RADAR TULUNGAGUNG – Saat tren kedai kopi modern dengan konsep industrial dan menu fancy menjamur di banyak kota, sebuah warung sederhana bernama Warkop Gendon di Kecamatan Karangrejo, Tulungagung, justru menjadi primadona baru di kalangan anak muda.
Bukan karena interior mewah atau promosi di media sosial, tetapi karena atmosfer yang ditawarkan: alami, syahdu, dan membumi.
Berlokasi di area yang masih rimbun oleh pepohonan besar, Warkop Gendon tampil tanpa banyak polesan.
Bangku dan meja kayu sederhana ditata di bawah rindangnya pohon mangga dan jambu air.
Hembusan angin sejuk, kicau burung, dan pemandangan sawah terbuka menjadi "fasilitas utama" yang tak bisa digantikan.
Namun bukan hanya tempatnya yang memikat, menu kopi grasak yang disajikan menjadi identitas kuat warung ini.
Racikan kopi hitam khas Jawa Timur ini dibuat dengan cara manual tanpa mesin modern, diseduh dengan air panas mendidih langsung dari ketel, dan disajikan dalam gelas sederhana.
Aroma kopi grasak yang tajam dengan rasa pekat dan sedikit rasa "sangit" khas membuatnya digemari banyak orang.
“Kalau ke sini, rasanya kayak pulang. Kopinya mantap, tempatnya juga nyaman. Adem, nggak sumpek kayak di kafe-kafe kota,” ujar Rendy (24), pemuda asal karangrejo yang rutin nongkrong di Warkop Gendon bersama teman-temannya.
Perkembangan Nyata, warkop Gendon mulai beroperasi secara sederhana.
Saat itu, hanya ada satu meja dan beberapa kursi plastik.
Namun sejak pertengahan popularitasnya melonjak berkat promosi dari mulut ke mulut dan unggahan foto para pengunjung di media sosial.
Kini, warkop ini telah memiliki beberapa fasilitas tambahan seperti area spot swafoto berlatar sawah yang digemari pengunjung.
“Saya nggak pernah niat bikin tempat ini jadi besar atau ramai. Tapi banyak anak muda yang datang dan betah. Akhirnya pelan-pelan saya tambahi fasilitas,meja kursi tapi konsepnya tetap alami,” ujar Mas Gendon, pemilik warung yang juga peracik kopi utama.
warung
Ia menolak mengubah konsep warung menjadi kafe modern.
Menurutnya, kekuatan Warkop Gendon justru terletak pada kesederhanaannya.
“Kalau pakai mesin kopi, AC, dan WiFi, nanti sama saja kayak tempat lain. Di sini, yang dijual adalah suasana dan cita rasa kampung halaman,” tambahnya.
Lebih dari sekadar tempat ngopi, Warkop Gendon kini berkembang menjadi ruang sosial bagi pemuda desa dan komunitas kreatif.
Setiap malam Minggu, pengunjung sangat rame.
Dengan harga menu yang sangat terjangkau—kopi grasak mulai dari Rp5.000, pisang goreng dan singkong rebus di kisaran Rp3.000–Rp7.000—Warkop Gendon menjadi tempat yang inklusif dan bisa diakses semua kalangan.
Fenomena Warkop Gendon menegaskan bahwa anak muda saat ini tak melulu mengejar hal serba instan dan modern.
Banyak di antara mereka justru mencari ruang rehat dari hiruk pikuk digital.
Tempat-tempat yang menawarkan nilai keaslian, keterhubungan sosial, dan suasana natural kembali menjadi pilihan utama.
“Ngopi di sini bukan cuma soal minum kopi, tapi juga soal ngobrol tanpa gadget, ketemu teman lama, dan ngerasain suasana yang nggak dibuat-buat,” ujar Sulastri (22), mahasiswa asal sendang. ***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri