Merdeka Menjadi Ibu, Merdeka Menjadi Manusia

Tim Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:09 WIB
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

 

Dari rahim ibu, kita belajar menjadi manusia

Oleh: Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, M.Ag.

Setiap kali Agustus tiba, ada satu kata yang selalu terasa mahal harganya: kemerdekaan — yang dulu ditebus dengan darah dan air mata. Tapi jarang kita bertanya: sudahkah kemerdekaan itu sungguh-sungguh sampai ke ruang paling kecil dalam hidup kita? Rumah, misalnya.

Pertanyaan ini jadi menarik begitu kita bicara soal ibu. Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, menyiapkan makanan, mendampingi anak — semua dijalani sembari tetap dituntut mengikuti zaman yang bergerak cepat.

Kita gemar memuji pengorbanannya, tapi kadang lupa: di balik semua peran itu ada manusia biasa, yang bisa lelah, yang ingin belajar, yang juga punya cita-cita sendiri. Memuliakan ibu, saya kira, bukan berarti menjadikannya korban yang harus terus-menerus berkorban. 

Tiga Kali: Ibumu

Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan perjalanan menjadi ibu sebagai sesuatu yang ringan. “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,” begitu Allah mengingatkan (QS. Luqman: 14) — dan di ayat lain, ibu disebut mengandung serta melahirkan dengan susah payah (QS. Al-Ahqaf: 15).

Bukan cuma perintah umum untuk berbuat baik pada orang tua yang bisa kita temukan di sini — Al-Qur’an rupanya menyoroti sesuatu yang lebih spesifik: beban fisik yang harus ditanggung seorang ibu. Ada satu riwayat menarik soal ini. Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik darinya.

Jawaban Nabi tidak biasa — diulang tiga kali sebelum akhirnya menyebut sosok lain: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Ada perjalanan panjang yang tidak selalu kelihatan di balik pengulangan itu.

Meski begitu, saya kira hadis ini keliru kalau dibaca semata sebagai dalih untuk terus menuntutnya berkorban. Justru sebaliknya — semakin besar pengorbanan seorang ibu, semakin besar pula penghormatan yang berhak ia terima, sebagai manusia. 

Ibu Bukan Manekin, Bukan Mesin

Cara pandang kita perlu dikoreksi di sini. Perempuan kerap dijejali gambaran ideal yang kelewat sempurna: harus sabar, kuat, lembut, pandai mengurus rumah, berhasil mendidik anak, dan sebisa mungkin tidak boleh mengeluh.

Kalau tidak hati-hati, ibu diam-diam berubah jadi manekin — tampak baik di luar, tapi tak pernah diberi ruang untuk berkata apa yang sesungguhnya ia rasakan. Atau jadi mesin: terus bekerja, terus melayani, tanpa jeda untuk berhenti sejenak. Padahal ibu, sesungguhnya, adalah manusia — sama seperti kita, ia punya akal untuk berpikir, hati untuk merasa, kehendak untuk memilih. Haknya untuk terus belajar pun tidak berbeda.

Nah, di titik inilah sebutan ibu sebagai madrasah pertama bagi anak perlu kita renungkan ulang. Jangan buru-buru memaknainya semata sebagai kewajiban mendidik. Ada satu pertanyaan yang mestinya diajukan lebih dulu: sudahkah ibu sendiri mendapat kesempatan untuk dididik? 

Bahasa Memberi Kita Sebuah Isyarat

Ada satu hal menarik dalam bahasa Arab yang layak direnungkan. Kata umm (أمّ), imam, dan ummah sama-sama berasal dari akar أ م م — salah satu medan maknanya berkaitan dengan tujuan, arah, sesuatu yang jadi rujukan. Dari sini muncul asosiasi menarik: bisa jadi ibu adalah salah satu pusat orientasi pertama dalam hidup seorang anak, bahkan keluarga dan masyarakat.

Bagi anak, rumah adalah tempat pertama mengenal dunia. Cara berkomunikasi, berbahasa, berterima kasih, meminta maaf, menghormati orang lain, semuanya dipelajari lebih dulu dari orang-orang terdekat.

 Dengan begitu, peran ibu, jauh lebih besar dibanding sebatas urusan domestik: rumah adalah ruang pendidikan pertama, dan ibu sering menjadi salah satu gurunya yang pertama. Oleh karena itu pendidikan seorang ibu sesungguhnya bukan hanya investasi untuk dirinya sendiri, melainkan investasi bagi sebuah generasi.

Ibu yang Merdeka Secara Intelektual

Zaman sudah banyak berubah. Anak-anak kita hari ini tidak lagi hanya belajar dari buku dan guru. YouTube, TikTok, Instagram, gim, obrolan dengan teman sebaya, semua ikut membentuk cara mereka memandang dunia. Cukupkah seorang ibu hanya berkata, “jangan percaya itu”?

Saya rasa tidak cukup. Ia harus duduk bersama anaknya, bertanya dan membahas bersama: mengapa kita harus percaya, dari mana informasi ini datang, apa akibatnya kalau kita ikut mempercayainya. Dengan kata lain, Ibu juga butuh ketajaman berpikir untuk membaca zamannya sendiri — meski ketajaman berpikir tanpa kompas etika, jujur saja, bisa menyesatkan juga.

Karena itulah pendidikan perempuan mesti mempertemukan nalar yang kritis dan sikap yang etis sekaligus, agar ia bisa menemani anaknya menghadapi dunia yang kian rumit tanpa kehilangan arah kemanusiaannya. 

Khadijah dan Seni Menjadi Tempat Pulang

Ada teladan yang begitu indah pada sosok Sayyidah Khadijah RA. Sepulang dari Gua Hira dalam keadaan terguncang seusai menerima wahyu pertama, Rasulullah SAW berkata, “Zammiluni, zammiluni” (selimuti aku, selimuti aku.) Khadijah tidak panik menghadapi keguncangan itu.

Justru sebaliknya, ia yang menenangkan, ia yang menguatkan dan meyakinkan sang suami bahwa Allah tak mungkin menghinakannya, sambil mengingat-ingat kembali kebaikan demi kebaikan yang selama ini beliau lakukan. 

Ada sikap perempuan di sini yang jarang kita sadari sebagai karakteristik kepemimpinan. Yakni menjadi tempat seseorang menemukan lagi ketenangannya, di saat badai menerpanya. Rumah yang sehat, bagi saya, bukan rumah yang bebas dari masalah — melainkan rumah yang selalu punya ruang untuk pulang. Dan ibu, bersama seluruh anggota keluarga, memikul peran penting menghadirkan ruang semacam itu.

Kemerdekaan yang Harus Kita Wariskan

Kalau bicara kemerdekaan bangsa, jangan hanya membayangkannya berlangsung di ruang publik. Ada kemerdekaan lain yang perlu diperjuangkan dan dirawat yang justru berada di dalam keluarga: kemerdekaan untuk belajar, berpikir, bertumbuh, menjadi manusia seutuhnya.

Sekali lagi, saya tegaskan: Ibu tidak harus sempurna — boleh lelah, boleh belajar lagi kapan saja, boleh punya cita-citanya sendiri, boleh mengambil ruang untuk terus berkembang. Sebab memuliakan seorang ibu bukan lewat tuntutan kesempurnaan yang kita bebankan padanya, melainkan lewat cara kita menghargai kemanusiaannya apa adanya. 

Dari ibu yang terus belajar, biasanya lahir anak-anak yang mencintai ilmu. Dari ibu yang berpikir kritis, lahir generasi yang tak gampang ditipu zamannya. Dari ibu yang bersikap etis, lahir manusia yang bukan cuma cerdas, tapi tahu ke mana kecerdasan itu semestinya diarahkan.

Barangkali di titik itulah kemerdekaan menemukan makna yang lebih dalam — begitu seorang ibu diberi ruang menjadi manusia seutuhnya, dari sanalah lahir generasi yang juga merdeka. 

“Bangsa yang besar, pada akhirnya, tidak melulu dibangun di gedung-gedung megah atau ruang-ruang kekuasaan. Ia tumbuh diam-diam juga di rumah, dari rahim dan tangan seorang ibu.”

Berpikir kritis. Bersikap etis. Merdeka menjadi manusia. (Esenha) 

Editor : Vidya Sajar Fitri
khadijah agustus kemerdekaan ibu