AI dan Kemandirian Visual UMKM

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:27 WIB
Ercilia Rini Octavia, Ph.D. (PSP-KUMKM LPPM/FSRD UNS)
Ercilia Rini Octavia, Ph.D. (PSP-KUMKM LPPM/FSRD UNS)

 

Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi terasa jauh dari kehidupan pelaku usaha. Melalui telepon pintar (smart phone), siapapun dapat mencari ide, membuat gambar, menyusun materi promosi, bahkan mencoba merancang logo produknya sendiri. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kemudahan ini tentu menarik karena pekerjaan visual yang sebelumnya dianggap teknis dan mahal menjadi lebih mudah dijangkau.

Selaras dengan kajian Hamid dan Artha (2026) terhadap 50 artikel ilmiah peer-reviewed menunjukkan bahwa pemanfaatan AI pada usaha kecil dan menengah berpotensi mendukung efisiensi, pengurangan biaya, retensi pelanggan, dan inovasi.

Namun, mereka juga menemukan persoalan keterampilan, finansial, dan infrastruktur digital sebagai penghambat adopsi AI. Karena itulah, pertanyaan yang menurut saya lebih penting bukan sekadar "Sudahkah UMKM menggunakan AI?", tetapi "Apakah teknologi tersebut benar-benar dapat membuat pelaku usaha lebih mandiri dan berdaya saing?" 

Produk Ada, Identitas Belum Tentu Ada

Persoalan UMKM cenderung dikaitkan dengan modal, produksi, pemasaran, dan akses pasar. Padahal, ada persoalan yang terlihat lebih sederhana, yakni tentang ‘bagaimana sebuah produk bisa dikenali’. Pengalaman mendampingi pelatihan 15 pelaku UMKM berbasis komunitas PIK Potads Jawa Tengah (komunitas/ yayasan sosial yang anggotanya berupa anak dan orang tua yang memiiki anak down syndrome di Jawa Tengah), dari sejumlah daerah di Jawa Tengah memperlihatkan hal tersebut.

Dari 15 pelaku UMKM, 12 belum memiliki logo konsisten, dua menggunakan gambar dari internet, dan hanya satu yang telah mempunyai logo konsisten, yakni usaha garment. Terdapat pula pelaku UMKM yang menganggap membuat logo membutuhkan biaya mahal, ada pula yang akhirnya menggunakan visual seadanya atau meminta orang lain membuatkannya.

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan tidak mempunyai logo, melainkan menunjukkan adanya ‘kesenjangan akses terhadap desain’. Padahal logo, warna, tipografi, label, dan kemasan bukan sekadar pemanis. Identitas visual akan membantu konsumen mengenali siapa produsennya dan membedakan sebuah produk dari produk lain.  

AI Membuka Pintu Desain

Dari 15 peserta yang saya dampingi dalam pelatihan menggunakan AI untuk merancang identitas visual produk pelaku UMKM PIK Potads Jawa Tengah, ternyata 12 pelaku UMKM sebelumnya belum pernah menggunakan AI. Sebagian sebenarnya sudah mengetahui keberadaan teknologi tersebut, tetapi belum pernah menggunakannya untuk kepentingan dalam mengembangkan identitas produk mereka.

Ketika mulai mencoba, mereka belajar bahwa membuat logo ternyata tidak dimulai dari gambar. Namun bisa dimulai dengan ajuan pertanyaan yang harus dijawab lebih dahulu, seperti: ‘Apa karakter produk saya? Siapa konsumennya? Pesan apa yang ingin disampaikan?’ Setelah itu, barulah pelaku UMKM ini mencoba menyusun prompt, melihat hasilnya, memperbaiki, kemudian mencoba kembali.

Prosesnya tidak selalu cepat. Kadang hasil AI tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Namun demikian, proses mencoba dan memperbaiki itu justru membuat pelaku UMKM mulai memikirkan identitas produknya sendiri. Justru di sinilah saya melihat AI dapat membuka akses menuju proses desain yang sebelumnya terasa sulit dan mahal.

Saya menyebutnya sebagai langkah menuju kemandirian visual UMKM. Bukan berarti setiap pelaku UMKM harus menjadi desainer, tetapi mereka setidaknya mampu memahami dan mengambil keputusan dasar mengenai identitas produknya. 

Bisa Menggunakan AI Belum Tentu Bisa Mendesain

Ada hal menarik yang saya temukan selama pendampingan dalam pelatihan. Ketika mulai mampu menghasilkan gambar menggunakan AI, peserta justru cenderung ingin memasukkan terlalu banyak pesan ke dalam logo. Akibatnya, visual menjadi ramai dan terlalu detail. Di titik inilah terlihat bahwa mampu menggunakan AI tidak sama dengan mampu mendesain.

