RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah dominasi beras sebagai makanan pokok masyarakat, keberadaan pangan alternatif tradisional seperti gathot dan tiwul kian sulit ditemui di Tulungagung
Padahal, kedua makanan berbahan dasar singkong ini pernah menjadi andalan masyarakat pedesaan di Tulungagung, terutama saat beras masih menjadi komoditas mahal.
Baca Juga: Kerupuk Gaplek Pakisrejo Tulungagung Tetap Tumbuh, Tapi Terkendala Branding
Gathot dan tiwul memiliki sejarah panjang sebagai makanan pokok pengganti nasi di berbagai wilayah, termasuk di Tulungagung.
Berbahan dasar gaplek atau singkong kering, keduanya menawarkan cita rasa khas yang mengandung nilai budaya dan kearifan lokal.
Baca Juga: Rengginang Suruhan Lor Hanya Berkutat di Lokal Tulungagung, Ini Kendala yang Mereka Hadapi
Namun seiring perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat, makanan tersebut perlahan-lahan tergeser dan mulai dilupakan.
Melihat kondisi itu, seorang warga Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, berinisiatif untuk menghidupkan kembali pangan lokal melalui inovasi gathot dan tiwul instan.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
Produk tersebut dikemas dalam bentuk kering dan praktis, sehingga cukup direbus sebelum dikonsumsi. Langkah ini menjadi upaya adaptif untuk menyesuaikan tradisi dengan kebutuhan zaman.
Proses produksinya masih dikerjakan secara manual dengan peralatan sederhana. Dalam sebulan, produksi bisa mencapai lima kuintal, yang kemudian didistribusikan ke beberapa daerah seperti Tulungagung, Blitar, dan Kediri.
Baca Juga: Proses Produksi Manual, Ternyata Ini Resep Emping Melinjo dari Desa di Tulungagung Masih Eksis
Upaya ini tidak hanya menghadirkan kembali makanan tradisional ke tengah masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Tak berhenti pada dua jenis makanan tersebut, pengembangan produk kini terus dilakukan. Salah satu inovasi berikutnya adalah ampok instan produk pangan lokal lain yang juga berbasis olahan jagung.
Inisiatif ini mencerminkan semangat pelestarian budaya melalui jalur kuliner. Gathot dan tiwul bukan sekadar makanan, melainkan warisan identitas yang menandai kreativitas dan ketangguhan masyarakat di masa lalu.
Dengan sentuhan inovatif dan semangat menjaga tradisi, pangan lokal memiliki peluang untuk kembali menemukan tempatnya di tengah dinamika zaman. ****
Editor : Dharaka R. Perdana