RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung memiliki sejumlah kuliner yang selalu menjadi jujukan pemudik. Bahkan, mereka dianggap sebagai penyelamat perut di kala belum memasak.
Jalanan dipenuhi kendaraan pemudik, takbir berkumandang dari berbagai penjuru, dan suasana hangat Lebaran terasa di setiap sudut kota. Namun di balik euforia hari raya, ada satu persoalan klasik yang kerap muncul: mencari makanan saat hampir semua warung dan rumah makan tutup.
Di momen seperti inilah, sejumlah kuliner legendaris di Tulungagung hadir bak “penyelamat perut”. Mereka tetap menyalakan dapur di tengah tradisi libur panjang, menyajikan hidangan hangat bagi warga lokal maupun para perantau yang pulang kampung.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Sate Kambing Pak Kuwat. Aroma daging kambing yang dibakar sejak pagi sudah lebih dulu menyambut pengunjung yang datang silih berganti.
“Sate di sini memang legend, dagingnya empuk dan bumbunya meresap sampai ke dalam,” ujar Ahmad, pelanggan setia.
Bagi para pemudik, tempat ini bahkan sudah seperti destinasi wajib. Rina, yang setiap tahun pulang ke Tulungagung, mengaku selalu menyempatkan diri mampir.
“Setiap pulang kampung, ini tujuan pertama karena pasti buka saat yang lain tutup,” tuturnya.
Keramaian itu bukan tanpa alasan. Suryo, juru parkir setempat, menyebut lonjakan pengunjung justru terjadi saat Lebaran.
“Pemudik luar kota banyak yang mampir bareng keluarga besar,” katanya.
Bahkan, bagi warga sekitar, antrean panjang sudah menjadi pemandangan rutin tiap tahun.
“Sejak pagi kendaraan sudah mengular, sudah biasa kalau Lebaran,” tambah Slamet.
Ketika malam mulai larut dan aktivitas silaturahmi usai, perburuan kuliner belum berhenti. Di kawasan Jepun, Nasi Pecel Ibe justru menjadi primadona bagi mereka yang mencari santapan di jam-jam tak biasa.
Warung sederhana ini dikenal tetap buka hingga dini hari sesuatu yang langka saat Lebaran. Perpaduan bumbu kacang yang kental dengan cita rasa manis-pedas menjadi daya tarik utama.
“Bumbunya mantap, pas di lidah. Cari makan jam satu malam saat Lebaran itu susah,” ujar Fahmi, salah satu pelanggan.
Rahman, warga asli Tulungagung, juga mengakui kawasan Jepun selalu hidup di malam hari.
“Hampir setiap malam, paling ramai ya pecel di sini,” ungkapnya.
Tak lengkap membahas kuliner Lebaran tanpa menyebut ayam lodho, hidangan khas Tulungagung yang selalu hadir di meja makan keluarga.
Berbeda dari olahan ayam biasa, ayam lodho memiliki proses memasak yang unik. Ayam kampung dibakar terlebih dahulu di atas bara arang hingga menghasilkan aroma asap yang khas, kemudian dimasak lama dalam kuah santan pedas berbumbu rempah.
Hasilnya adalah perpaduan tekstur daging yang lembut dengan kuah gurih pedas yang meresap hingga ke serat. Sensasi smoky yang dihasilkan dari proses pembakaran menjadi ciri khas yang sulit ditiru.
Biasanya, ayam lodho disajikan bersama nasi gurih atau ketupat, menghadirkan nuansa tradisional yang kuat di momen Lebaran. Tak heran jika hidangan ini selalu menjadi pilihan utama saat berkumpul bersama keluarga besar. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri