Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Didih, Makanan dari Darah yang Mengandung Gizi Tapi Berbalut Kontroversi

Savina Ayu Wardani • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 13:30 WIB

Indonesia dikenal dengan kekayaan kulinernya yang luar biasa, mulai dari makanan khas berbumbu kuat, makanan fermentasi, hingga makanan berbahan dasar tak lazim.
Indonesia dikenal dengan kekayaan kulinernya yang luar biasa, mulai dari makanan khas berbumbu kuat, makanan fermentasi, hingga makanan berbahan dasar tak lazim.

RADAR TULUNGAGUNG - Indonesia dikenal dengan kekayaan kulinernya yang luar biasa, mulai dari makanan khas berbumbu kuat, makanan fermentasi, hingga makanan berbahan dasar tak lazim.

Salah satu yang cukup unik adalah didih, makanan tradisional yang dibuat dari darah hewan ternak.

Meskipun terdengar ekstrem bagi sebagian orang, didih menyimpan nilai budaya, sejarah, dan bahkan manfaat gizi yang tinggi.

Baca Juga: Tungku Kayu Bakar Masih Eksis di Tulungagung, Rahasia Aroma Khas Masakan Desa

Didih adalah makanan tradisional yang dibuat dari darah segar hewan, seperti sapi, kerbau, atau kambing, yang dimasak dengan berbagai rempah dan bumbu khas daerah.

Biasanya, darah ini diambil setelah proses penyembelihan, lalu dimasak hingga mengental dan menggumpal menjadi olahan bertekstur padat, kaya rasa, dan aromatik.

Didih tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tapi juga simbol kearifan lokal dan semangat anti-pemborosan masyarakat tradisional yang memanfaatkan seluruh bagian hewan secara optimal.

Baca Juga: 7 Makanan Unik Tulungagung yang Jarang Diketahui Wisatawan

Kandungan Gizi dan Manfaat Didih

Darah mengandung banyak zat gizi penting, terutama zat besi (Fe) yang penting untuk pembentukan sel darah merah dan pencegahan anemia, vitamin B12 dan B kompleks yang membantu metabolisme dan sistem saraf, dan lainnya.

Karena kandungan zat besinya sangat tinggi, didih bisa bermanfaat untuk ibu hamil, orang dengan anemia, atau mereka yang memiliki kebutuhan gizi tinggi.

Namun karena berasal dari darah hewani, didih juga memiliki kadar kolesterol yang cukup tinggi, sehingga konsumsi perlu dikontrol.

Kontroversi dan Perspektif Agama

Meski bergizi dan berakar kuat dalam budaya lokal, konsumsi darah dilarang dalam ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (Al-Baqarah: 173), yang menyatakan bahwa darah termasuk bahan yang haram.

Oleh karena itu, didih hanya dikonsumsi oleh masyarakat non-Muslim, seperti suku Batak (Kristen) dan Dayak (dengan kepercayaan lokal atau Kristen), serta tidak dijual secara umum di warung makan biasa.

Baca Juga: Artificial Intelligence: Teknologi dalam Kontroversi

Di sisi lain, bagi komunitas yang menganggap darah sebagai bagian dari budaya dan identitas, makanan ini tetap dihormati dan diwariskan antar generasi.

Apakah Didih Aman Dikonsumsi

Selama dimasak dengan benar, hingga benar-benar matang dan higienis, didih aman untuk dikonsumsi.

Namun, karena darah adalah media yang rentan terhadap bakteri, penting untuk memasaknya dengan suhu tinggi dan waktu cukup lama.

Didih kering lebih tahan lama dan aman disimpan dalam waktu panjang, selama tidak lembap.

Masyarakat tradisional biasanya sudah mengetahui tanda-tanda darah yang sudah tidak layak diolah, dan memiliki cara alami untuk memastikan keamanannya—seperti penggunaan asam alami dan rempah antiseptik.

Baca Juga: Berburu Sarapan Unik Menu Pagi yang Cuma Ada di Tulungagung

Didih adalah kuliner tradisional berbahan dasar darah hewan yang mencerminkan kreativitas, kearifan lokal, serta nilai budaya masyarakat Indonesia.

Meskipun tidak dapat diterima oleh semua kalangan karena alasan agama atau selera, didih tetap memiliki tempat khusus di daerah-daerah tertentu.

Jika dibuat dengan benar, didih tidak hanya aman dikonsumsi, tapi juga menawarkan kandungan gizi tinggi dan cita rasa yang unik. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#unik #darah #kontroversi #Didih #makanan