Kerupuk Rambak Brebes Butuh 2 Bulan, Begini 13 Tahap Produksi Kulit Kerbau

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 20:05 WIB
Kerupuk rambak Brebes khas Bumiayu dibuat dari kulit kerbau melalui 13 tahap produksi. Prosesnya bisa memakan waktu hingga dua bulan sebelum siap disantap. (Youtube. com)
Kerupuk rambak Brebes khas Bumiayu dibuat dari kulit kerbau melalui 13 tahap produksi. Prosesnya bisa memakan waktu hingga dua bulan sebelum siap disantap. (Youtube. com)

BREBES - Kerupuk rambak Brebes menjadi salah satu oleh-oleh khas yang menarik dari wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Berbahan kulit kerbau, camilan ini memiliki rasa gurih dan tekstur renyah setelah melewati proses produksi yang panjang.

Kerupuk rambak Brebes tidak dibuat dalam waktu singkat. Pengolahan kulit kerbau dari tahap pembakaran, perendaman, perebusan, pendinginan, pemotongan, penjemuran, pembumbuan hingga penggorengan bisa membutuhkan waktu paling cepat satu bulan.

Bahkan ketika cuaca kurang mendukung, proses pembuatan kerupuk rambak Brebes dapat berlangsung hingga dua bulan. Salah satu produsen di Jalan Pangeran Diponegoro, Bumiayu, setiap hari mengolah kulit kerbau menjadi kerupuk rambak secara turun-temurun.

Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Modal Rp6 Juta, Pak Harto Bantul Kini Produksi 1,2 Ton per Bulan

Kulit Kerbau Dibakar dan Direbus

Bahan baku kerupuk rambak berupa kulit kerbau kering yang didatangkan dari pengepul di Jawa Barat. Kulit tersebut terlebih dahulu dipotong menjadi beberapa bagian agar lebih mudah diolah.

Kulit kerbau kering cukup keras sehingga proses pemotongan membutuhkan teknik khusus. Setelah dipotong, kulit kemudian dibakar menggunakan kayu bakar selama sekitar dua menit.

Pembakaran bertujuan menghilangkan bulu sekaligus membuat kulit menjadi setengah matang. Penggunaan kayu bakar juga dianggap memberikan cita rasa tersendiri pada kerupuk rambak.

Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak

Setelah dibakar, kulit direndam selama satu malam atau sekitar 17 jam. Tahap ini bertujuan membersihkan sisa arang sekaligus membuat kulit lebih lunak.

Kulit kemudian direbus menggunakan kayu bakar selama enam hingga tujuh jam. Tidak semua kulit matang bersamaan karena ketebalannya berbeda. Karena itu, kulit harus disortir satu per satu.

Kulit yang masih keras direbus kembali sekitar satu jam. Jika kulit belum benar-benar matang, kerupuk yang dihasilkan tidak akan mengembang sempurna saat digoreng.

Baca Juga: Asal-Usul dan Kelezatan Kerupuk Rambak Tulungagung yang Wajib Dicoba dan Cocok untuk Oleh-oleh

Didinginkan, Dipotong, dan Dijemur

Setelah matang, kulit kerbau didinginkan dengan cara digantung satu per satu selama sekitar dua jam. Kipas angin digunakan untuk membantu mengurangi kadar air sehingga kulit lebih mudah dipotong.

Proses pemotongan membutuhkan pisau yang benar-benar tajam. Pisau juga dilumuri minyak goreng agar tidak lengket ketika digunakan mengiris kulit kerbau.

Potongan kemudian dibentuk dan dirapikan. Bagian yang sudah dipotong selanjutnya disortir berdasarkan ukuran sebelum masuk ke tahap penjemuran.

Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak

Penjemuran menjadi proses paling lama dalam produksi rambak. Kulit terlebih dahulu dijemur, didiamkan, kemudian digunting dan dirapikan sebelum kembali dijemur.

Jika matahari terik, proses pengeringan bisa berlangsung sekitar satu bulan. Namun, ketika musim hujan, waktunya dapat mencapai dua hingga tiga bulan.

Setelah benar-benar kering, potongan kulit diberi bumbu untuk menghasilkan rasa asin dan gurih. Kulit kemudian direndam menggunakan bumbu dan dijemur kembali sekitar tiga hari.

Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Pemalang Produksi 1 Kuintal per Hari, Dijual hingga Pekalongan

Digoreng dengan Teknik Khusus

Setelah kering, kerupuk rambak siap digoreng. Tahap ini juga membutuhkan teknik tertentu agar kulit dapat mengembang sempurna.

Kerupuk terlebih dahulu dimasukkan ke minyak yang belum terlalu panas. Setelah itu, proses dilanjutkan menggunakan minyak panas agar rambak mengembang secara maksimal.

Kerupuk yang telah matang kemudian dikumpulkan di tempat tertutup. Langkah ini dilakukan agar rambak tidak terkena angin yang dapat mengurangi kerenyahannya.

Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Pemalang Produksi 1 Kuintal per Hari, Dijual hingga Pekalongan

Hasil produksi kemudian dikemas dalam beberapa pilihan. Kemasan plastik kecil dijual sekitar Rp20.000, sedangkan ukuran besar Rp32.000.

Tersedia pula kemasan premium menggunakan dus. Ukuran kecil dibanderol sekitar Rp65.000 dan ukuran besar mencapai Rp190.000 per dus.

Kayu Bakar Jadi Penentu Rasa

Menurut produsen, rambak dengan tampilan kurang sempurna justru bisa memiliki rasa yang lebih nikmat. Penggunaan kayu bakar saat proses awal dinilai menghasilkan rasa gurih yang berbeda dibandingkan jika menggunakan gas.

Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak

Untuk menghadapi musim hujan, produksi dimaksimalkan ketika musim kemarau. Stok rambak yang sudah kering disiapkan lebih banyak agar proses penggorengan tetap berjalan ketika penjemuran sulit dilakukan.

Dengan proses yang panjang dan mencapai 13 tahapan, kerupuk rambak kulit kerbau menjadi salah satu oleh-oleh khas Bumiayu, Brebes Selatan. Tekstur renyah dan rasa gurih membuatnya cocok dijadikan camilan maupun buah tangan.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : CNN Indonesia
kerupuk rambak Brebes kerupuk kulit kerbau Bumiayu oleh-oleh Brebes kulit kerbau