AI dapat menghasilkan banyak pilihan visual, tetapi tidak terus otomatis membuat penggunanya memahami apakah logo mudah dikenali, sesuai dengan karakter produk, berbeda dari kompetitor, atau tetap terbaca ketika ukurannya diperkecil.

Menurut Chen dkk., AI banyak membantu manusia dalam menghasilkan gagasan, sementara proses memilih dan mengevaluasi gagasan tetap lebih banyak dipimpin manusia. Karena itulah, UMKM tidak cukup hanya mendapatkan literasi AI. Mereka tetap membutuhkan literasi desain berbasis AI. 

Dari Kemasan Polos Menjadi Identitas

Perubahan setelah pendampingan dalam pelatihan, justru terlihat pada sesuatu yang sederhana. Produk UMKM yang sebelumnya menggunakan kemasan polos mulai mempunyai label dan logo. Konsumen menjadi lebih mudah mengetahui siapa produsennya, sementara produk memiliki tanda visual untuk dikenali dan diingat. Salah satu usaha makanan, Namas Snack, misalnya, sebelumnya menerima sekitar 5–10 pesanan.

Dalam perkembangannya, pesanan menjadi rata-rata lebih dari 30 rice bowl per minggu, termasuk pesanan untuk kebutuhan komunitas. Tentu saya tidak mengatakan bahwa peningkatan tersebut terjadi hanya karena logo atau AI. Usaha berkembang karena banyak faktor: kualitas produk, harga, pelayanan, jaringan konsumen, dan promosi.  

Jangan Berhenti pada Pelatihan AI

Pemberdayaan UMKM sebaiknya tidak berhenti pada pelatihan menggunakan aplikasi AI. Teknologi berubah sangat cepat, sehingga yang lebih penting adalah membangun bagaimana cara berpikir desain.

Berdasarkan pengalaman pendampingan, saya melihat kebutuhan akan model literasi desain berbasis AI yang dapat dilakukan melalui enam tahap: kenali, rumuskan, pahami, eksplorasi, evaluasi, dan terapkan.

Pertama, pelaku UMKM perlu ‘mengenali’ karakter, keunggulan produk, dan konsumennya. Kedua, ‘merumuskan’ pesan dan karakter merek yang ingin disampaikan. Ketiga, ‘memahami’ prinsip visual dasar seperti logo, warna, tipografi, bentuk, dan kesederhanaan. Keempat, ‘mengeksplorasi’ berbagai kemungkinan visual melalui prompt dan bantuan AI. Kelima, ‘mengevaluasi’ hasil berdasarkan keterbacaan, relevansi, diferensiasi, dan orisinalitas. Keenam, ‘menerapkan’ identitas terpilih secara konsisten pada label, kemasan, dan media promosi. 

Selanjutnya, pendampingan usaha perlu mempertemukan tiga kemampuan: literasi AI, literasi desain, dan literasi merek. AI pun tidak perlu ditempatkan sebagai pengganti desainer.

Ketika usaha berkembang, kebutuhan visual akan semakin kompleks, mulai sistem identitas, kemasan, fotografi produk, media promosi, konten digital, hingga persoalan orisinalitas dan kekayaan intelektual.  

Menuju Kemandirian Visual UMKM

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi digital UMKM bukanlah berapa banyak pelaku usaha yang sudah menggunakan AI atau berapa banyak logo yang dapat dibuat dalam satu hari. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ‘apakah setelah mengenal teknologi, pelaku usaha semakin memahami produknya sendiri? Apakah mereka lebih mandiri dalam mengomunikasikan usahanya? Apakah produknya semakin mudah dikenali konsumen?’.

Agenda transformasi digital UMKM ke depan karena itu perlu melampaui sekadar penguasaan aplikasi. Model literasi desain berbasis AI (yakni kenali, rumuskan, pahami, eksplorasi, evaluasi, dan terapkan) dapat menjadi salah satu kerangka pendampingan menuju kemandirian visual UMKM.

Proses tersebut menempatkan teknologi sebagai bagian dari perjalanan desain, bukan sebagai tujuan akhirnya. Pelaku usaha terlebih dahulu mengenali produk dan merumuskan pesan, kemudian menggunakan AI untuk mengeksplorasi kemungkinan visual, mengevaluasi hasilnya dengan pemahaman desain, dan menerapkannya secara konsisten pada identitas produk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
kemandirian visual umkm ai desain