TULUNGAGUNG - Kalau berkunjung ke Tulungagung, selain jenang dan sate ayamnya, ada satu kuliner tradisional yang dulu sangat akrab di meja makan orang kampung, yaitu nasi ampok atau nasi jagung.
Sekilas bentuk nasi ampok mirip nasi putih, tapi berwarna kuning keemasan dengan aroma jagung yang khas.
Sayangnya, nasi ampok kini semakin jarang ditemui, kalah pamor dengan nasi putih.
Dulu, nasi ampok jadi makanan pokok sehari-hari masyarakat pedesaan Tulungagung.
Teksturnya agak padat dengan rasa gurih alami dari jagung yang ditumbuk, lalu dicampur sedikit beras.
Biasanya disajikan bersama sayur lodeh, urap, ikan asin, atau sambal pedas.
Sederhana, tapi bikin kenyang dan sehat karena kaya serat serta lebih rendah gula dibanding nasi putih.
Namun, seiring waktu, kebiasaan makan nasi jagung mulai bergeser.
Banyak orang lebih memilih nasi putih yang lebih praktis dan mudah didapat.
Bahkan generasi muda banyak yang belum pernah merasakan sensasi makan nasi ampok hangat ditemani lauk tradisional.
Meski begitu, nasi ampok belum benar-benar hilang.
Di beberapa warung tradisional atau acara hajatan desa, kuliner ini masih disajikan sebagai bentuk pelestarian budaya makan orang Tulungagung.
Bahkan, beberapa pegiat kuliner mencoba menghadirkan nasi jagung dengan tampilan modern agar lebih diterima generasi sekarang.
Nasi ampok bukan sekadar makanan, melainkan jejak sejarah dan identitas kuliner masyarakat Tulungagung.
Menyantapnya berarti ikut menjaga warisan sekaligus merasakan kehangatan tradisi yang hampir terlupakan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri