HAMPIR sepekan kematian Bambang Setiawan, pedagang cermin di Pejompongan, Jakarta Pusat, terus menghiasi pemberitaan di semua media massa dan medsos. Ramai.
Apalagi, kematian pedagang cermin itu diduga dibunuh oleh segerombolan orang yang berafiliasi dengan GRIB Jaya, ormas yang dipimpin Hercules.
Tudingan ini punya dasar. Sore menjelang malam (27/8) itu, ketika sebagian masa demonstrasi "Perampasan Aset Koruptor dan Hukum Mati Koruptor" masih belum bubar, datanglah puluhan atau bahkan ratusan anggota GRIB Jaya.
Mereka datang dengan membawa penthungan kayu dan bambu. Lalu, mereka mengusir para pendemo untuk cepat pulang atau membubarkan diri.
Selain mengusir dengan kasar, anggota ormas itu pun beringas memukuli orang yang dianggap membandel dan melawan.
Tak sedikit pendemo lari tunggang langgang; ketakutan. Bersamaan itu terlihat Hercules datang di sekitar lokasi kejadian. Saat itu pula kemudian diketahui Bambang Setiawan terbunuh.
Pedagang cermin itu konon berusaha melawan sebelum terbunuh. Maka dengan cepat banyak pihak mengatakan, kematian pedagang cermin itu dibunuh oleh anggota GRIB Jaya.
Banyak nitizen di medsos berkomentar; buruk preman, pedagang cermin "dibunuh". Malah banyak warga minta GRIB Jaya dibubarkan, karena acap "bikin onar".
Mendapat tudingan itu dengan cepat Sekjen GRIB Jaya, H. Zulfikar melakukan konferensi pers; membantah.
Tidak ada anggota GRIB Jaya melakukan itu. Anggotanya turun bertujuan membantu aparat (Polisi dan TNI), untuk mengamankan kota Jakarta yang dianggap hari itu pasca demo di DPR RI tak kondusif.
Zulfikar bahkan memukul balik pihak lain yang menuding GRIB Jaya sebagai pelakunya.
"Tudingan itu adalah 'cara-cara PKI," kata Zulfikar. Selain GRIB Jaya melakukan pembelaan, Polda Metro Jaya pun ikut "menepisnya". Menyatakan bahwa pelaku pembunuhan terhadap pedagang cermin itu bukan anggota GRIB Jaya.
Selain menyatakan itu, Polda Metro Jaya memperlihatkan dua "sketsa" wajah pelaku pembunuh pedagang cermin.
Ya cuma itu, tak bisa menangkap pelakunya. Padahal, di lokasi sekitar kejadian banyak kamera HP milik intel Polri, intel TNI dan masyarakat serta CCTV milik Pemkot DKI Jakarta.
"Aneh jika semua pemilik HP dan CCTV itu tak ada yang merekam. Jadi, mestinya polisi tidak sulit mengungkap pelakunya," kata mantan Kabareskrim Komjen (Purn) Susno Duadji.
Meski GRIB Jaya membantah, sebagian besar rakyat menuntut kepada penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa pelakunya.
Satu nyawa sangatlah berarti dalam penegakan hukum kita. Jangan dibiarkan dan ditutupi. Agar kasus serupa nanti tidak terulang lagi.
Ini tugas aparat; Polisi. Jangan "buruk muka, cermin dibelah". Rakyat diadu-domba; biar saling tuding dan saling fitnah. Bahaya. Bisa persatuan dan kerukunan rakyat kita ambyaar. Pecah.(*)
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
Editor : Anggi Septian A.P.