RADAR TULUNGAGUNG - Kalau berbicara tentang malam di Tulungagung, dulu ada satu tradisi yang begitu lekat duduk santai di sekitar alun-alun sambil menikmati wedang cemoe.
Minuman hangat berisi kuah jahe gurih dengan tambahan kacang tanah, roti tawar, dan kadang diberi taburan kelapa parut ini dulunya jadi teman setia banyak orang saat udara malam mulai menusuk dingin.
Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan wedang cemoe makin sulit ditemui. Jika dulu gerobaknya berderet di sekitar alun-alun, kini penjualnya bisa dihitung dengan jari.
Generasi muda lebih sering memilih kopi kekinian, boba, atau minuman instan yang praktis. Akibatnya, cemue perlahan seperti hanya menjadi cerita nostalgia.
Baca Juga: Gaya Hidup Anak Muda Tulungagung: Antara Nongkrong di Cafe Hits dan Angkringan Sederhana
Padahal, cemoe bukan sekadar minuman. Ia adalah bagian dari identitas kuliner Tulungagung, simbol kebersahajaan yang menghangatkan tubuh sekaligus hati.
Banyak orang masih mengingat rasa khasnya yang sederhana tapi bikin kangen perpaduan manis, gurih, dan hangat dalam satu mangkuk.
Baca Juga: Fenomena Warung Kopi 24 Jam di Tulungagung, Nongkrong Tanpa Kenal Waktu Sambil Ngobrol Ngalor Ngidul
Kini, pertanyaannya apakah wedang cemoe akan benar-benar hilang ditelan zaman, atau justru akan bangkit kembali sebagai warisan kuliner yang layak dijaga?
Semua tergantung pada kita apakah masih mau mencarinya, menikmatinya, dan memperkenalkannya pada generasi setelah kita. ****
Editor : Dharaka R. Perdana