Saat Climate Anxiety Menjadi Peluang Agribisnis

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:34 WIB
Dr. Bekti Wahyu Utami, S.P., M.Si.(Fakultas Pertanian/PSP-KUMKM LPPM UNS)
Dr. Bekti Wahyu Utami, S.P., M.Si.(Fakultas Pertanian/PSP-KUMKM LPPM UNS)

Musim tanam yang semakin sulit diprediksi, harga pangan yang flukuatif bahkan mudah bergejolak, ancaman risiko gagal panen, dan cuaca ekstrem yang datang silih berganti membuat pertanian tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan produktifitas semata. Krisis iklim telah masuk ke ruang-ruang ekonomi paling dekat dengan kehidupan masyarakat, bahkan dari paling sederhana sekalipun pada dapur rumah tangga, pasar tradisional, usaha olahan pangan, hingga keberlangsungan UMKM pertanian.

Di tengah hingar bingar kekhawatiran ini, Generasi Z menjadi kelompok yang menarik untuk diperhatikan. Mereka tumbuh dalam terpaan informasi tentang pemanasan global, kerusakan lingkungan, ancaman krisis pangan, dan masa depan bumi yang tidak pasti. Informasi itu membuat mereka lebih sadar, tetapi juga lebih mudah cemas. Kecemasan terhadap perubahan iklim inilah yang kini dikenal sebagai climate anxiety.

Selama ini, climate anxiety sering dimaknai semata-mata sebagai masalah psikologis. Anak muda dianggap terlalu cemas, terlalu gelisah, bahkan terlalu rapuh menghadapi masa depan. Padahal, kecemasan tidak selalu berarti kelemahan. Dalam kadar tertentu, kecemasan justru dapat menjadi tanda kepedulian. Ia bisa menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.

Riset terhadap mahasiswa pertanian di Surakarta menunjukkan bahwa climate anxiety dan persepsi terhadap pertanian memiliki peran penting dalam membentuk niat generasi muda untuk berpartisipasi pada pertanian adaptif. Artinya, kecemasan terhadap perubahan iklim tidak berhenti sebagai beban emosional. Ketika diikuti oleh persepsi yang positif terhadap pertanian, kecemasan itu dapat mendorong keinginan untuk terlibat dalam praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap krisis iklim.

Jika pertanian dipersepsikan sebagai sektor yang buntu, penuh risiko, dan tidak menjanjikan, maka sulit berharap Gen Z bersedia masuk. Namun, jika pertanian dilihat sebagai ruang usaha yang adaptif, digital, kreatif, dan berorientasi masa depan, peluang regenerasi akan lebih terbuka. Di sinilah agribisnis adaptif menjadi penting.

Agribisnis adaptif tidak lagi cukup dimaknai sebatas menanam komoditas tahan kering atau memasang irigasi hemat air. Ia berkembang menjadi cara baru membaca peluang bagaimana memahami perubahan pasar, mengolah hasil tani agar bernilai lebih tinggi, memangkas rantai pasok, memanfaatkan pemasaran digital, mengangkat pangan lokal, mengubah limbah menjadi sumber ekonomi, sekaligus membangun usaha yang lebih tangguh menghadapi guncangan iklim. Di sinilah Gen Z bisa mengambil peran tanpa harus selalu menjadi petani dalam pengertian sebatas terjun langsung budidaya.

Mereka dapat hadir sebagai pelaku UMKM pangan lokal, pengolah produk pertanian, pemilik brand makanan sehat, konten kreator edukasi pertanian, pengelola agrowisata, produsen kompos, penyedia teknologi sederhana bagi petani, hingga penghubung petani dan konsumen melalui platform digital. Sawah dan kebun tetap menjadi pondasi pertanian, tetapi masa depan pertanian juga ditentukan oleh rantai nilai setelah panen. Tidak semua anak muda harus memegang cangkul; sebagian dari mereka justru bisa menguatkan pertanian lewat kemampuan membangun merek, mengelola media sosial, membaca tren konsumen, mendesain kemasan, mengolah data pasar, dan menjual cerita keberlanjutan di balik sebuah produk. 

UMKM Pertanian Menjadi Terobosan

UMKM sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi rakyat. Namun, dalam konteks krisis iklim, UMKM pertanian juga harus menjadi tulang punggung adaptasi. Usaha kecil berbasis pangan lokal, olahan hasil tani, produk herbal, sayuran segar, kompos organik, urban farming kit, hingga jasa edukasi pertanian dapat menjadi contoh bagaimana adaptasi iklim diterjemahkan menjadi peluang ekonomi.

Akan tetapi, peluang ini tidak akan tumbuh hanya dengan menyediakan program bantuan atau pelatihan sesaat. Diperlukan komunikasi pertanian yang mampu menjembatani kecemasan, persepsi, dan tindakan. Climate anxiety pada Gen Z perlu dikelola melalui pesan-pesan yang tidak sekadar menakut-nakuti, tetapi juga memberi arah. Anak muda perlu memahami bahwa krisis iklim memang membuat pertanian semakin berisiko, tetapi pada saat yang sama juga membuka ruang baru bagi inovasi agribisnis.

Komunikasi pertanian di era krisis iklim harus bergerak dari sekadar transfer teknologi menuju komunikasi perubahan perilaku. Kampus memiliki peran besar. Mahasiswa pertanian tidak cukup hanya dibekali teori produksi dan teknologi budidaya. Mereka juga mulai dilatih melihat pertanian sebagai ekosistem bisnis yang adaptif. Inkubasi UMKM pertanian, praktik kewirausahaan pangan lokal, kolaborasi dengan petani, serta proyek sosial berbasis desa dapat menjadi ruang untuk mengubah kecemasan iklim menjadi aksi nyata.

Pemerintah daerah pun perlu melihat Gen Z bukan sekadar objek program regenerasi petani, tetapi sebagai mitra inovasi. Program petani muda sebaiknya tidak berhenti pada seremoni, pelatihan singkat, atau bantuan alat. Yang lebih dibutuhkan adalah pendampingan berkelanjutan, bagaimana membaca potensi komoditas lokal, membangun model bisnis, mengelola risiko iklim, menembus pasar, dan menjaga keberlanjutan usaha.

Dalam konteks UMKM, komunikasi bahkan menjadi bagian dari strategi bisnis. Produk pertanian tidak cukup hanya dijual sebagai barang. Ia perlu dikemas dengan sebuah story telling tentang siapa petaninya, bagaimana proses produksinya, mengapa produk itu lebih ramah lingkungan, bagaimana ia mendukung pangan lokal, dan mengapa konsumen perlu memilihnya. Di tangan Gen Z, cerita seperti ini dapat menjadi kekuatan branding bagi UMKM pertanian adaptif.

Tantangannya memang tidak mudah. Citra pertanian masih sering kalah menarik dibanding sector yang lain. Pendapatan petani dianggap tidak pasti. Akses lahan sulit. Modal terbatas. Risiko gagal panen tinggi. Rantai pasok panjang. Namun, justru karena tantangan itulah pendekatan baru dibutuhkan. Pertanian harus ditampilkan bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai sektor masa depan.

Krisis iklim telah membuat pertanian semakin rentan. Namun, krisis yang sama juga dapat melahirkan kesadaran baru. Gen Z yang cemas terhadap masa depan lingkungan tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam rasa takut. Kecemasan itu perlu diarahkan menjadi keberanian untuk berinovasi.

Dari climate anxiety, kita dapat bergerak menuju agribisnis adaptif. Dari kekhawatiran tentang krisis iklim, kita dapat membangun UMKM pertanian yang lebih tangguh. Dari kegelisahan Gen Z, kita dapat menumbuhkan generasi baru yang tidak hanya peduli pada lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dari pertanian yang berkelanjutan. 

Editor : Vidya Sajar Fitri
climate anxiety Gen Z krisis iklim umkm