RADAR TULUNGAGUNG - Di era serba cepat seperti sekarang, hampir setiap rumah mengandalkan kompor gas elpiji untuk memasak. Cepat, praktis, dan tanpa repot mencari bahan bakar.
Namun, di beberapa sudut desa di Tulungagung, masih ada aroma khas yang berbeda aroma asap kayu bakar yang menguar dari dapur tradisional.
Di rumah-rumah itu, tungku kayu bakar atau pawon masih menjadi raja. Tumpukan kayu kering tersusun rapi di pojokan dapur, siap menjadi bahan bakar.
Asap tipis mengepul dari celah atap, membawa aroma sedap yang seakan memanggil ingatan masa kecil.
Bagi pemiliknya, tungku kayu bukan sekadar alat memasak. Ia adalah bagian dari tradisi, warisan keluarga, dan rahasia rasa.
Konon masakan yang dimasak dengan kayu bakar itu lain. Nasinya lebih pulen, sayurnya lebih wangi.
Memang, memasak dengan kayu bakar butuh kesabaran. Harus pandai mengatur nyala api, menambah kayu di waktu yang tepat, dan siap berkeringat di dekat tungku.
Tapi hasilnya? Rasa dan aroma yang sulit ditandingi oleh kompor modern. Bahkan beberapa penjual makanan di Tulungagung sengaja mempertahankan cara ini demi mempertahankan cita rasa khas yang tak tergantikan.
Di tengah desakan modernisasi, dapur kayu bakar di Tulungagung menjadi semacam penjaga kenangan.
Mereka bukan sekadar bertahan, tapi juga memberi pelajaran bahwa tak semua yang kuno layak ditinggalkan.
Kadang, justru yang tradisional itulah yang membuat hidup terasa lebih hangat secara harfiah maupun batin. ****
Editor : Dharaka R. Perdana