Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Soto Sangka Banyumas Viral, Resep Sejak 1925 Tak Pakai Micin dan Masih Pakai Kayu Bakar

Divka Vance Yandriana • Minggu, 24 Mei 2026 | 21:16 WIB
Soto Sangka Banyumas viral karena resep sejak 1925 tanpa micin dan kuah kaldu ayam kampung dimasak pakai kayu bakar.
Soto Sangka Banyumas viral karena resep sejak 1925 tanpa micin dan kuah kaldu ayam kampung dimasak pakai kayu bakar.

JAKARTA - Soto Sangka Banyumas kembali mencuri perhatian pecinta kuliner setelah kisah warung legendaris ini viral di media sosial. Berdiri sejak 1925, Soto Sangka tetap mempertahankan resep asli tanpa penyedap rasa atau micin, bahkan kuah kaldunya masih dimasak menggunakan kayu bakar demi menjaga cita rasa autentik.

Kuliner legendaris asal Kabupaten Banyumas itu disebut sebagai salah satu soto tertua di wilayah tersebut. Keunikan rasa kaldu ayam kampung yang direbus selama tiga hingga empat jam membuat banyak pengunjung penasaran dan rela datang langsung ke Jalan Karangsawah, Banyumas.

“Memang enggak pakai penyedap sama sekali. Gurihnya dari kaldu ayam,” ujar Ahmad Basuki, generasi ketiga penerus Soto Sangka.

Baca Juga: 10 Mitos Paling Seram di Jawa yang Masih Dipercaya, dari Larangan Tidur Magrib hingga Misteri Nyai Roro Kidul

Warung sederhana itu kini menjadi simbol kuliner lawas yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern dan tren kuliner instan.

Soto Sangka Banyumas Berdiri Sejak Zaman Belanda

Menurut Ahmad Basuki, Soto Sangka dirintis oleh sang kakek buyut bernama Mbah Sangka sejak tahun 1925. Pada masa awal, soto dijual dengan cara dipikul berkeliling kampung hingga melayani pesanan warga Belanda.

Pikulan asli peninggalan Mbah Sangka bahkan masih disimpan hingga sekarang sebagai bukti sejarah perjalanan usaha keluarga tersebut.

Baca Juga: Candi Sanggrahan Tulungagung Jadi Jejak Majapahit, Diduga Tempat Persinggahan Abu Gayatri Rajapatni

“Dulu Mbah jualan keliling kampung pakai pikulan ini,” kata Ahmad.

Nama “Soto Sangka” sendiri berasal dari kebiasaan masyarakat yang menyebut lokasi jualan sang pendiri sebagai tempat makan soto milik Mbah Sangka.

Pada 1960, Mbah Sangka memutuskan membuka warung permanen di depan rumah keluarga. Lokasi itu tetap digunakan hingga kini dan diteruskan oleh generasi ketiga tanpa mengubah resep utama.

Baca Juga: Misteri Asal Usul Tulung Agung, Desa Hampir Tenggelam hingga Pengorbanan Pemuda yang Selamatkan Negeri

Ahmad menyebut hanya beberapa alat memasak yang diganti karena menyesuaikan kebutuhan. Dahulu kuah soto dimasak menggunakan gentong tanah liat, tetapi kini diganti karena mudah pecah dan kurang efisien.

Meski begitu, teknik memasak tradisional tetap dipertahankan agar rasa kuah tidak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Rahasia Soto Sangka Tanpa Micin, Kaldu Direbus 4 Jam

Keistimewaan Soto Sangka Banyumas terletak pada kuah kaldunya yang dibuat tanpa tambahan penyedap rasa. Seluruh rasa gurih berasal dari rebusan ayam kampung selama tiga hingga empat jam.

Ayam kampung direbus perlahan hingga menghasilkan kaldu pekat dengan cita rasa alami. Proses memasak menggunakan kayu bakar juga memberikan aroma smoky khas yang sulit ditemukan di soto modern.

“Cuma pakai garam dan bumbu-bumbu lain tanpa penyedap,” ujar Ahmad.

Isian soto terdiri dari ketupat, tauge, potongan ayam kampung, daun bawang, kecap, bawang goreng, dan sambal kacang khas Banyumas.

Perpaduan kuah gurih, aroma asap kayu bakar, dan sambal kacang membuat rasa soto terasa ringan tetapi tetap kuat di lidah.

Dalam video review yang viral, pembuat konten kuliner memuji rasa kaldunya yang dianggap berbeda dibanding kebanyakan soto masa kini.

“Ini generasi lama, bukan generasi micin,” ucapnya sambil menikmati semangkuk Soto Sangka.

Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Di tengah menjamurnya kuliner kekinian, Soto Sangka justru tetap mempertahankan cara masak tradisional dan resep asli hampir satu abad lamanya.

Warung tersebut kini menjadi destinasi wajib wisata kuliner Banyumas dan Purwokerto. Banyak pengunjung datang karena penasaran dengan rasa soto zaman kolonial yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Ahmad berharap Soto Sangka bisa terus berkembang tanpa kehilangan identitas tradisional yang diwariskan keluarganya sejak 1925.

“Mudah-mudahan bisa lebih maju dan lebih banyak peminatnya,” katanya.

Keberadaan Soto Sangka juga dianggap sebagai bukti bahwa kuliner tradisional tetap mampu bersaing jika mempertahankan kualitas rasa dan keaslian resep.

Dengan usia hampir 100 tahun, Soto Sangka Banyumas bukan sekadar tempat makan, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner Indonesia yang masih bertahan sampai sekarang. Resep tanpa micin, kuah kaldu ayam kampung, dan penggunaan kayu bakar menjadi alasan mengapa warung ini terus diburu pencinta kuliner tradisional.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Soto Sangka Banyumas #soto ayam #soto