa langkah ke depan," ujar Kaji Dim.
Menurut Kaji Dim, salah satu hal yang paling dia ingat adalah saat Dahlan Iskan memimpin PLN. Waktu itu, Dahlan punya kebiasaan rutin menulis. Lewat tulisan-tulisan itu, berbagai gagasan, arah kebijakan, sampai program yang mau dijalankan disampaikan secara terbuka.
Buat Kaji Dim, kebiasaan itu bukan sekadar aktivitas nulis biasa.
"Lewat tulisan, seluruh keluarga besar PLN jadi satu frekuensi. Dari pimpinan sampai staf di bawah jadi tahu arah yang mau dituju. Menurut saya itu kepemimpinan yang luar biasa. Komunikasi beliau nggak cuma berhenti di ruang rapat, tapi sampai ke semua orang," tuturnya.
Kaji Dim menilai cara komunikasi seperti itu menunjukkan pola pikir yang futuristis. Seorang pemimpin bukan cuma memberi instruksi, tapi juga membangun visi yang sama lewat ide-ide yang terus dibagikan, baik ke publik maupun ke orang-orang di dalam organisasi.
"Makanya sampai sekarang saya masih suka ngikutin tulisan-tulisan beliau. Dari situ kita bisa belajar gimana seorang pemimpin membangun organisasi lewat ide dan komunikasi," pungkasnya.
Percakapan malam itu kemudian melebar ke banyak nama. Keduanya saling menyebut relasi yang ternyata saling terhubung. Salah satunya jurnalis senior Imron Mawardi yang disebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Kaji Dim.
Suasana pun semakin cair. Obrolan nostalgia perlahan bergeser ke dunia usaha.
Sebagai seorang wartawan, insting Aris mengarah pada pertanyaan mengenai perkembangan bisnis yang selama ini dijalankan Kaji Dim di Malaysia.
Kaji Dim mengaku kini mulai mengurangi keterlibatan dalam operasional sehari-hari. Ia memilih menyiapkan regenerasi dengan memberikan kepercayaan lebih besar kepada anak-anaknya.
"Sekarang saya mulai menyerahkan operasional kepada anak-anak. Saya ingin lebih banyak pulang ke Tulungagung. Biar mereka yang meneruskan, saya mendampingi dari belakang," tutur Kaji Dim.
Menurutnya, setiap usaha membutuhkan keberlanjutan. Regenerasi menjadi bagian penting agar bisnis tetap tumbuh sekaligus memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk berkembang.
Selain membahas bisnis, percakapan juga menyinggung perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Topik tersebut menjadi menarik karena keduanya sama-sama melihat AI sebagai alat yang harus dipelajari, bukan dihindari.
"Teknologi tidak bisa kita hindari. AI justru membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Tinggal bagaimana kita mau belajar atau tidak," ujar Kaji Dim.
Pandangan serupa juga disampaikan Aris. Menurutnya, AI bukan ancaman bagi profesi apa pun selama manusia mampu beradaptasi dan menggunakannya secara bijak.
"Pertemuan seperti ini tidak selalu menghasilkan kesepakatan bisnis. Tapi yang lebih penting, lahir kesamaan cara pandang. Dari situ biasanya kolaborasi akan menemukan jalannya sendiri," ungkapnya.
Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu berakhir menjelang pukul 21.00 WIB. Tidak ada penandatanganan kerja sama ataupun agenda resmi lainnya.
Yang tersisa justru sebuah kesepakatan sederhana: kembali bertemu dalam suasana yang sama, ditemani secangkir kopi dan obrolan tanpa sekat.
Mungkin memang demikian awal dari banyak kolaborasi besar. Bukan selalu lahir dari meja rapat atau proposal yang tebal, melainkan dari ruang tamu yang menghadirkan kehangatan, keterbukaan, dan keberanian untuk saling bertukar gagasan.
Pada akhirnya, malam itu bukan sekadar mempertemukan dua tokoh asal Tulungagung. Malam itu mempertemukan seorang "pesuruh" dan seorang "perusuh"—dua orang dengan frekuensi yang sama, yang percaya bahwa gagasan terbaik lahir dari keberanian untuk berdialog.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.