Kopi Grasak Khas Tulungagung Rp 5.000, Punya Cara Minum yang Tak Boleh Asal

Rinto Wahyu Hidayat • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:03 WIB
Kopi grasak khas Tulungagung cuma Rp 5.000. Uniknya, kopi bertabur biji kopi kasar ini harus diaduk dulu sebelum dinikmati.
Kopi grasak khas Tulungagung cuma Rp 5.000. Uniknya, kopi bertabur biji kopi kasar ini harus diaduk dulu sebelum dinikmati.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Ada aturan tak tertulis yang wajib dipatuhi setiap orang yang memesan kopi grasak di Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung.

Yaitu, jangan pernah terburu-buru menyeruputnya.

Kopi seharga Rp 5.000 ini memang tampil beda. Begitu disajikan, permukaan gelas dipenuhi butiran biji kopi kasar yang masih utuh, belum larut sama sekali.

Bagi yang belum tahu, tampilannya bisa bikin bingung. Justru di situlah keunikannya. 

Racikan kopi grasak dan gula sudah disiapkan penjual dari awal, tinggal disiram air mendidih, lalu disajikan dalam gelas cangkir dengan topping biji kopi yang terlihat penuh sampai ke permukaan.

Baca Juga: 3 Resep Es Kopi Modal di Bawah Rp 10.000, Begini Cara Membuat Es Kopi Susu, Es Kopi Cokelat, hingga Kopteh Viral ala Kafe

Proses seduhnya cepat, tapi cara menikmatinya butuh kesabaran. Pembeli harus mengaduknya lebih dulu dengan sendok kecil sampai biji-biji kopi larut.

Baru setelah itu, sisa ampas biji yang belum larut disingkirkan sebelum kopi diminum. Lewati tahap ini, sensasi rasa tradisionalnya bisa hilang.

Yang membuat Desa Sukowiyono makin istimewa, ada lebih dari lima warung kopi grasak yang lokasinya saling berdekatan.

Alih-alih saling menjatuhkan, kelima warung ini justru punya pelanggan setia masing-masing dan sama-sama ramai setiap hari.

Warung-warung tersebut buka sejak pagi dan baru tutup sekitar pukul 12.00 tanpa pernah libur.

Baca Juga: Cara Membuat Roasted Milk Tea ala Kafe dan Mall, Cuma Pakai Teh Tubruk, Fresh Milk, dan Creamer, Rasanya Creamy dengan Modal Murah

Salah satu pelanggan setia adalah Galing, pemuda 35 tahun yang rumahnya persis berdekatan dengan salah satu warung kopi grasak.

Hampir setiap hari ia nongkrong di sana, dan meski sudah berkali-kali datang, ia mengaku tak pernah bosan.

Bagi dia, alasan betah nongkrong bukan semata soal rasa kopi. Suasana warung yang berada di pinggir desa, dekat sawah dan kebun warga, jadi daya tarik tersendiri.

"Sejuk di warung kopi grasak, sederhana, tapi ada banyak pohon tinggi sehingga nyaman," ujar pemuda asal Desa Ringinpitu tersebut.

Ditambah lagi, dari warung kopi grasak, pengunjung bisa mendengar sekaligus menikmati aliran sungai kecil di sekitarnya.

Kombinasi rasa kopi tradisional, harga bersahabat, dan suasana pedesaan yang tenang inilah yang membuat warung-warung kopi grasak di Sukowiyono tak pernah kehilangan pelanggan, meski berdiri berdampingan satu sama lain. (rin/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
sukowiyono kopi grasak kopi Karangrejo