JAKARTA - Alasan kontestan ikut MasterChef Indonesia akhirnya terungkap dalam obrolan santai yang penuh canda. Di balik persaingan sengit di galeri, para peserta ternyata punya cerita emosional dan keputusan besar sebelum melangkah ke ajang memasak paling populer di Tanah Air itu.
Alasan kontestan ikut MasterChef Indonesia bukan sekadar ingin terkenal atau tampil di televisi. Ada yang ingin membuktikan kapasitas diri di dunia kuliner, mengejar mimpi lama, hingga mencari kembali jati diri yang sempat hilang setelah menikah dan punya anak.
Dalam perbincangan tersebut, sejumlah peserta membagikan latar belakang dan motivasi mereka. Mulai dari chef profesional, pemilik usaha kuliner, hingga model dan ibu rumah tangga, semuanya punya cerita berbeda tentang keputusan mengikuti MasterChef Indonesia.
Ingin Buktikan Diri di Dunia Kuliner
Rizki, salah satu kontestan, mengaku keikutsertaannya adalah bagian dari perjalanan panjang kariernya di bidang kuliner. Ia merasa MasterChef Indonesia adalah wadah pembuktian sejauh mana kemampuannya berkembang.
“Saya merasa ini sudah jalan saya. MasterChef jadi tempat untuk membuktikan saya pantas ada di titik ini,” ujarnya.
Keputusan itu tak mudah. Ia harus meninggalkan zona nyaman dan pekerjaan yang sudah stabil. Namun baginya, kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Hal serupa disampaikan Jonathan. Ia sudah lama bekerja di industri food and beverage (FnB). Rasa penasaran terhadap realitas kompetisi memasak membuatnya mendaftar. Ia ingin menjawab sendiri pertanyaan netizen yang kerap menilai ajang tersebut sebagai “settingan”.
“Ternyata lebih susah dan lebih pressure. Ini real cooking show,” katanya.
Dari Hobi Masak hingga Restu Keluarga
Berbeda dengan Rizki dan Jonathan, Ibnu mengaku kecintaannya pada dapur tumbuh sejak kecil. Ia mulai serius mendalami masakan ketika ibunya sakit dan memintanya memasak. Dari situ, memasak bukan lagi sekadar hobi, melainkan panggilan hati.
Sementara Alsya yang berasal dari keluarga pemilik rumah makan Padang ingin membuktikan diri bahwa dirinya tak hanya mampu mengolah healthy food. Ia ingin menunjukkan kemampuan memasak di berbagai genre, termasuk hidangan internasional.
“Aku ingin prove it, kalau aku bisa masak selain healthy food,” tegasnya.
Ragil punya cerita lain. Ia baru menikah beberapa bulan sebelum mengikuti kompetisi. Keputusan itu cukup berat karena harus meninggalkan pasangan di masa-masa awal pernikahan. Namun ia percaya kesempatan tak selalu datang dua kali.
“Kesempatan itu enggak ada yang tahu. Mumpung ada, ya aku ambil,” ujarnya.
Cari Jati Diri yang Sempat Hilang
Cerita paling emosional datang dari salah satu kontestan perempuan yang sebelumnya bekerja di kitchen profesional. Setelah menikah dan menjadi ibu, ia memutuskan berhenti bekerja demi keluarga.
Namun bertahun-tahun kemudian, ia merasa kehilangan jati diri karena dunia memasak yang dulu digelutinya begitu lama terhenti.
“Aku ingin cari diriku lagi. Aku kangen jadi diriku yang dulu,” katanya.
Alasan kontestan ikut MasterChef Indonesia seperti ini menunjukkan bahwa ajang tersebut bukan hanya soal kompetisi memasak, tetapi juga perjalanan personal masing-masing peserta.
Dukungan dan Pengorbanan
Mayoritas kontestan mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga. Meski demikian, keputusan mengikuti MasterChef Indonesia tetap membawa risiko, terutama bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap atau usaha sendiri.
Beberapa harus meninggalkan bisnis, menunda pekerjaan, hingga mengatur ulang keuangan. Ada pula yang diam-diam mendaftar sebelum akhirnya memberi tahu keluarga setelah lolos tahap audisi.
Tak sedikit yang menyebut keputusan ini sebagai langkah “nekad” dalam hidup mereka.
Namun di balik tekanan, mereka sepakat bahwa pengalaman di galeri MasterChef Indonesia menghadirkan adrenalin dan keseruan tersendiri. Bagi sebagian peserta, suasana kompetisi justru terasa adiktif.
Dari berbagai kisah tersebut, satu benang merah terlihat jelas. Alasan kontestan ikut MasterChef Indonesia bukan sekadar ingin menang. Mereka ingin bertumbuh, membuktikan diri, dan mengejar mimpi yang mungkin sempat tertunda.
Di tengah sorotan kamera dan tekanan waktu, ternyata tersimpan cerita perjuangan yang tak kalah menarik dari sajian di atas piring.
Editor : Divka Vance Yandriana