TULUNGAGUNG - Di tengah sepinya malam di kota kecil Tulungagung, justru ada kehidupan lain yang mulai menggeliat.
Bukan di kafe kekinian atau restoran mewah di Tulungagung, melainkan di pinggir-pinggir jalan, di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, para pedagang sate usus dan ceker mulai membuka lapaknya.
Aroma gurih dari sate yang dibakar di atas arang itu seolah menjadi magnet di Tulungagung yang menarik siapa saja untuk mendekat.
Baca Juga: Tukang Keliling Tulungagung yang Dinanti Tahu Bulat, Sate Ayam, sampai Es Krim Legendaris
Jajanan ini bukan barang baru bagi warga Tulungagung. Sejak dulu, sate usus dan ceker sudah jadi camilan favorit, terutama saat malam menjelang.
Murah, mengenyangkan, dan tentunya punya rasa yang khas. Sate-sate ini biasanya disajikan dengan dua pilihan saus sambal kacangmanis gurih, atau kecap pedas dengan irisan cabai rawit dan bawang merah.
Kombinasinya memang sederhana, tapi justru di situlah letak kelezatannya.
Baca Juga: Resep Sate Maranggi Sapi Khas Purwakarta, Sajian Istimewa untuk Idul Adha
Namun, keistimewaan sate usus dan ceker kaki lima di Tulungagung bukan hanya soal rasa.
Ada suasana yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Di sekitar gerobak sate itu, warga berkumpul ada yang datang sendirian, ada yang berdua dengan pasangan, bahkan ada yang datang ramai-ramai setelah ronda malam atau main bola di lapangan kampung.
Suasana santai dan akrab terasa kental. Obrolan ringan, tawa, dan candaan mengalir begitu saja di antara asap sate yang mengepul.
Tak jarang pula, pembeli rela antre lama hanya untuk menikmati seporsi sate favorit mereka.
Bahkan meski gerimis turun, banyak yang tetap berteduh sambil menunggu pesanan, seolah sate usus dan ceker ini punya daya tarik tersendiri yang tak bisa tergantikan.
Bagi sebagian warga, ini bukan sekadar makanan, tapi juga momen. Momen untuk melepas penat, bercengkerama, atau sekadar menyendiri ditemani sate hangat dan kopi sachet dari warung sebelah.
Fenomena sederhana ini sebetulnya merepresentasikan sesuatu yang lebih dalam: budaya kuliner rakyat yang akrab dan membumi.
Di Tulungagung, makanan tidak melulu soal gaya atau estetika Instagram, tapi soal rasa, kebersamaan, dan kehangatan lokal.
Tak heran jika banyak orang dari luar kota yang datang ke Tulungagung justru penasaran dan ingin mencicipi langsung suasana ini.
Jika kamu sedang berada di Tulungagung dan bingung mencari tempat makan malam yang santai tapi berkesan, coba saja cari gerobak sate usus dan ceker di pinggir jalan.
Tak sulit menemukannya ikuti saja aroma bakaran khas atau kerumunan kecil di sudut-sudut kota.
Di sanalah, kamu bisa mencicipi cita rasa kampung yang tulus, sederhana, dan tentu saja bikin kangen. ****
Editor : Dharaka R. Perdana