JAKARTA - Tantangan terbaru di MasterChef Indonesia kembali memanas. Dalam MasterChef Indonesia challenge kali ini, sejumlah peserta harus menerima kritik tajam dari para juri karena dianggap kurang maksimal dalam mengeksekusi hidangan mereka. Mulai dari masakan khas daerah hingga dessert, semuanya tak luput dari sorotan.
MasterChef Indonesia challenge tersebut menghadirkan momen menegangkan ketika Imam menjadi peserta pertama yang dipanggil ke depan. Ia menyajikan gecok gandem, makanan khas Jogja yang disebut sebagai salah satu hidangan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono.
Namun, keputusan Imam memilih menu tradisional dalam MasterChef Indonesia challenge justru menjadi bumerang. Para juri menilai ada sejumlah kesalahan mendasar yang seharusnya bisa dihindari.
Gecok Gandem Imam Dinilai Kurang Seasoning
Imam menjelaskan bahwa gecok gandem buatannya menggunakan bola daging dengan kuah berbahan belimbing wuluh, tomat hijau, serta bumbu seperti cumin dan ketumbar. Namun, juri menemukan masalah serius pada rasa.
Menurut penilaian, bola daging terasa keras dan aroma dagingnya terlalu dominan. Bumbu seperti ketumbar dan jintan tidak keluar, bahkan dinilai under season. Selain itu, penggunaan gula pasir dianggap kurang tepat karena seharusnya memakai gula kelapa atau gula merah untuk menghasilkan kedalaman rasa yang lebih kuat.
Salah satu juri mengungkapkan bahwa ia baru saja mencicipi hidangan serupa di Keraton Jogja dan menilai versi Imam jauh dari ekspektasi. “Ini rasanya daging banget. Bumbunya tidak terasa,” kritik juri.
Imam bahkan diminta mencicipi kembali masakannya sendiri. Setelah mencoba, ia mengakui rasa dagingnya terlalu dominan dan kurang seimbang. Ia pun mengaku kecewa karena merasa hanya gagal di bagian pengolahan daging, padahal secara konsep menu dinilai sudah sesuai dengan karakter dirinya sebagai peserta asal Jogja.
Dessert Stephanie Disebut Buruk
Ketegangan belum berhenti. Peserta berikutnya, Stephanie, juga mendapat giliran dipanggil dalam MasterChef Indonesia challenge tersebut. Ia menyajikan Skillet Apple Puff berbahan dasar apel Granny Smith, puff pastry, butter, brown sugar, lemon zest, lemon juice, dan kayu manis.
Namun, dessert yang diharapkan menjadi penutup manis justru dinilai bermasalah. Juri menemukan apel dipotong terlalu kecil sehingga berpotensi menjadi terlalu lembek setelah dipanggang kembali. Proses karamelisasi juga disebut overflow dan menyebabkan rasa burn yang pahit di akhir.
Penggunaan apel Granny Smith yang dominan asam dinilai tidak diimbangi dengan komposisi rasa yang tepat. Alih-alih menambahkan lemon juice, juri menyarankan cukup menggunakan lemon zest agar rasa tetap seimbang tanpa membuatnya terlalu asam.
Baca Juga: Sejarah Tahun Baru Imlek dari 35 Abad Lalu hingga Resmi Jadi Hari Libur Nasional di Indonesia
Kritik paling keras datang saat juri menegaskan pentingnya dessert dalam kompetisi. “Sebagus apa pun main course kamu, kalau dessert hancur, yang diingat itu dessert,” tegasnya. Bahkan disebutkan, jika tidak mampu menguasai dessert, seorang peserta belum bisa disebut chef yang all rounded.
Stephanie mengaku sedih dan malu karena merasa gagal mengeksekusi hidangan sederhana seperti apple tart dengan baik.
Ragil Kena Tegur Soal Kebersihan
Drama dalam MasterChef Indonesia challenge semakin memuncak ketika Ragil dipanggil maju. Ia menyajikan Petit Baramudi with Lemon and Coconut Blanc, dengan modifikasi krim menggunakan santan dan air kelapa.
Namun sebelum mencicipi, juri sudah menunjukkan kekecewaan. Perhatian tertuju pada kondisi panci yang dinilai kotor. Teguran keras pun dilontarkan karena kebersihan dapur adalah standar dasar dalam kompetisi memasak profesional.
Momen tersebut menegaskan bahwa dalam MasterChef Indonesia challenge, bukan hanya rasa yang dinilai, tetapi juga teknik, kebersihan, hingga strategi memasak.
Pesan Tegas untuk Para Kontestan
Dari serangkaian kritik tersebut, juri menyisipkan pesan penting. Mereka mengingatkan bahwa setiap challenge membutuhkan strategi dan ketelitian. Peserta harus mencicipi masakan sebelum disajikan serta memahami karakter bahan yang digunakan.
Kompetisi seperti MasterChef Indonesia bukan sekadar adu kreativitas, melainkan juga konsistensi teknik dan kedisiplinan. Kesalahan kecil seperti seasoning yang kurang, pemilihan gula yang tidak tepat, hingga perhitungan tingkat kematangan apel bisa berdampak besar pada hasil akhir.
Tantangan kali ini menjadi bukti bahwa tekanan di galeri MasterChef Indonesia semakin tinggi. Setiap peserta dituntut berkembang secara menyeluruh, mulai dari hidangan utama hingga makanan penutup.
Dengan kritik tajam yang diberikan, para kontestan diharapkan mampu bangkit dan memperbaiki performa mereka di tantangan berikutnya. Sebab, dalam kompetisi sekelas MasterChef Indonesia, hanya peserta yang paling siap dan paling lengkap kemampuannya yang berpeluang melaju hingga menjadi juara.
Editor : Divka Vance Yandriana