JAKARTA - Keseruan MasterChef Indonesia tak hanya terjadi di galeri saat tantangan memasak berlangsung. Dalam sesi santai yang tayang di RCTI Plus, para peserta tampil lebih cair, penuh canda, dan blak-blakan membagikan pengalaman pribadi mereka. Momen ini pun jadi bukti bahwa MasterChef Indonesia bukan sekadar ajang kompetisi, tapi juga perjalanan emosional dan penuh cerita.
Biasanya penonton hanya menyaksikan ketegangan di dapur MasterChef Indonesia. Namun kali ini, para kontestan hadir langsung menyapa penggemar, berbincang santai, hingga membagikan kisah awal mereka jatuh cinta pada dunia masak.
Tema obrolan kali ini adalah pengalaman pertama masuk galeri. Satu per satu peserta memperkenalkan diri dengan gaya khas masing-masing. Ada yang percaya diri, ada yang kocak, bahkan ada yang mengaku “berkarisma tapi bohong”.
Awal Mula Jatuh Cinta pada Dunia Masak
Masing-masing peserta punya cerita unik soal awal mula mencintai dunia kuliner.
Ada yang mulai memasak karena ibunya sakit dan harus menggantikan peran di dapur. Dari memasak sayur bening sederhana, justru muncul semangat baru karena sang ibu berangsur membaik. Ada pula yang terinspirasi karena sering membantu orang tua berjualan katering sejak kecil.
Beberapa peserta mengaku awalnya hanya iseng atau sekadar membantu di dapur. Namun dari situ muncul rasa nyaman dan keyakinan bahwa memasak adalah passion.
Salah satu peserta bahkan mengaku baru menyadari kecintaannya pada dunia masak setelah sakit dan harus menjaga pola makan. Dari memasak untuk kebutuhan sendiri, ia menemukan bahwa dirinya menikmati proses tersebut.
Cerita-cerita ini memperlihatkan bahwa perjalanan menuju galeri MasterChef Indonesia tidak selalu instan. Banyak yang memulainya dari dapur rumah, dari keluarga, bahkan dari kegagalan kecil.
Kesalahan Kocak Saat Belajar Masak
Obrolan semakin seru ketika mereka diminta membagikan kesalahan paling lucu saat pertama belajar masak.
Ada yang salah memasukkan bumbu sayur asem dengan bumbu sayur lodeh karena tidak membaca kemasan dengan teliti. Hasilnya? Warna dan rasa tentu berbeda jauh dari yang diharapkan.
Ada juga yang ingin membuat es krim dari pisang dan susu dengan cara diblender lalu dimasukkan ke kulkas. Bukannya jadi es krim lembut, yang keluar justru es batu keras.
Tak kalah mengundang tawa, ada yang mencoba teknik flambé agar terlihat keren seperti chef profesional. Namun api tak kunjung menyala, yang ada justru minyak berlebihan membuat masakan semakin becek.
Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa bahkan peserta MasterChef Indonesia pun pernah berada di titik nol—belajar dari kesalahan dan pengalaman konyol.
Momen Paling Ikonik di MasterChef Indonesia
Saat ditanya soal momen paling ikonik, jawabannya beragam. Ada yang menyebut momen “spiking” sebagai yang paling menegangkan karena harus melawan teman sendiri.
Ada pula yang menyebut hitungan mundur 3-2-1 sebagai momen paling mendebarkan. Detik-detik terakhir plating sering kali membuat panik, bahkan ada yang hanya bisa menuang saus seadanya demi mengejar waktu.
Tak sedikit yang sepakat bahwa sosok Chef Juna adalah ikon kuat MasterChef Indonesia. Sejak musim awal hingga sekarang, kehadirannya menjadi simbol ketegasan dan standar tinggi di galeri.
Selain itu, Mystery Box dan Black Team juga disebut sebagai elemen paling berkesan karena sering menghadirkan kejutan tak terduga.
Game Buah yang Bikin Pecah
Keseruan makin memuncak saat mereka memainkan game tebak buah cepat. Dalam hitungan detik, berbagai gambar buah muncul silih berganti dan peserta harus menyebutkan namanya secepat mungkin.
Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak yang salah sebut, tertukar antara alpukat dan naga, bahkan menyebut buah yang tidak muncul di layar.
Tawa pecah ketika salah satu peserta terlalu serius hingga berteriak memastikan “melon mana melon?” padahal permainan hanya untuk bersenang-senang.
Skor akhir pun diumumkan. Dua peserta mendapat poin tertinggi dan harus suit untuk menentukan pemenang. Suasana makin heboh saat hadiah akhirnya dibuka dan dibagi bersama.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Momen santai ini memperlihatkan sisi lain peserta MasterChef Indonesia. Di balik tekanan galeri dan ketegangan pressure test, mereka tetap anak muda yang penuh canda dan solidaritas.
Interaksi langsung dengan penonton melalui live chat juga membuat suasana terasa lebih akrab. Penonton bukan lagi sekadar pemirsa, tetapi bagian dari perjalanan mereka.
MasterChef Indonesia bukan hanya soal siapa yang paling jago memasak, tetapi juga tentang karakter, persahabatan, dan cerita di balik apron.v
Editor : Divka Vance Yandriana