Hidup Jokowi, Jempol Prabowo: Manis di Depan, Politik Belakangan

Soenarwoto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:52 WIB
Hidup Jokowi, jempol Prabowo. Opini Soenarwoto menyoroti dinamika hubungan politik Jokowi dan Prabowo yang penuh manuver.(Ilustrasi AI)
Hidup Jokowi, jempol Prabowo. Opini Soenarwoto menyoroti dinamika hubungan politik Jokowi dan Prabowo yang penuh manuver.(Ilustrasi AI)

DALAM dunia politik, tak ada teman dan lawan yang abadi. Teman bisa menjadi lawan, lawan bisa berubah menjadi teman.

Semuanya bergantung pada kepentingan. Tak perlu mencari contoh jauh-jauh. Lihat saja hubungan Prabowo dan Jokowi.

Dulu, keduanya seperti minyak dan air. Sulit bersatu. Bahkan, dalam kontestasi politik, keduanya pernah berhadapan.

Namun, situasi kemudian berubah. Prabowo dan Jokowi bersekutu, berangkulan, lalu bekerja bersama.

Perubahan itu terjadi setelah Prabowo beberapa kali mengikuti Pilpres dan selalu kalah. Konsekuensinya, kondisi keuangan Prabowo disebut terkuras.

Dalam sejumlah pernyataannya, Prabowo juga pernah mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaannya selama sekitar 10 tahun tidak mendapatkan pinjaman kredit. Akibatnya, sejumlah bisnisnya disebut mandek dan nyaris gulung tikar.

Dalam kondisi seperti itu, Prabowo kemudian merapat kepada Jokowi. Adian Napitupulu, dalam sebuah obrolan politik di stasiun televisi nasional, pernah menggambarkan percakapan Prabowo dengan Jokowi ketika meminta kesempatan untuk ikut bekerja bersama pemerintah.

Kurang lebih, begini candaan yang disampaikan Adian dengan logat Betawi: “Wik, ini gue kehabisan uang gara-gara kalah muluk pilpres kemarin. Tolong dong Wik, sekarang gue ikut kerja ame elu Wik.”

Jokowi kemudian mengangkat Prabowo sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Sejak saat itu, Prabowo yang sebelumnya menjadi rival politik Jokowi justru berada dalam pemerintahan yang dipimpin Jokowi.

Perubahan hubungan tersebut sempat membuat sebagian pendukung Prabowo kecewa. Mereka menilai karakter Prabowo berubah setelah bergabung dengan pemerintahan Jokowi.

Sosok yang sebelumnya dikenal tegas dan keras dalam politik dianggap menjadi lebih lunak ketika berhadapan dengan Jokowi.

Puncaknya terjadi ketika Prabowo menerima Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden dalam Pilpres 2024.

Keputusan itu berlangsung setelah Mahkamah Konstitusi mengubah ketentuan mengenai batas usia calon presiden dan wakil presiden melalui Putusan MK Nomor 90.

Prabowo tidak menentang keputusan tersebut. Sebaliknya, pasangan Prabowo-Gibran kemudian maju dalam Pilpres 2024.

Dukungan Jokowi terhadap pasangan tersebut juga menjadi bagian penting dari dinamika politik saat itu.

Setelah memenangkan Pilpres 2024, hubungan Prabowo dan Jokowi semakin terlihat dekat.

Di hadapan publik, Prabowo bahkan menyebut Jokowi sebagai guru politiknya. Ia juga pernah meneriakkan “Hidup Jokowi!” di tengah riuh dukungan khalayak.

Jokowi pun memberikan pujian kepada Prabowo. Ia menyebut Prabowo sebagai presiden yang kuat dan memiliki kinerja bagus.

Dalam rapat tahunan MPR RI, Jokowi bahkan memberikan acungan jempol kepada Prabowo.

Prabowo tampak sumringah menerima pujian tersebut. Namun, dalam pandangan penulis, acungan jempol itu justru menyimpan tanda tanya.

Apakah benar-benar pujian, atau sekadar manuver politik?

Pertanyaan itu muncul karena hubungan politik keduanya belakangan kembali menjadi sorotan.

Dalam sebuah acara Agustusan, Prabowo, Jokowi, dan Gibran terlihat bersama dalam suasana harmonis. Mereka tersenyum dan tampil kompak.

Namun, tidak lama kemudian muncul wacana dari Projo mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029.

Wacana tersebut kemudian menimbulkan spekulasi politik karena dapat ditafsirkan sebagai upaya mengakhiri pemerintahan Prabowo sebelum waktunya.

Budi Arie kemudian menepis anggapan tersebut dan meminta maaf.

Ia menyatakan ucapan mengenai percepatan pemilu tidak berkaitan dengan Jokowi.

Namun, bagi penulis, penjelasan itu belum sepenuhnya menghilangkan tanda tanya.

Sebab, pernyataan tersebut disampaikan ketika Budi Arie duduk bersama Jokowi.

Maka muncul pertanyaan: benarkah Jokowi tidak mengetahui atau tidak memiliki kaitan dengan wacana tersebut?

Atau jangan-jangan, acungan jempol itu memang sekadar acungan jempol?

Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
politik indonesia Pilpres 2024 jokowi projo Prabowo Subianto