TULUNGAGUNG – Ayam lodho kampung menjadi salah satu kuliner khas Tulungagung yang masih mempertahankan teknik memasak tradisional. Cita rasanya yang gurih dan aroma asap yang khas berasal dari proses pembakaran ayam sebelum dimasak bersama santan dan bumbu rempah.
Keunikan ayam lodho kampung tidak hanya terletak pada racikan bumbunya, tetapi juga penggunaan tungku kayu yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Cara memasak seperti ini dipercaya mampu menghasilkan rasa yang lebih kaya dibanding menggunakan kompor biasa.
Dalam sebuah konten kuliner, proses memasak ayam lodho kampung diperlihatkan secara lengkap, mulai dari menyiapkan api unggun, membakar ayam, hingga mengolahnya menjadi sajian berkuah santan yang menggugah selera.
Dibakar di Atas Api Kayu agar Aroma Lebih Kuat
Proses memasak diawali dengan membakar ayam kampung utuh di atas bara api dari kayu bakar. Pembakaran dilakukan hingga kulit ayam berubah kecokelatan dan mengeluarkan aroma khas asap.
Setelah matang, ayam dibersihkan dari sisa abu sebelum dipotong dan siap dimasak bersama bumbu.
Teknik ini menjadi ciri khas ayam lodho karena menghasilkan aroma smoky yang tetap terasa meski ayam nantinya dimasak dalam kuah santan.
Rempah Lengkap Jadi Kunci Kelezatan
Bumbu yang digunakan terdiri atas bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, jahe, kunyit, kencur, cabai besar, cabai rawit, daun salam, serta daun jeruk.
Seluruh bahan dihaluskan, kemudian ditumis hingga harum sebelum ayam dimasukkan ke dalam wajan.
Setelah bumbu meresap, ditambahkan air, santan, gula, garam, penyedap rasa, dan kaldu. Proses memasak dilanjutkan hingga kuah menyusut dan daging ayam menjadi empuk.
Hasil akhirnya berupa ayam lodho berwarna kuning kecokelatan dengan kuah santan yang gurih dan aroma rempah yang kuat.
Cocok Jadi Menu Rumah Makan
Usai matang, ayam lodho langsung disajikan sebagai menu sarapan.
Daging ayam terlihat lembut dan mudah dipisahkan dari tulangnya. Aroma hasil pembakaran juga masih terasa sehingga memberikan cita rasa berbeda dibanding olahan ayam bersantan pada umumnya.
Salah seorang yang mencicipi hidangan tersebut bahkan menyebut menu ini layak dijadikan andalan rumah makan karena memiliki rasa yang khas dan menggugah selera.
Selain ayam, bagian hati dan jeroan juga ikut disajikan sehingga menambah variasi tekstur dalam satu hidangan.
Bahan Bakar Tradisional Masih Dipertahankan
Setelah menikmati hidangan, aktivitas berlanjut dengan mencari blarak atau daun kelapa kering yang biasa digunakan sebagai bahan bakar tungku.
Blarak dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar sekaligus mampu menghemat penggunaan gas LPG.
Daun kelapa yang telah mengering dipotong, diikat, kemudian dibawa pulang sebagai persediaan memasak.
Cara ini masih banyak dijumpai di pedesaan karena dinilai lebih ekonomis sekaligus mempertahankan cita rasa masakan tradisional.
Menikmati Kelapa Muda di Tengah Suasana Pedesaan
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kebun kelapa yang berada tidak jauh dari rumah.
Kelapa muda dipetik langsung dari pohonnya untuk dinikmati sebagai pelepas dahaga setelah memasak.
Air kelapa diminum segar, sementara daging buahnya disantap bersama gula merah. Perpaduan rasa manis alami dan tekstur daging kelapa yang lembut menjadi penutup aktivitas kuliner hari itu.
Suasana pedesaan yang masih dipenuhi sawah, pepohonan mahoni, dan kebun kelapa turut menghadirkan pengalaman berbeda dibanding aktivitas memasak di perkotaan.
Melalui perpaduan resep tradisional dan kehidupan desa, ayam lodho kampung tidak hanya menjadi sajian lezat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana budaya memasak menggunakan kayu bakar masih terus dilestarikan oleh masyarakat Tulungagung.
Editor : Maylanni Diana Fitri