TULUNGAGUNG– Di balik kepulan asap yang mengepul dari tungku sederhana, tersimpan jejak tradisi dan kerja keras masyarakat Desa Bangunmulyo, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung.
Di desa yang berada di selatan Tulungagung ini, potensi ikan asapnya bukan sekadar makanan, tapi warisan turun-temurun yang terus dijaga aromanya, rasanya, dan nilainya.
Pengolahan ikan asap menjadi cara cerdas masyarakat dalam mengolah hasil tangkapan ikan agar lebih awet dan bercita rasa khas Tulungagung.
Bukan sekadar dibakar atau digoreng, ikan-ikan ini diasapi secara perlahan menggunakan serabut kelapa kering, limbah yang justru jadi sumber rasa.
Aroma yang dihasilkan asap dari serabut kelapa dipercaya memberi sentuhan khas pada daging ikan, menjadikannya lebih gurih, lebih harum, dan tentu saja lebih menggoda untuk disantap bersama nasi hangat.
Prosesnya pun masih sangat manual.
Ikan ditusuk dengan bambu, lalu disusun di atas tungku sederhana yang menyala dengan api kecil dan asap melimpah.
Tak ada mesin canggih, tak ada teknologi tinggi, hanya keahlian, ketelatenan, dan ketekunan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari dapur-dapur sederhana itulah, produk unggulan ikan asap Bangunmulyo lahir.
Pemasarannya masih berskala lokal, dijual di sekitar desa atau dibawa para pengepul ke pasar-pasar tradisional di wilayah Kecamatan Pakel.
Meski demikian, permintaan terhadap ikan asap ini terus tumbuh, bahkan produksinya bisa dilakukan setiap hari karena konsumennya cukup setia.
Bagi warga Bangunmulyo, usaha ikan asap bukan sekadar mata pencaharian.
Ini adalah cara mereka menjaga warisan, menghidupi keluarga, sekaligus menyapa para pembeli dengan rasa yang tulus dan alami.
Di tengah arus modernisasi dan makanan cepat saji, ikan asap tradisional dari Tulungagung hadir sebagai pengingat.
Makanan terbaik tidak hanya dinilai dari kemasan atau kecepatan saji, tapi dari rasa yang jujur, proses yang sabar, dan nilai-nilai lokal yang menguatkan.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah