Mengajarkan Akhlak kepada Anak di Era Gadget

Tim Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:02 WIB
(Ahmad Zainal Abidin, Guru Besar Uin Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
(Ahmad Zainal Abidin, Guru Besar Uin Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

 

Di era digital, tantangan mendidik anak tidak lagi sama seperti dahulu. Anak-anak hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, permainan digital, dan berbagai pengaruh dari luar rumah.

Mereka dapat belajar dari siapa saja, melihat apa saja, dan meniru siapa saja. Karena itu, mengajarkan akhlak tidak cukup hanya dengan memberi nasihat. Yang lebih dibutuhkan adalah pembiasaan dan keteladanan. 

Anak tidak belajar akhlak dari apa yang didengarnya, tetapi dari apa yang dilihatnya setiap hari. Orang tua yang meminta anak berkata jujur, tetapi sering berbohong, akan sulit melahirkan anak yang jujur. Guru yang mengajarkan disiplin tetapi sering terlambat datang ke kelas juga akan kesulitan menanamkan kedisiplinan.

Orang tua yang jarang shalat atau mengaji akan sulit mengajarkan kewajiban shalat dan mengaji bagi anak. Akhlak lebih mudah ditangkap melalui contoh daripada ceramah. 

Ada beberapa Langkah yang bisa ditiru. Langkah pertama adalah membangun kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Biasakan anak mengucapkan salam ketika masuk rumah, mengucapkan terima kasih ketika menerima bantuan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang akan berubah menjadi karakter.

Kedua, ajarkan akhlak melalui praktik, bukan hanya teori. Daripada menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya tolong-menolong, ajak anak membantu tetangga, membersihkan masjid, berbagi makanan, atau mengunjungi orang sakit. Pengalaman langsung akan lebih membekas daripada seribu kata.

Ketiga, biasakan anak bertanggung jawab. Berikan tugas sesuai usianya, seperti merapikan tempat tidur, menyimpan mainan, mencuci piring sendiri, atau menyiram tanaman. Anak yang terbiasa memikul tanggung jawab akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Keempat, batasi penggunaan gawai dan perbanyak interaksi fisik antar keluarga. Banyak nilai akhlak lahir dari percakapan di rumah, makan bersama, bermain bersama, dan berdiskusi dengan orang tua. Jika setiap anggota keluarga sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing, kesempatan mendidik akhlak akan semakin berkurang.

Kelima, biasakan anak membaca Al-Qur'an, membaca buku, berdoa, dan melaksanakan ibadah bersama. Akhlak yang kuat tidak hanya dibangun oleh aturan sosial, tetapi juga oleh kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah Swt. Ketika hubungan dengan Tuhan baik, hubungan dengan sesama juga akan lebih baik.

Keenam, berikan penghargaan atas perilaku baik. Anak yang jujur, disiplin, atau suka menolong layak mendapatkan pujian dan apresiasi. Penghargaan tidak selalu berupa hadiah. Senyuman, pelukan, ucapan terima kasih, atau doa dari orang tua sering kali jauh lebih bermakna.

Ketujuh, koreksi kesalahan dengan bijaksana. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan langsung memarahinya di depan banyak orang. Anak akan menolak cara dingatkan di depan orang banyak karena merasa dipermalukan. Alih-alih menyalahkan langsung di depan orang lain, jelaskan letak kesalahannya, dengarkan alasannya, kemudian bimbing cara memperbaikinya. Tujuan mendidik adalah memperbaiki perilaku, bukan mempermalukan anak.

Kedelapan, pilihkan lingkungan yang baik. Bisa di pesantren dan sekolah yang baik. Teman akrab memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan akhlak.

Anak yang tumbuh di lingkungan yang jujur, santun, rajin, dan religius cenderung lebih mudah meniru perilaku baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat menghapus hasil pendidikan yang telah dibangun bertahun-tahun. 

Kesembilan, manfaatkan teknologi sebagai sarana pendidikan. Pilihkan tontonan, bacaan, dan media digital yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dampingi anak saat menggunakan internet dan ajarkan etika bermedia sosial sejak dini, seperti tidak menghina, tidak menggunakan kata-kata kasar, tidak menyebarkan berita bohong, dan bisa menghormati orang lain.

Kesepuluh, jadikan evaluasi akhlak sebagai kebiasaan keluarga. Sebelum tidur, orang tua dapat bertanya, "Kebaikan apa yang kamu lakukan hari ini?" atau "Siapa yang sudah kamu bantu hari ini?" Pertanyaan sederhana seperti ini akan melatih anak untuk selalu melakukan introspeksi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak anak yang cerdas, tetapi juga melahirkan anak yang berakhlak mulia. Nilai rapor yang tinggi akan menjadi lebih bermakna jika disertai kejujuran. Prestasi akademik akan lebih indah jika dibarengi dengan rendah hati. Kepintaran akan membawa manfaat jika digunakan untuk menolong sesama.

Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh banyaknya generasi yang memiliki akhlak yang baik. Sebab, ilmu tanpa akhlak dapat disalahgunakan untuk perilaku destruktif dan menyusahkan orang lain, kekuasaan tanpa akhlak dapat melahirkan kezaliman, dan kekayaan tanpa akhlak dapat menimbulkan keserakahan dan kesombongan.

Karena itu, mari kita mulai pendidikan akhlak dari rumah, dari sekolah, dan dari diri kita sendiri. Anak-anak tidak membutuhkan orang tua atau guru yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau memberi teladan, membimbing dengan kasih sayang, dan membiasakan mereka melakukan kebaikan setiap hari. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah akan lahir generasi yang berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat, dan dicintai oleh Allah Swt. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
akhlak teknologi ai anak