TULUNGAGUNG - Kalau mampir ke warung makan di Tulungagung, ada satu pemandangan yang hampir selalu bikin senyum muncul kaleng krupuk yang diletakkan di atas meja.
Bentuknya sederhana, biasanya kaleng bekas biskuit atau kaleng khusus dengan kaca bening di bagian tengah, memperlihatkan isi krupuk yang renyah menggoda.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa kebiasaan ini masih bertahan sampai sekarang di Tulungagung, padahal sudah banyak camilan modern bermunculan?
1. Nostalgia yang Bikin Kangen
Krupuk kaleng bukan sekadar makanan pelengkap, tapi juga kenangan masa kecil.
Banyak orang Tulungagung tumbuh dengan kebiasaan beli krupuk langsung dari kaleng ketika jajan di warung.
Sensasi membuka tutup kaleng dan memilih sendiri krupuk favorit jadi pengalaman kecil yang membekas.
2. Teman Setia Nasi Pecel
Warung pecel di Tulungagung terasa kurang lengkap tanpa krupuk.
Renyahnya krupuk jadi pasangan sempurna buat pecel yang gurih dan pedas.
Kadang, orang datang ke warung bukan cuma karena pecelnya, tapi juga karena krupuk kaleng yang selalu tersedia.
3. Simbol Kebersamaan
Kaleng krupuk di meja warung juga jadi simbol sederhana kebersamaan.
Siapa saja bisa ambil sesuai selera, lalu nanti dihitung di akhir makan.
Ada rasa percaya antara penjual dan pembeli yang terasa hangat.
4. Ikon Warung Tradisional
Baca Juga: Mengenal Hewan Arthropoda: Pengertian, Ciri, dan Asal-Usulnya
Selain fungsinya, krupuk kaleng juga jadi ciri khas warung tradisional di Tulungagung.
Rasanya belum sah disebut warung kampung kalau meja makannya kosong tanpa kaleng krupuk.
Pada akhirnya, krupuk kaleng bukan sekadar pelengkap makanan.
Ini adalah bagian dari budaya kuliner Tulungagung yang masih bertahan di tengah modernisasi.
Sederhana, tapi selalu bikin kangen.***
Editor : Vidya Sajar Fitri