RADAR TULUNGAGUNG – Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kebiasaan makan adalah bagian tak terpisahkan dari identitas.
Ada stigma yang kuat bahwa "belum dikatakan orang Indonesia itu makan jika tanpa nasi". Bahkan, dalam tatanan kuliner sehari-hari, kita mengenal perbedaan antara makan besar (dengan nasi) dan makan kecil (tanpa nasi).
Di tengah kebiasaan makan nasi yang begitu mengakar, ada dua hidangan berbahan dasar nasi yang sangat populer namun memiliki waktu penjualan yang kontras: bubur ayam dan nasi goreng.
Fenomena ini, di mana mayoritas penjual bubur ayam menjajakan dagangannya di pagi hari dan penjual nasi goreng beroperasi di malam hari, adalah sesuatu yang menarik perhatian banyak orang di berbagai daerah, termasuk di Tulungagung.
Baca Juga: Nasi Padang Murah dan Enak di Tulungagung? Berikut 5 Rekomendasi Menu Makan Siang Favorit!
Kontras waktu penjualan ini memang bukan hal yang absolut dan menyeluruh di setiap sudut kota, namun secara umum, kecenderungan ini sangat sulit dipungkiri.
Pemandangan gerobak bubur ayam yang mengepulkan asap hangat di sudut jalan saat fajar menyingsing sudah menjadi ciri khas pagi hari, sementara aroma khas bawang putih dan kecap dari wajan nasi goreng baru semerbak di kala senja menjelang.
Ini adalah bagian dari lanskap kuliner kita yang sudah sangat akrab. Masyarakat, dari netizen di media sosial hingga ahli budaya, berupaya mencari tahu alasan di balik pembagian waktu yang unik untuk hidangan berbahan dasar nasi yang sama-sama digemari ini.
Baca Juga: Kebal Terhadap Rasa Pedas, Ternyata Ini Alasan Orang Indonesia Kuat Makan Pedas
Banyak spekulasi dan teori bermunculan untuk menjelaskan fenomena bubur ayam di pagi hari dan nasi goreng di malam hari.
Beberapa pendapat lebih mengacu pada alasan pragmatis dan kesehatan yang dirasakan masyarakat modern, sementara yang lain menggali lebih dalam pada akar budaya dan kebiasaan leluhur.
Penasaran mengapa kebiasaan ini begitu kuat dan seolah tak tergoyahkan dari masa ke masa? Mari kita selami lebih jauh berbagai sudut pandang yang mencoba menjawab teka-teki kuliner yang melibatkan bubur ayam dan nasi goreng ini.
Perspektif Kesehatan dan Minat Konsumen Modern: Kenapa Bubur Ayam untuk Sarapan?
Salah satu alasan yang paling sering disuarakan, terutama oleh netizen, berkaitan dengan kenyamanan dan kebutuhan energi di pagi hari. Akun @atik**** pernah berkomentar, "emang ada yang mau makan bubur malam-malam, bahkan ada lagunya lho".
Sementara itu, @wln**** menyatakan, "ga baik ih makan nasgor pagi-pagi nanti lemes, sama kalo makan bubur malem malem juga ga cocok". Intinya, banyak yang berpendapat bahwa makanan pagi hari seharusnya ringan agar tidak membuat tubuh lemas.
Baca Juga: Makan Sehat Nggak Bikin Sengsara: Gaya Asik Gen Z Biar Tetap Bertenaga
Dari benang merah komentar-komentar netizen tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan ibu kota Jakarta, adalah mencari sarapan yang mengenyangkan namun tidak memberatkan.
Bubur ayam, dengan teksturnya yang lembut dan ringan, dianggap dapat membantu konsentrasi saat belajar di sekolah atau bekerja di kantor. Meskipun kandungannya mirip nasi, sensasi menyantapnya terasa lebih ringan di perut.
Sebaliknya, nasi goreng sering dianggap sebagai makanan yang "berat" karena kadar minyaknya yang tinggi dan cara pengolahannya yang lebih kompleks. Memakan nasi goreng di pagi hari diyakini dapat mengurangi sinergi tubuh, menyebabkan rasa lemas padahal seharusnya pagi hari adalah waktu untuk semangat.
Secara medis pun, mengawali hari dengan karbohidrat tinggi dapat menambah gula darah pada tubuh dan menimbulkan rasa lemas. Oleh karena itu, nasi goreng dinilai lebih cocok menjadi hidangan penutup di malam hari.
Khususnya saat tubuh tidak lagi membutuhkan energi instan untuk aktivitas berat, melainkan untuk bersantai dan mengisi perut sebelum istirahat.
Akar Budaya dan Kebiasaan Leluhur: Tradisi Nasi Goreng dari Sisa Nasi
Selain perspektif modern, ada pula alasan yang lebih mendalam yang dikemukakan oleh Yohanes Arif, sebagaimana dilansir dari diadona.id dan awalnya muncul di laman media sosial Quora.
Menurutnya, fenomena ini berakar pada kultur kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, pada zaman dahulu.
Baca Juga: Kenapa Gigi Ngilu saat Makan Manis? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pada masa lalu, memasak nasi bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan upaya yang cukup berat dan rumit, mulai dari menyiapkan kayu bakar, menyalakan api, hingga menggunakan peralatan masak yang tidak sesederhana sekarang.
Oleh karena itu, orang-orang zaman dahulu cenderung hanya memasak nasi sekali saja di pagi hari, dalam porsi besar agar bisa disantap hingga tengah hari dan malam hari.
Karena pengolahan bubur memiliki kemiripan dengan proses memasak nasi, maka bubur juga ikut dimasak di pagi hari.
Mengingat bubur lebih nikmat disantap selagi masih hangat, masyarakat zaman dulu lebih suka memakannya di pagi hari.
Baca Juga: Tahu atau Tempe? Intip Perbandingan Gizi dan Protein Lauk Favorit Masyarakat Tulungagung
Sementara itu, nasi goreng memiliki cerita yang berbeda. Hidangan ini justru lebih nikmat dibuat dengan nasi yang sudah lama didiamkan, bukan nasi yang baru matang.
Kebiasaan orang dulu mengolah nasi goreng juga seringkali muncul karena sudah kehabisan lauk pauk.
Dengan demikian, nasi goreng menjadi solusi praktis untuk mengolah sisa nasi dan lauk yang ada, menjadikannya pilihan yang sempurna untuk santapan malam.
Ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap kondisi dan ketersediaan bahan pangan membentuk kebiasaan kuliner kita hingga kini.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Tangan Kotor sebelum Makan! Ini Dampak Seriusnya
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa salah satu faktor terbesar mengapa bubur ayam dan nasi goreng dijual pada waktu yang berseberangan karena kultur kebiasaan masyarakat pada zaman dulu yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut.
Tradisi ini kemudian berlanjut dan beradaptasi dengan kebutuhan serta preferensi masyarakat modern.
Meskipun demikian, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan jika ada penjual yang menjajakan nasi goreng di pagi hari atau bubur ayam di malam hari.
Pada akhirnya, mau kapan pun dan di mana pun, menjual hidangan tersebut adalah hak masing-masing penjual.
Yang jelas, kedua hidangan ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Indonesia, dengan sejarah dan kebiasaan yang unik di baliknya, terus memanjakan lidah masyarakat Tulungagung di setiap waktu. ****
Editor : Dharaka R. Perdana