RADAR TULUNGAGUNG - Ronde tradisional Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, tetap menunjukkan eksistensinya sebagai minuman berbasis rempah yang diminati lintas generasi.
Dikelola kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar), ronde menjadi salah satu kuliner tradisional yang mampu bertahan karena cita rasa autentik serta khasiat kesehatannya yang sudah dikenal sejak lama.
Pelaku usaha ronde Poklahsar Kendalbulur, Erna Ekowati mengatakan, meski baru sekitar satu setengah tahun menekuni usaha secara mandiri, minuman tradisional tersebut masih memiliki pasar yang cukup stabil.
Menurutnya, kehadiran minuman modern tidak sepenuhnya menggeser minat masyarakat, justru sebagian konsumen mulai kembali mencari produk alami berbahan rempah.
Ronde dikenal sebagai minuman penghangat tubuh berbahan jahe, gula, dan rempah pendukung seperti daun pandan.
Erna menegaskan bahwa tetap mempertahankan pengolahan tradisional tanpa bahan tambahan maupun pengawet.
Jahe emprit atau jahe Jawa dipilih karena memberikan sensasi hangat yang khas dan tidak pahit.
Meski harga bahan baku naik, kualitas tetap dijaga dengan menggunakan bahan dari pasar lokal.
Dari sisi penjualan, pelanggan ronde berasal dari berbagai kalangan mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Meski belum menjadi sumber penghasilan utama, usaha ini mampu membantu kebutuhan rumah tangga. Kendala yang dihadapi antara lain faktor cuaca dan keterbatasan promosi digital.
Meski begitu, Erna berharap usaha kuliner tradisional tetap bisa berkembang tanpa meninggalkan nilai budaya yang telah diwariskan.(rin/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri