Kerupuk Rambak Pemalang Dibuat 3 Tahap Jemur, Rahasia Kriuknya Ada di Sini

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Kerupuk rambak Pemalang dibuat lewat proses panjang, mulai dari adonan, tiga tahap penjemuran hingga dua kali penggorengan. Begini rahasia kriuknya. (Youtube. com)
Kerupuk rambak Pemalang dibuat lewat proses panjang, mulai dari adonan, tiga tahap penjemuran hingga dua kali penggorengan. Begini rahasia kriuknya. (Youtube. com)

PEMALANG - Kerupuk rambak Pemalang menjadi camilan yang hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Pantura. Di Desa Pecangaan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, pembuatan kerupuk rambak dilakukan secara turun-temurun dengan proses yang cukup panjang.

Kerupuk rambak Pemalang dibuat dari adonan tepung tapioka dan tepung terigu yang dicampur bumbu. Setelah melalui proses pengukusan, pemotongan, hingga tiga tahap penjemuran, kerupuk kemudian digoreng dua kali agar bisa mengembang sempurna.

Kerupuk rambak Pemalang juga menjadi sumber penghasilan warga Desa Pecangaan. Sejak pagi, aktivitas menjemur kerupuk terlihat di sepanjang jalan kampung. Sebagian besar warga menjalankan usaha tersebut sebagai warisan dari orang tua.

Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Modal Rp6 Juta, Pak Harto Bantul Kini Produksi 1,2 Ton per Bulan

Adonan Dibuat dari Tepung dan Bumbu

Salah satu produsen kerupuk rambak di Pecangaan adalah Muhammad Awaludin. Dalam sehari, tempat produksinya dapat mengolah sekitar satu kuintal bahan untuk menghasilkan kerupuk rambak.

Pembuatan diawali dengan menyiapkan air serta bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu tersebut terdiri atas bawang putih, terasi, ketumbar, dan garam.

Untuk satu resep, digunakan sekitar 20 kilogram tepung tapioka dan dua piring tepung terigu. Air yang dibutuhkan sekitar 25 liter. Seluruh bahan kemudian dicampur secara manual menggunakan tangan hingga adonan tercampur rata.

Adonan juga diberi sedikit pewarna makanan kuning telur. Warna tersebut menjadi ciri khas kerupuk rambak sebelum digoreng. Setelah matang, warnanya berubah menjadi kecokelatan.

Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar

Adonan selanjutnya dituangkan ke dalam loyang yang sebelumnya dilapisi minyak goreng. Lapisan minyak berfungsi agar adonan tidak lengket saat dikeluarkan.

Dikukus, Dipotong, dan Dijemur Tiga Kali

Loyang berisi adonan kemudian dikukus menggunakan tungku kayu bakar. Satu kali proses memasak membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.

Setelah matang dan didinginkan, adonan dikeluarkan dari loyang. Pada tahap awal, hasil pengukusan masih menyerupai agar-agar dan belum bisa langsung digoreng.

Adonan kemudian dipotong-potong dengan ukuran tertentu. Tahap ini membutuhkan ketepatan karena kondisi adonan tidak boleh terlalu basah maupun terlalu kering.

Penjemuran pertama berlangsung sekitar empat jam, mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Setelah cukup kering, adonan dipotong lalu dijemur kembali selama sedikitnya dua hari.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Jadi Primadona saat Lebaran Idul Fitri

Setelah kering, potongan kerupuk dicuci menggunakan air mengalir. Tujuannya membersihkan minyak yang masih menempel pada permukaan kerupuk.

Potongan tersebut kemudian menjalani penjemuran ketiga. Tahap ini menjadi salah satu bagian paling penting karena tingkat kekeringan menentukan hasil akhir saat digoreng.

Jika masih terlalu basah, kerupuk tidak dapat mengembang sempurna. Sebaliknya, jika terlalu kering, kerupuk bisa remuk atau pecah ketika masuk ke minyak panas.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung, Jajanan Gurih Cocok untuk Lauk dan Ngemil

Dua Kali Goreng Bikin Kerupuk Mengembang

Rahasia lain kerupuk rambak Pemalang terletak pada proses penggorengan. Kerupuk tidak cukup digoreng satu kali.

Produsen menggunakan dua wajan. Wajan pertama digunakan untuk penggorengan tahap awal, sedangkan wajan kedua berfungsi mengembangkan kerupuk hingga ukurannya lebih besar dan teksturnya renyah.

Perbedaan hasilnya terlihat jelas. Kerupuk yang hanya digoreng sekali tidak mengembang sempurna. Sementara itu, penggorengan dua tahap menghasilkan kerupuk yang lebih mekar dan utuh.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Miliki Citarasa Kuat dan Tekstur Lebih Padat, Kenali Empat Ciri Unik dan Beda Dibanding yang Lain

Setelah matang, kerupuk rambak dikemas dalam plastik kecil. Kemasan tersebut kemudian dimasukkan kembali ke plastik lebih besar. Satu kemasan besar berisi sekitar 10 bungkus kecil.

Dipasarkan hingga Pekalongan

Usaha kerupuk rambak di Pecangaan telah berlangsung secara turun-temurun. Produk yang selesai dikemas kemudian dipasarkan ke sejumlah pasar di sekitar Comal dan Pemalang, termasuk wilayah Pekalongan.

Produsen juga memiliki pelanggan tetap yang membantu menjual produk tersebut. Dalam sehari, produksi rata-rata mencapai satu kuintal.

Baca Juga: Berkah Ramadan dan Lebaran, Omzet Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Naik Dua Kali Lipat, Laris Diburu Pemudik

Kerupuk yang sudah matang disebut dijual sekitar Rp35.000 per kilogram. Sementara harga produk mentah berada di kisaran Rp20.000 per kilogram.

Bagi masyarakat Pantura, kerupuk rambak bukan sekadar camilan. Kerupuk ini kerap menjadi pendamping makanan sehari-hari, mulai dari nasi hingga bakso.

Tak mengherankan jika kerupuk rambak tetap dipertahankan sebagai usaha keluarga. Dari proses manual, penjemuran yang membutuhkan ketelitian, hingga penggorengan dua tahap, setiap bagian menjadi kunci untuk menghasilkan kerupuk yang renyah dan berbunyi kriuk saat disantap.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : CNN Indonesia
kerupuk rambak Pemalang Desa Pecangaan Comal Pemalang kerupuk Pantura kerupuk rambak