Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Dua Sahabat Vespa hingga Sukses Bisnis Es Teler 58 di Tulungagung

Redaksi Radar Tulungagung • Kamis, 5 Desember 2024 | 20:44 WIB
OPTIMIS: Dua owner Es Teler 58 di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Mohamad Alfan Huda (kiri) dan Robi Satrio.
OPTIMIS: Dua owner Es Teler 58 di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Mohamad Alfan Huda (kiri) dan Robi Satrio.

TULUNGAGUNG - Dari sebuah pertemuan sederhana di atas secangkir kopi, dua sahabat komunitas Vespa, Mohammad Alfan Huda dan Robi Satrio, tak pernah menyangka bahwa obrolan santai mereka akan melahirkan Es Teler 58.

Kini, setelah hampir satu tahun berdiri, es teler racikan mereka mulai dikenal luas di Tulungagung.

“Kami sebenarnya nggak punya rencana apa-apa waktu itu,” ujar Mohammad Alfan Huda mengawali ceritanya.

Berangkat dari kebiasaan ngopi bersama, keduanya menemukan tempat yang disewakan.

“Kami cocok dengan tempatnya, tapi kami nggak tahu mau jualan apa. Akhirnya, kami kasih deadline satu minggu buat tentukan ide usaha,” ungkap owner Es Teler 58, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung.

Bermodalkan pencarian intens di media sosial, Alfan dan Robi mencari sesuatu yang belum ada di Tulungagung, tapi memiliki prospek jangka panjang. Pilihan akhirnya jatuh pada es teler.

“Usaha minuman es itu punya usia panjang di Tulungagung, apalagi kalau rasanya pas dan bisa diterima semua kalangan,” kata Alfan.

Namun, perjalanan untuk menghadirkan es teler yang disukai semua kalangan tidak mudah.

Awal pembukaan, rasanya jauh dari kata sempurna.

“Sebulan pertama, kami banjir kritik,” kenang Alfan.

Beberapa pelanggan mengeluhkan rasa es yang terlalu manis atau kurang susu, bahkan bahan seperti kolang-kaling yang dianggap kurang segar. Butuh waktu hampir satu bulan untuk menemukan rasa khas Es Teler 58.

“Kami otodidak, mencoba berkali-kali sampai akhirnya menemukan titik di mana kami yakin, inilah rasa es teler yang cocok,” jelasnya.

Es Teler 58 tidak hanya mengandalkan susu dan sirup, tetapi juga menggunakan bahan-bahan segar seperti nangka, alpukat, degan, dan janggelan. Semua bahan diproses sendiri untuk menjaga kualitas.

Pada bulan ketiga, usaha mereka mulai ramai pengunjung. Puncaknya, sebuah video tentang Es Teler 58 tidak sengaja viral di TikTok.

“Kami nggak nyangka bisa fyp (For You Page) di TikTok. Setelah itu, pengunjung mulai repeat order,” kata Alfan.

Namun, perjalanan mereka bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah saat bulan puasa.

“Kami pikir akan ramai, ternyata sepi,” ungkap Alfan. Persaingan semakin ketat dengan banyaknya penjual es dadakan, sementara harga Es Teler 58 sedikit lebih mahal, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 18.000.

Untuk tetap bertahan, mereka menambahkan camilan sebagai pelengkap menu.

Harga camilan yang lebih terjangkau, mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 15.000, menjadi daya tarik baru bagi pelanggan.

Kini, Es Teler 58 tidak hanya hadir di Tulungagung.

“Bismillah, kami sudah buka cabang di Trenggalek,” kata Alfan, pria kelahiran 1995 dengan penuh semangat.

Ia berharap bisa terus memperluas jangkauan usahanya hingga ke karesidenan Kediri.

“Semakin ke sini, kami juga fokus mengembangkan menu camilan. Semoga ini bisa membuat Es Teler 58 semakin diterima semua kalangan,” tutup Alfan optimis.

Es Teler 58, bukti berangkat dari ide sederhana, dengan kerja keras dan inovasi, sesuatu yang besar bisa terwujud.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#kuliner tulungagung #es teler 58 #owner