RADAR TULUNGAGUNG - Bebek Purnama Surabaya kembali menjadi sorotan para pecinta kuliner. Warung nasi bebek legendaris yang berada di kawasan Jalan Dinoyo ini dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner wajib saat berkunjung ke Kota Pahlawan.
Popularitas Bebek Purnama Surabaya bahkan terus meningkat di tahun 2026. Tidak hanya warga lokal, wisatawan dari luar kota hingga food vlogger terkenal rela datang sejak pagi demi mencicipi seporsi nasi bebek yang disebut-sebut memiliki cita rasa khas dan sulit dilupakan.
Keunikan Bebek Purnama Surabaya bukan hanya terletak pada rasanya, tetapi juga sejarah panjangnya. Warung ini diketahui telah berjualan sejak era 1980-an dan tetap mempertahankan cita rasa yang membuat pelanggan terus berdatangan setiap hari.
Baca Juga: 12 Kuliner Legendaris Malang yang Tak Pernah Sepi, dari Bakso Presiden hingga Rawon Nguling
Antrean Sudah Mengular Sebelum Warung Buka
Meski mulai melayani pelanggan sekitar pukul 06.30 WIB, pengunjung biasanya sudah berdatangan sejak sebelum warung dibuka. Fenomena ini menjadi pemandangan yang hampir selalu terjadi setiap pagi.
Menurut pengelola, dalam satu hari mereka bisa menghabiskan sekitar 60 ekor bebek. Setiap ekor dipotong menjadi enam hingga tujuh bagian tergantung ukuran, sehingga mampu melayani ratusan pelanggan setiap harinya.
Banyak pelanggan sengaja datang lebih awal untuk menghindari kehabisan menu favorit mereka.
Baca Juga: 20 Kuliner Legendaris Malang yang Wajib Dicoba, dari Rawon Rampal hingga Sego Resek Pak Man
Berawal dari Depan Bioskop Purnama
Nama Bebek Purnama ternyata memiliki cerita tersendiri. Warung tersebut awalnya berjualan di depan Bioskop Purnama yang dulu menjadi salah satu ikon Kota Surabaya.
Karena lokasi jualannya berada di depan gedung tersebut, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Bebek Purnama. Meski kini sudah berpindah lokasi, nama tersebut tetap melekat hingga sekarang.
Tak heran jika muncul beberapa warung dengan nama serupa. Namun pelanggan lama meyakini lokasi di kawasan Dinoyo sebagai salah satu yang paling dikenal sejak dahulu.
Rahasia Kelezatan Ada pada Bumbu dan Serundeng
Saat seporsi nasi bebek disajikan, aroma rempah langsung terasa kuat. Daging bebek yang digoreng hingga matang sempurna dipadukan dengan bumbu kuning khas dan taburan serundeng yang melimpah.
Bagian kulitnya terasa gurih dan renyah, sementara dagingnya tetap empuk serta memiliki cita rasa yang meresap hingga ke bagian dalam.
Keistimewaan lain terletak pada perpaduan nasi hangat dengan bumbu bebek yang bercampur serundeng. Kombinasi sederhana tersebut justru menjadi alasan banyak pelanggan merasa ketagihan.
Sambal terasi yang tersedia bebas di meja makan semakin melengkapi kenikmatan hidangan. Rasa pedas, gurih, dan aroma rempah berpadu menjadi satu dalam setiap suapan.
Baca Juga: JLS Pantai Gayasan Blitar Viral, Panorama Mirip Pantai Pandawa Bali Ini Jadi Spot Favorit Wisatawan
Harga Terjangkau untuk Porsi Melimpah
Salah satu alasan Bebek Purnama Surabaya selalu ramai adalah harga yang masih terjangkau. Seporsi nasi bebek dibanderol sekitar Rp25.000.
Dengan harga tersebut, pelanggan sudah mendapatkan nasi hangat, potongan bebek berukuran besar, bumbu khas, serta serundeng yang melimpah.
Porsi yang cukup besar membuat banyak pelanggan merasa puas. Bahkan tidak sedikit yang memilih membeli tambahan nasi karena bumbu dan lauknya masih tersisa.
Jadi Destinasi Wajib Pecinta Kuliner Surabaya
Di tengah banyaknya pilihan kuliner di Kota Pahlawan, Bebek Purnama tetap mampu mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun.
Cita rasa yang konsisten, harga bersahabat, dan lokasi yang mudah dijangkau menjadikan tempat ini sebagai salah satu ikon kuliner Surabaya yang wajib dikunjungi.
Bagi wisatawan yang sedang berburu kuliner khas Surabaya, Bebek Purnama bisa menjadi pilihan utama. Terlebih bagi pencinta olahan bebek yang ingin menikmati sajian legendaris dengan rasa autentik yang sudah teruji oleh waktu.
Tak berlebihan jika banyak pelanggan menyebut bahwa perjalanan kuliner ke Surabaya terasa belum lengkap sebelum mencicipi seporsi nasi dari Bebek Purnama yang legendaris ini.
Editor : Gita Dwi Nuraini