Meski gadung mengandung senyawa beracun, masyarakat di Desa Joho mampu mengolahnya dengan teknik tradisional agar aman dikonsumsi. Desa Joho di Kecamatan Kalidawir telah lama menjadi sentra produksi utama keripik gadung di Indonesia.
Di desa ini, halaman rumah warga sering dipenuhi jemuran gadung. Salah satu tokoh penting dalam usaha ini adalah Senen, yang memulai produksi sejak 1994 dan menjual produknya ke Surabaya. Saat ini terdapat sekitar 25 UMKM aktif yang memproduksi keripik gadung di Desa Joho.
Proses Detoksifikasi Umbi Gadung yang Panjang
Keripik gadung Tulungagung melalui proses pengolahan yang memakan waktu sekitar empat hari. Detoksifikasi sangat penting karena gadung mengandung racun seperti dioskorin, sianida, dan saponin yang dapat menyebabkan pusing atau mual.
Beberapa metode penghilangan racun meliputi:
| Metode Detoksifikasi | Penjelasan |
|---|---|
| Perendaman garam | Umbi gadung direndam dengan larutan garam selama beberapa jam |
| Air mengalir | Gadung direndam dalam air mengalir agar senyawa beracun larut sempurna |
| Pemberian abu gosok | Abu membantu menetralisir zat berbahaya dan mempercepat proses fermentasi |
| Penjemuran & rebus | Proses fisik dengan panas untuk menguapkan racun yang tersisa |
Kesulitan yang sering terjadi dalam proses ini adalah kekurangan abu dan kurangnya sinar matahari, terutama saat musim hujan. Oleh karena itu, produksi biasanya dilakukan pada musim kemarau, yaitu antara Mei hingga Agustus, saat panen gadung juga berlangsung.
Baca Juga: Akhir Pekan, Omzet CFD Tulungagung Tembus Ratusan Juta
Varian Produk Keripik Gadung Mentah dan Harganya
Keripik gadung Tulungagung umumnya dijual dalam bentuk mentah atau belum digoreng. Teksturnya tipis, empuk, dan sangat gurih setelah digoreng. Produk ini tersedia dalam berbagai ukuran dan kualitas.
| Varian Produk | Kemasan | Harga per Kg |
|---|---|---|
| Kecil | 200 gr | Rp 9.850 |
| Sedang | 250 gr | Rp 15.000 |
| Besar | 500 gr | Rp 25.000 |
| Super | 1 kg | Rp 45.000–54.900 |
Harga keripik gadung bervariasi tergantung ukuran, tingkat kekeringan, dan kualitas pemrosesan. Produk ini laris manis terutama saat menjelang lebaran.
Potensi Ekonomi dari Usaha Keripik Gadung
Bisnis keripik gadung Tulungagung terbukti menguntungkan. Salah satu pelaku usaha, Ibu Jumrotin, memproduksi 45 kg keripik gadung mentah per hari dengan biaya sekitar Rp 482.000. Pendapatan kotornya mencapai Rp 650.000 per hari.
Simulasi keuangan bulanan:
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Biaya Produksi | Rp 7.980.000 |
| Pendapatan Kotor | Rp 19.500.000 |
| Laba Bersih | Rp 11.520.000 |
Harga pokok gadung mentah hanya Rp 1.000 per kg, sementara harga jual setelah pengolahan bisa mencapai Rp 30.000 per kg. Pemasaran dilakukan melalui pengepul atau media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.
Tantangan dan Solusi bagi UMKM Keripik Gadung
Meskipun keripik gadung Tulungagung memiliki potensi besar, UMKM masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utama adalah kelembagaan yang bersifat individual, minimnya kerja sama antar pelaku usaha, serta belum adanya asosiasi yang menaungi.
Masalah lainnya:
-
Kualitas produk yang masih beragam.
-
Minimnya dukungan teknologi dan informasi.
-
Keterbatasan modal untuk ekspansi dan promosi.
Beberapa solusi yang disarankan:
-
Pembentukan koperasi atau asosiasi UMKM.
-
Pelatihan untuk peningkatan kualitas produk dan pemasaran digital.
-
Standardisasi produk dan penerapan kontrol mutu (QC).
-
Akses bantuan permodalan dan kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Keripik gadung Tulungagung menjadi bukti bahwa inovasi lokal dapat mengubah bahan beracun menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi. Dukungan berkelanjutan akan memperkuat peran UMKM di sektor ini.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz