RADAR TULUNGAGUNG — Di dapur-dapur rumah Jawa Timur, terutama di Tulungagung, aroma gurih “jangan tewel” yang dimasak lama hingga kuahnya menyusut sudah menjadi pemandangan biasa.
Bagi masyarakat setempat, kebiasaan “ngenget” atau memasak sayur hingga bumbunya benar-benar meresap bukan hanya soal selera, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Rasa Lebih Kuat, Bumbu Lebih Meresap
“Jangan tewel” adalah sayur nangka muda yang dimasak dengan bumbu rempah seperti lengkuas, daun salam, dan santan. Proses “ngenget” membuat kuahnya menyusut hingga menjadi blendrang—tekstur lebih kental dan rasa bumbu semakin tajam.
“Kalau belum ngenget, rasanya belum keluar,” ujar salah satu warga Tulungagung yang sudah puluhan tahun memasak jangan tewel sebagai hidangan harian.
Awet dan Praktis
Selain memberikan cita rasa khas, teknik ini juga membuat sayur lebih tahan lama. Dengan kuah yang sedikit, jangan tewel blendrang tidak cepat basi meski disimpan berhari-hari. Hal ini dianggap praktis oleh masyarakat pedesaan yang dulu tidak memiliki kulkas.
Baca Juga: Tulungagung Sering Mendapat Julukan Kutha Cethe, Ini Sekelumit Sejarah dan Maknanya
Warisan Dapur Tradisional
Bagi banyak keluarga di Tulungagung, jangan tewel blendrang memiliki nilai nostalgia. Aroma khas yang keluar saat proses “ngenget” mengingatkan pada masa kecil, saat masakan ibu atau nenek mengepul di tungku tanah liat.
“Dari kecil saya sudah biasa makan tewel blendrang. Rasanya gurih, dan wanginya bikin kangen rumah,” tutur seorang warga lainnya.
Pendamping Nasi Pecel dan Lauk Kampung
Hidangan ini biasanya disajikan bersama sambal, ikan asin, atau nasi pecel. Kombinasi rasa gurih dan pedas membuatnya cocok sebagai pelengkap makanan khas Tulungagung yang dikenal sederhana namun menggugah selera.
Kebiasaan “ngenget jangan tewel” mencerminkan filosofi masyarakat Jawa Timur yang sabar, telaten, dan menghargai proses.
Setiap adukan di periuk adalah bagian dari warisan budaya kuliner yang mempertemukan rasa, kenangan, dan kebersamaan di meja makan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana