RADAR TULUNGAGUNG - Kalau siang hari, Tulungagung terasa sibuk dengan aktivitas warganya pasar ramai, jalanan padat, dan warung-warung makan buka sejak pagi.
Tapi begitu malam tiba, ada dunia lain yang muncul dan baru bisa dinikmati ketika matahari tenggelam di ufuk barat Tulungagung.
Bukan sekadar makanan pengganjal perut, tapi juga bagian dari cerita budaya dan kebiasaan warga kota marmer ini.
Baca Juga: Sama-sama Menggunakan Raket dan Bola, Beginilah Perbedaan Padel dan Tenis yang Wajib Kamu Tahu
1. Pecel Lesehan
Di sudut-sudut kota Tulungagung, warung pecel lesehan mulai buka saat senja. Yang bikin istimewa, pedagang pecel lesehan biasanya sudah “langganan” lokasi.
Ada yang buka di dekat pasar malam, ada pula yang setia mangkal di pinggir jalan besar. Banyak orang rela antre, karena rasanya lebih nikmat disantap hangat-hangat di malam hari.
Baca Juga: Tahu atau Tempe? Intip Perbandingan Gizi dan Protein Lauk Favorit Masyarakat Tulungagung
2. Wedang Cemue
Kalau udara malam mulai dingin, apalagi di sekitar alun-alun, wedang cemue jadi minuman yang dicari. Wedang ini terbuat dari santan hangat dengan campuran kacang tanah sangrai, roti tawar potong, dan taburan kelapa parut.
Rasanya manis, gurih, sekaligus hangat di perut. Konon, penjual wedang cemue kebanyakan sudah turun-temurun, sehingga racikan rasanya tetap sama dari dulu sampai sekarang.
Baca Juga: Ayam Lodho Khas Tulungagung, Kuliner Tradisional yang Menggugah Selera, Ini Kunci Kelezatannya
3. Nasi Lodho Malam
Biasanya nasi lodho identik dengan acara hajatan, tapi di Tulungagung ada warung-warung yang justru menjualnya di malam hari.
Lauknya ayam kampung yang dimasak dengan kuah santan kental beraroma rempah, disajikan bersama nasi panas dan urap sayur.
Malam-malam makan nasi lodho, rasanya seperti dapat “bonus” suasana kampung meskipun sedang di tengah kota.
Yang menarik, kuliner malam di Tulungagung bukan cuma soal rasa, tapi juga soal cerita. Ada penjual yang sudah berjualan puluhan tahun, jadi saksi perubahan kota.
Ada juga pelanggan setia yang datang setiap malam, entah sekadar untuk makan, ngobrol, atau bernostalgia dengan cita rasa yang tak pernah berubah.
Jadi, kalau berkunjung ke Tulungagung, jangan buru-buru tidur setelah magrib. Justru saat malam, kota ini menawarkan kuliner khas yang jarang ditemui siang hari dari tepo tahu, wedang cemue, hingga nasi lodho malam. Semua bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menghangatkan hati. ****
Editor : Dharaka R. Perdana