RADAR TULUNGAGUNG - Kalau bicara soal jajanan khas anak sekolah di Tulungagung, pentol sudah pasti masuk daftar teratas.
Hampir di setiap sudut kota, mulai dari depan sekolah, pinggir jalan, hingga pasar, kita bisa menemukan gerobak pentol yang selalu ramai pembeli.
Harganya murah meriah, rasanya bikin nagih, dan pastinya jadi favorit anak-anak sekolah sampai orang dewasa.
Baca Juga: Pedagang Kaki Lima di Tulungagung Panen Rezeki di Hari Libur
Pentol, Si Bakso Mini Serba Bisa Buat yang belum tahu, pentol adalah bakso mini yang biasanya disajikan tanpa kuah.
Bentuknya kecil-kecil sehingga gampang dimakan sambil nongkrong atau jalan-jalan. Ada yang ditusuk seperti sate, ada juga yang langsung dimasukkan ke plastik dengan tambahan bumbu.
Baca Juga: Kenapa Tukang Bakso Keliling Tulungagung Selalu Lewat Pas Kita Lagi Lapar?
Meski sederhana, sensasi makan pentol justru ada di saus dan bumbunya. Di Tulungagung, saus khas pentol terkenal dengan rasa pedas-manis yang nendang, ditambah kecap, sambal, bahkan taburan bawang goreng.
Ada juga penjual yang menambahkan saus kacang, membuat rasanya makin gurih dan berbeda.
Baca Juga: Menyelami Lezatnya Macam-Macam Bakso Nusantara
Favorit Anak Sekolah Bagi anak sekolah di Tulungagung, pentol bisa dibilang jajanan wajib. Dengan uang jajan seribuan, mereka sudah bisa menikmati seporsi kecil pentol yang bikin kenyang sekaligus puas.
Tak heran kalau jam istirahat sekolah atau saat pulang, gerobak pentol langsung dikerubungi murid-murid yang antre.
Dari Jajanan Pinggir Jalan Jadi Ikon Kuliner Menariknya, pentol kini tidak hanya jadi jajanan pinggir jalan. Beberapa penjual mengembangkan kreativitasnya dengan membuat pentol bakar, pentol goreng, hingga pentol isi keju dan cabai. Rasanya tetap murah, tapi lebih variatif dan kekinian.
Pentol bukan sekadar camilan, tapi juga bagian dari kenangan masa kecil banyak orang Tulungagung. Murah, merakyat, dan selalu bikin kangen.
Jadi, kalau mampir ke Tulungagung, jangan lupa cicipi pentol dengan saus khasnya yang pedas-manis gurih dijamin bikin nagih! ****
Editor : Dharaka R. Perdana