Peristiwa Penting Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

Wawan Susetya • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:16 WIB
Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung

 

PROKLAMASI Kemerdekaan Bangsa Indonesia dikumandangakan oleh Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 1365 H. Hari Jumat  Legi. Besoknya tanggal 18 Agustus 1945 PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengesahkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai syarat berdirinya negara RI (Republik Indonesia).

Dengan demikian yang terjadi di masyarakat kita menjadi gambyuh; yaitu ketika memperingati HUT (hari ulang tahun) kemerdekaan RI (maksudnya negara RI) tanggal 17 Agustus, padahal sebenarnya yang terjadi merupakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Semestinya peringatan kemerdekaan negara RI tanggal 18 Agustus lantaran tanggal 18 Agustus 1945 saat itu baru disahkan Pancasila dan UUD 1945 oleh PPKI.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum bangsa kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945, bangsa kita dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun. Meski secara umum disebutkan bahwa bangsa kita dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, namun sebenarnya itu hanyalah perkataan dari Bung Karno sebagai perlambang (lambang, simbolik) bahwa bangsa Belanda telah lama sekali menjajah bangsa kita sampai 7 turunan (sekitar 350 tahun). Dengan demikian, penjajahan tersebut tidak sampai 350 tahun.

Bangsa Belanda datang pertama kali di negara kita Indonesia tahun 1596. Kedatangan Belanda saat tiba di Indonesia yang pertama kali di Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman dengan tujuan mencari rempah-rempah. Namun, Corenlis de Houtman tersebut  tidak mewakili bangsa Belanda atau pemerintahan Belanda, tapi merupakan urusan pribadi yaitu dengan tujuan mencari barang dagangan rempah-rempah. Tidak dimaksudkan untuk menjajah bangsa Indonesia.

Lama-kelamaan makin banyak para pedagang Belanda yang mencari rempah-rempah di Indonesia, sehingga sering terjadi konflik di antara para pedagang Belanda tersebut. Maka dari itu didirikanlah atau dibentuklah VOC (Verenidge Ootindische Compagnie) atau kongsi dagang Belanda swasta pada tanggal 20 Maret tahun 1602. Pada waktu itu VOC tersebut telah menguasai 3 daerah, yaitu menaklukkan Banten tahun 1633, menaklukkan Makasar setelah mengalahkan Sultan Hasanuddin tahun 1677 dan menguasai Yogyakarta. 

Tahun 1816 bangsa Belanda ingin menguasai Nuswantara, bukan hanya Jawa saja, tapi juga sampai luar Pulau Jawa. Bangsa Belanda lalu mengalahkan Kerajaan Bali pada tahun 1904 dan Kasultanan Aceh tahun 1912. Dengan demikian hampir seluruh Nuswantara sudah dikuasai oleh Bangsa Belanda. Maka ada hitungan bahwa mulai tahun 1912 tersebut Belanda menjajah Nuswantara. Kalau 1912 sampai 1942 (karena giliran Bangsa Jepang yang menjajah), maka diperkirakan sekitar 30 tahun Belanda menjajah Nuswantara. Setelah dijajah Belanda, tahun 1942 bangsa Jepang datang dengan tujuan  menjajah negara kita hingga 3.5 tahun.

Akhirnya kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Ketika itu tengah terjadi “Perang Asia Timur Raya”, Amerika Serikat mengumumkan perang melawan Jepang karena adanya serangan tentara Jepang di Pusat Pertahanan Amerika Serikat “Pearl Harbour” tanggal 8 Desember 1941. Ketika itu Angkatan Laut dan Angkatan Udara tentara Jepang semakin agresif mendarat di wilayah Indocina, Filipina, Malaya, dan Indonesia. Melihat hal itu akhirnya Pemerintah Hindia Belanda lalu bergabung dengan Sekutu (Amerika beserta sekutunya) serta mengumumkan perang melawan Jepang.

Ketika itu Jepang juga sudah mendarat di wilayah Indonesia dengan tujuan melumpuhkan pasukan Belanda. Tentara Jepang mendarat yang pertama  di daerah Tarakan (Kalimantan) selanjutnya menuju Balik Papan dan Pontianak. Setelah itu diteruskan ke Sulawesi seperti Manado dan Makasar serta Ambon. Juga datang ke Palembang (Sumatra) sampai Jawa. Tanggal 1 Maret 1942, Jepang sudah mendarat ke Banten, Indramayu dan selanjutnya ke Rembang (Jawa Tengah).

Setelah itu Batavia dikuasai oleh Jepang tanggal 5 Maret 1942, sehingga wilayah kekuasaan Jepang makin meluas sampai ke daerah Cikampek, Surakarta, Semarang dan Surabaya (Jawa Timur). Dengan kedatangan Jepang tentu saja membuat Belanda semakin terdesak. Dan, akhirnya Pemeritah Hindia Belanda mengumumkan pasrah-bongkokan atau menyerah kepada Jepang.

Masyarakat Indonesia awalnya menyambut dengan ramah kedatangan militer Jepang. Hal itu ditunjukkan dengan sikap kooperatif tokoh-tokoh Nasional seperti Ir. Soekarno dan Moh Hatta. Pemerintahan Jepang pun juga merangkul rakyat Indonesia dengan membentuk ormas (organiasasi masyarakat), antara lain Gerakan Tiga A, Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Jawa Hokokai, Seinendan, Keibodan, Fujinkai, Heiho, MIAI, termasuk membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Tentu saja hal itu seperti ujaran peribahasa  “ada udang di balik batu” karena Jepang sesungguhnya membutuhkan bantuan rakyat Indonesia untuk menghadapi Sekutu di Perang Dunia II. Yang jelas Jepang benar-benar ingin menjajah bangsa kita.

Tanggal 6 Agustus 1945, Kota Hiroshima Jepang dibom atom oleh Amerika dan Sekutu sehingga menjadi hancur berkeping-keping. Peristiwa itu sangat menakutkan dan mengerikan hingga menjatuhkan mental tentara Jepang.

Sehari setelah itu, tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau “Dokuritsu Junbi Cosakai” berubah nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam Bahasa Jepang. Barangkali itu merupakan siasat bangsa Jepang untuk membe rikan hadiah kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Selanjutnya tanggal 9 Agustus 1945, bom atom yang kedua dijatuhkan Amerika ke kota Nagasaki Jepang, sehingga menyebabakan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Dari momentum menyerahnya Jepang kepada Sekutu tersebut lalu menimbulkan pemikiran para tokoh pejuang muda Indonesia untuk segera mengumumkan kemerdekaan (bangsa) Indonesia.

Tanggal 9 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diberagkatkan ke Dalat Vietnam untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi sebagai pimpinan Jepang yang menjanjikan hadiah kemerdekaan kepada  bangsa Indonesia yaitu tanggal 24 Agustus 1945.

Tanggal 10 Agustus 1945, Syahrir, tokoh muda Indonesia sudah mendengar berita dari radio bahwa Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Maka para pejuang Indonesia khususnya golongan kaum muda sudah ancang-ancang akan mengumumkan proklamasi kemerdekaan bangsa serta menolak hadiah kemerdekaan dari pihak Jepang.

Tokoh tersebut Syahrir dan kawan-kawannya. Ketika itu Syahrir juga sudah mengabari  berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu kepada penyair Chairil Anwar.

Tanggal 11 Agustus 1945, Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam menyatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia bisa dilaksanakake pada tanggal 24 Agustus 1945.

Selanjutnya tanggal 14 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat Vietnam. Setelah 3 tokoh Indonesia tersebut sudah kembali ke tanah air, tokoh muda seperti Syahrir langsung mendesak kepada Bung Karno supaya segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Syahrir tidak percaya terhadap apa kang sudah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat Vietnam mengenai kemaedekaan bangsa Indonesia. Meski demikian Bung Karno dan kawan-kawan tidak setuju terhadap usulan Syahrir.

Selanjutnya Syahrir mempersiapkan demo (demontrasi) untuk menghadapi kalau tentara Jepang akan melakukan kekerasan kepada para aktivis. Ketika itu Syahrir menyusun teks proklamasi dan dikirimkan ke daerah-daerah Jawa supaya dicetak dan dibagikan kepada rakyat. Hanya saja Soekarno nasih belum yakin kalau Jepang sudah benar-benar menyerah kepada Sekutu ketika itu, sehingga kalau proklamasi kemerdekaan dikumandangkan saat itu, diduga akan terjadi bentrokan besar.

Maka dari itu Soekarno lalu mengingatkan kepada Hatta bahwa Syahrir tidak boleh mengumandangakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia karena itu merupakan hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Tanggal 15 Agustus 1945, Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Meski begitu Angkatan Laut Jepang masih mengawasi Indonesia karena Jepang akan mengembalikan kekuasaan Indonesia kepada Belanda. Tentu saja para pejuang telah mendengar desas-desus bahwa Jepang telah pasrah-bongkokan kepada Sekutu, sehingga Soekarno dan Hatta lalu mendatangi panguasa militer Jepang (Gunsei) di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka) untuk meminta konfirmasi mengenai berita tersebut. Sayangnya kantor tersebut komplang alias kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo lalu menuju kantor Bukanfu, Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol. Maeda menyambut kedatangan Bung Karno bersama kawan-kawannya dengan mengucapakan selamat mengenai pertemuan Bung Karno dengan pimpinan Jepang di Dalat-Vietnam.

Meski begitu Laksamana Maeda saat itu masih menunggu konfirmasi dari Tokyo (ibukota Jepang). Setelah itu Soekarno dan Hatta mempersiapkan akan menemui PPKI di kantor Jalan Pejambon No 2 untuk membahas UUD yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Bung Hatta.

Tanggal 16 Agustus 1945 terjadi gejolak tekanan dari para tokoh muda yang dipelopori Syahrir supaya Bung Karno segera mengambil-alih kekuasaan dari Jepang. Siangnya para tokoh muda tersebut berkumpul di rumah Bung Hatta, lalu malamnya di rumah Bung Karno.

Sekitar 15-an orang pemuda saat itu menuntut kepada Soekarno supaya segera mengumandangkan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang diumumkan melalui radio. Proklamasi kemerdekaan tersebut artinya “mengambil-alih” kekuasaan dari Jepang. Kaum muda tersebut juga menolak rencana PPKI yang bakal mengumumkan proklamasi kamardikan bangsa Indonesia tanggal 24 Agustus 1945.

Karena tidak ada titik-temu antara golongan kaum tua (Bung Karno dkk) dengan golongan muda (Syahrir dkk), akhirnya para tokoh pemuda, seperti Soekarni, Wikani, Aidit dan Chaerul Saleh yang tergabung dalam gerakan pala pendhem (gerakan bawah tanah), pada tengah malam tanggal 16 Agustus 1945 menculik Soekarno (termasuk Fatmawati dan putranya Guntur), dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok (Jawa Barat), yang selanjutnya disebut peristiwa Rengasdengklok.

Tujuan panculikan tersebut tidak lain kaum muda meyakinkan kepada Soekarno dan Bung Hatta bahwa Jepang telah benar-benar menyerah kepada Sekutu. Selain itu, para pejuang juga sudah siap nenghadapi Jepang.

Malamnya, Soekarno dan Hatta sudah dikembalikan ke Jakarta untuk menemui Jenderal Yamamoto, komandan Jepang di Jawa. Dari pertemuan itu, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang sudah benar-benar menyerah kepada Sekutu.

Dengan demikian pihak Jepang tidak memiliki wewenang terhadap pemberian kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Maka dari itu, karena sudah diyakini keadaan aman terkendali, maka malamnya Bung Karno, Bung Hatta dan anggota PPKI mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda untuk mempersiapkan teks Proklamasi. Naskah teks Proklamasi tersebut lalu diketik oleh Sayuti Melik.

Rencanaya teks Proklamasi tersebut akan dibacakan di Lapangan Ikada yang biasa dipakai untuk mengumpulkan banyak orang Jakarta. Tetapi Bung Karno memiliki pikiran lain. Karena lapangan itu tempat berkumpulnya banyak orang, jangan-jangan nanti malah bisa menimbulkan masalah dengan pihak militer Jepang yang saat itu masih di Jakarta, sehingga akhirnya diusulkan upacara Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dilaksanakan di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur nomer 56. Dan, usulan Bung Karno itu akhirnya disepakati semua pihak.

Dan, pada hari Jumat legi, tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan 1365 H, sekitar jam 10.00 Wib pagi, bertempat di rumah Bung Karno Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta dibacakan teks Proklamasi oleh Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah itu diteruskan pangibaran Sang Saka Merah Putih hasil dari jahitannya Ibu Fatmawati. Sementara tokoh lain yang memiliki jasa besar ketika itu, antara lain pemuda pengibar bendera merah  putih yang pertama kali yaitu Latif Hendraningrat, S. Suhut dan Tri Murti.

Teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tersebut disiarkan di kantor berita Jepang yang diputar sekitar 30 menit dan setelah itu diulang-ulang sampai jam 16.00 Wib. Soekarno dan Moh. Hatta ketika itu juga mencari pengakuan kemerdekaan bangsa Indonesia kepada negara-negara di dunia, seperti pengakuan dari Palestina, Mesir, Vatikan, Pakistan dan sebagainya. [] 

Editor : Vidya Sajar Fitri
PPKI Proklamasi Kemerdekaan pancasila bung karno uud 1945