SURADIRA jayaningrat, lebur dening pangastuti” artinya keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan oleh panembah.
Atau dapat diperluas maknanya bahwa segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan.
Atau setiap kebencian, kemarahan, keras hati akan luluh oleh kelembutan, bijaksana, dan kesabaran.
Ungkapan sesanti dalam Bahasa Jawa ini identik dengan ungkapan dalam Bahasa Jawa kuno “Sura sudira jayanikang rat, suh brastha tekaping ulah dharmastuti.”
Bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang yang sakti mandraguna, kebal dari segala senjata bukan jaminan.
Manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna (mengandalkan kekuasaan, keturunan, dan kepintaran) maka pada saatnya dia akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur.
Atau tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju kearah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti).
Falsafah Timur
Ungkapan ini merupakan nilai-nilai filsafat Timur yang pada hakikatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan.
Di mana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.
Dalam kehidupan di masyarakat, misalnya, mereka mengenal jargon atau sesanti tersebut sering dipakai sebagai semboyan dalam pewayangan yaitu Bratayuda Jayabinangun (Mahabharata) dan Ramayana.
Bahwa dalam epos Mahabharata dan Ramayana dikisahkan terjadinya perang besar antara pihak kebenaran (protagonis) dan kejahatan (antagonis; angkara murka).
Dalam Bratayuda, Pandhawa sebagai pihak kebenaran, sedang Kurawa di pihak jahat. Sedang, dalam Ramayana, Raden Rama Wijaya berada dalam kebenaran, sementara kubu Rahwana atau Prabu Dasamuka di pihak jahat (antagonis).
Suradira dari Sekar Kinanthi
“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” adalah bagian dari salah satu bait Sekar Kinanthi dalam Serat Witaradya buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di Negara Witaradya.
Selengkapnya Sekar Kinanthi tersebut adalah sebagai berikut:
Jagra angkara winangun
Sudira marjayeng westhi
Puwara kasuh kawasa
Sastraning jro Wedha muni
Sura dira jayaningrat
Lebur dening pangastuti
Makna secara umum dari tembang di atas bahwa orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara.
Bahwa dalam kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.
Dalam Serat Witaradya dikisahkan tentang kesetiaan seorang isteri yang dapat mencegah niat buruk lelaki lain dengan pangastuti (kelembutan, kebenaran).
Alkisah sang putra mahkota bernama Raden Citrasoma jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya.
Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Suatu hari Ki Tumenggung sedang dinas luar, maka Sang Pangeran mendatangi Nyai Pamekas untuk menyatakan maksud hatinya yang sedang mabuk kepayang
Dengan tutur kata lembut dan ulat sumeh, Nyai Pamekas berupaya menyadarkan Raden Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot.
Nyai Pamekas mencoba mengulur waktu dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang di situ yang berpeluang melihat perbuatan Raden Citrasoma, kecuali disirep (dibuat tidur dengan ilmu sirep).
Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti Raden Citrasoma, tentu saja dapat me-“nyirep” orang bukan hal besar.
Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan Raden Citrasoma sendiri.
Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan Raden Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Raden Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan.
Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana