RADAR TULUNGAGUNG - Bagi masyarakat Tulungagung, singgah ke pasar tradisional tanpa mencium aroma khas tape ketan rasanya mustahil.
Pedagang tape ketan dengan balutan daun pisang masih jadi pemandangan yang lekat di setiap sudut pasar.
Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik, sekaligus pengingat akan cita rasa tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Baca Juga: Kesannya Kuno, Ternyra Kunyah Daun Sirih Bermanfaat untuk Gigi dan Mulut
Tape ketan buatan pedagang lokal biasanya dibungkus rapi dengan daun pisang yang dilipat kecil-kecil. Begitu dibuka, aroma manis-fermentasi khasnya langsung menyeruak, seolah memanggil siapa saja untuk mencicipi.
Sensasi lembutnya ketan berpadu rasa manis segar hasil fermentasi membuat jajanan ini selalu punya penggemar, dari anak kecil hingga orang tua.
Baca Juga: Daun Sirsak Punya 7 Manfaat Ajaib! Fakta Menarik Ini Jarang Diketahui Banyak Orang
Uniknya, tape ketan bukan sekadar camilan biasa. Ia sering hadir dalam berbagai acara, mulai dari hajatan, syukuran, hingga sekadar suguhan untuk tamu.
Bahkan, banyak yang percaya tape ketan membawa makna simbolis: manis, hangat, dan penuh kebersamaan.
Di tengah gempuran camilan modern, pedagang tape ketan di Tulungagung tetap setia melestarikan jajanan ini.
Harganya yang ramah di kantong serta cita rasa otentik membuat tape ketan tak pernah benar-benar kehilangan tempat di hati masyarakat.
Mungkin itulah rahasia kenapa setiap kali ke pasar, aroma tape ketan daun pisang selalu terasa begitu sulit dilewatkan.
Sederhana, namun punya kekuatan untuk membangkitkan nostalgia sekaligus kebanggaan pada kuliner tradisional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana