TULUNGAGUNG- Di antara jejeran kuliner khas Indoensia, ada satu sajian yang berhasil mencuri perhatian para pecinta daging kambing, yakni sate kambing khas Tulungagung.
Bukan sekadar sate biasa, makanan yang satu ini memiliki identitas rasa yang kuat, mengandung rempah-rempah lokal, dan menjadi favorit masyarakat Tulungagung maupun wistawan sejak puluhan tahun lalu.
Kuliner ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari cerita budaya masyarakat Tulungagung. Di balik kepulan asap dari pembakaran sate, tersimpan filosofi tentang kehangatan, kebersamaan, dan rasa cinta terhadap makanan tradisional.
Tulungagung, sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur, mungkin lebih dikenal dengan hasil marmernya.
Namun, di kalangan pecinta kuliner, daerah ini juga memiliki reputasi yang cukup mengesankan dalam hal sate kambing.
Keberadaan sate kambing Tulungagung sudah berlangsung sejak lama, biasanya dijual oleh penjaja keliling atau di warung-warung sederhana yang dipenuhi aroma rempah dan asap pembakaran arang.
Apa yang membuatnya istimewa dibandingkan sate dari daerah lain seperti Madura atau Tegal? Jawabannya ada pada cara pengolahan, bumbu yang digunakan, serta teknik memanggang yang menghasilkan aroma dan rasa khas.
Ciri Khas Sate Kambing Tulungagung
Sate kambing khas Tulungagung memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari sate kambing lain di Indonesia. Berikut beberapa ciri khasnya:
- Potongan Daging Besar dan Padat
Berbeda dari sate Madura yang potongannya kecil dan kerap diselingi lemak, sate kambing Tulungagung menggunakan potongan daging murni yang besar dan padat. Meskipun demikian, dagingnya tidak keras ini berkat teknik marinasi yang tepat dan penggunaan daging kambing muda.
- Marinasi dengan Rempah Tradisional
Sebelum dibakar, daging kambing direndam dalam campuran bumbu khas yang terdiri dari bawang putih, ketumbar, jintan, garam, dan sedikit kecap manis. Proses marinasi ini biasanya berlangsung minimal satu jam agar bumbu meresap sempurna ke dalam daging.
- Bumbu Kacang yang Kaya Rasa
Sate disajikan bersama saus kacang yang dimasak matang, bukan sekadar kacang yang dihaluskan mentah dan dicampur air. Bumbu kacangnya memiliki rasa yang kaya, gurih, dan sedikit pedas, ditambah perasan jeruk nipis untuk memberikan sensasi segar.
- Penggunaan Arang Kayu
Dalam proses pembakaran, penjual sate di Tulungagung masih mempertahankan penggunaan arang kayu, bukan gas atau alat pembakar modern. Hal ini memberikan aroma smokey yang autentik, memperkuat cita rasa sate secara keseluruhan.
- Bebas Bau Prengus
Satu tantangan dalam memasak daging kambing adalah menghilangkan bau khas atau prengus. Namun, dengan marinasi yang tepat dan pemilihan bagian daging yang segar, bau ini bisa ditekan bahkan hampir tidak tercium sama sekali pada sate kambing khas Tulungagung.
Sate kambing Tulungagung bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang pengalaman. Menikmati sate ini di warung pinggir jalan sambil mendengarkan suara bara menyala dan melihat kepulan asap naik ke udara adalah kenikmatan tersendiri.
Di era modern seperti sekarang, banyak warung sate di Tulungagung tetap mempertahankan cara tradisional dalam mengolah dan menyajikan hidangan ini. Bagi masyarakat setempat, sate bukan hanya menu makan malam atau sajian pesta, tapi simbol keramahan dan kebersamaan.
Dalam dunia kuliner yang terus berkembang, keberadaan sate kambing khas Tulungagung menjadi pengingat bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan teknik pengolahan yang diwariskan dari generasi ke generasi dan kekayaan rempah lokal, sate ini menjadi contoh nyata bagaimana kuliner bisa menjadi warisan budaya yang hidup.
Jika suatu hari Anda singgah ke Tulungagung, pastikan untuk mencari warung sate kambing legendaris di sana. Tapi jika belum sempat berkunjung, resep di atas bisa menjadi cara Anda membawa kelezatan Tulungagung ke meja makan di rumah. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah