RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Jenang Jelita, salah satu makanan khas Kabupaten Tulungagung, terus bertahan di tengah gempuran makanan modern dan perlambatan ekonomi. Kuliner tradisional yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan jenang sabun ini kini menghadapi tantangan berupa penurunan penjualan yang disebut mencapai sekitar 50 persen.
Meski demikian, keluarga penerus usaha tetap berupaya mempertahankan kualitas dan cita rasa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Owner Jenang Jelita, Sri Wanudinarni, mengatakan dirinya merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarga tersebut.
Berawal dari Hobi Membuat Kudapan Tradisional
Sri menuturkan, cikal bakal Jenang Jelita bermula dari kegemaran neneknya membuat aneka makanan tradisional.
Pada masa itu, jenang umumnya menggunakan gula merah sebagai bahan utama. Namun, sang nenek mencoba menghadirkan resep berbeda dengan memadukan gula putih, susu, dan cokelat.
Hasil racikan tersebut ternyata mendapat sambutan positif dari keluarga dan kerabat.
Saat momen Lebaran maupun hajatan, banyak saudara dan tetangga yang mulai memesan jenang tersebut.
Permintaan yang terus meningkat membuat produk itu perlahan dikenal lebih luas.
Bertransformasi dari Usaha Sampingan
Awalnya, keluarga Sri menjalankan usaha batik sebagai bisnis utama.
Sementara produksi jenang hanya menjadi usaha sampingan keluarga.
Namun ketika industri batik mulai mengalami penurunan, keluarga akhirnya memutuskan lebih fokus mengembangkan Jenang Jelita.
Ayah Sri kemudian memasarkan produk tersebut dengan cara berjualan keliling.
Jenang dipikul dan dijajakan ke berbagai tempat, termasuk kawasan Pecinan dan lingkungan kampus.
Strategi tersebut dinilai efektif karena mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah turut membantu memperkenalkan produk khas Tulungagung itu ke wilayah asal mereka.
Asal Nama Jenang Jelita dan Jenang Sabun
Di tengah masyarakat, produk ini lebih populer dengan sebutan jenang sabun.
Namun, nama resmi yang diberikan keluarga adalah Jenang Jelita.
Sri menjelaskan, nama Jelita merupakan singkatan dari beberapa kata.
Huruf "J" berasal dari kata jenang, "Li" menggambarkan tekstur jenang yang licin saat dimakan, sedangkan "Ta" diambil dari nama Tulungagung.
Sementara sebutan jenang sabun berasal dari nama Mbah Saibun, seseorang yang dekat dengan keluarga pendiri.
Karena anak-anak kecil pada masa itu kesulitan mengucapkan nama Saibun, penyebutannya perlahan berubah menjadi "sabun" dan terus melekat hingga sekarang.
Hadirkan Varian Baru Berbahan Alami
Setelah meneruskan usaha sekitar 20 tahun lalu, Sri mulai melakukan sejumlah inovasi.
Jika sebelumnya hanya terdapat varian Jenang Jelita dan jenang manten, kini tersedia berbagai pilihan rasa baru.
Beberapa di antaranya adalah jenang tape, durian, nangka, sirsak, hingga nanas.
Sri menegaskan seluruh varian dibuat menggunakan bahan alami tanpa tambahan perasa buatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat agar tetap mencintai jajanan tradisional.
Kendala Masa Simpan Produk
Salah satu tantangan yang dihadapi usaha ini adalah daya tahan produk yang relatif singkat.
Tanpa penggunaan bahan pengawet, jenang hanya mampu bertahan sekitar satu minggu hingga 10 hari.
Hal tersebut menjadi kendala ketika ada permintaan pengiriman ke luar daerah maupun luar negeri.
Sebagai solusi, Sri mencoba menggunakan pembungkus daun pisang dan metode vakum.
Menurutnya, penggunaan daun pisang mampu membuat produk bertahan lebih lama, bahkan mendekati satu bulan.
Selain itu, aroma daun pisang juga memberikan cita rasa khas yang semakin memperkuat kesan tradisional.
Pernah Dipesan hingga Mancanegara
Meski berasal dari daerah, Jenang Jelita ternyata telah dikenal oleh konsumen luar negeri.
Sri mengaku pernah menerima permintaan pengiriman ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Swiss, dan Yunani.
Sebagian konsumen asing mengenal produk tersebut setelah mendapatkan oleh-oleh dari teman atau kerabat asal Indonesia.
Setelah mencicipi, mereka kembali melakukan pemesanan karena menyukai rasa manis yang dinilai tidak berlebihan.
Penjualan Menurun dalam Beberapa Tahun Terakhir
Di tengah berbagai upaya pengembangan, kondisi ekonomi menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha.
Sri menyebut penurunan daya beli masyarakat membuat penjualan tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.
Momen yang biasanya menjadi puncak penjualan seperti Lebaran, liburan sekolah, dan akhir tahun kini tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
Penurunan omzet bahkan diperkirakan mencapai sekitar 50 persen.
Akibat kondisi tersebut, jumlah distribusi ke toko oleh-oleh juga dikurangi untuk menghindari banyaknya produk yang kembali.
Ia menilai situasi saat ini terasa lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19.
Berharap Tetap Menjadi Ikon Kuliner Tulungagung
Baca Juga: Sejarah Jenang Sabun Tulungagung, Kuliner Legendaris Sejak 1953 Kini Diterpa Penurunan Penjualan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Sri tetap berkomitmen menjaga kualitas produk.
Ia memilih tidak mengurangi komposisi bahan baku meski harga bahan produksi mengalami kenaikan.
Baginya, Jenang Jelita bukan sekadar usaha keluarga, tetapi juga sumber kehidupan yang telah menghidupi beberapa generasi.
Ia pun berharap makanan khas Tulungagung tersebut dapat terus dikenal masyarakat luas dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain mulai mengajarkan anak-anaknya mengenai proses produksi dan bisnis, Sri juga berharap generasi muda tidak malu meneruskan usaha keluarga yang telah dibangun dengan perjuangan panjang.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : Radar Tulungagung TV, You Tube, DIOLAH