JOGJA - Kopi Kelotok Jogja menjadi salah satu tempat kuliner yang ramai dibicarakan wisatawan. Berada di kawasan Kaliurang, warung kopi ini menawarkan pengalaman makan dengan suasana rumah Jawa tradisional dan pemandangan sawah yang menenangkan.
Kopi Kelotok Jogja bukan kafe modern dengan dekorasi mewah. Tempat ini justru mempertahankan konsep warung rumahan dengan bangunan kayu, ornamen Jawa kuno, serta menu masakan sederhana yang identik dengan hidangan sehari-hari di pedesaan.
Daya tarik Kopi Kelotok Jogja semakin kuat karena pengunjung bisa menikmati kopi dan makanan sambil melihat hamparan sawah. Suasana tenang dan udara sejuk membuat tempat ini berbeda dari banyak kedai kopi kekinian di kawasan wisata Jogja.
Baca Juga: Wisata Bali: 10 Destinasi dan Kuliner yang Wajib Masuk Itinerary, Ada yang Gratis!
Nama Kelotok Berasal dari Bunyi Kopi
Nama Kopi Kelotok ternyata memiliki cerita tersendiri. Sebutan tersebut berasal dari bunyi kopi ketika direbus menggunakan panci tradisional.
Suara rebusan kopi yang berbunyi seperti “klotok, klotok” kemudian menjadi inspirasi nama warung. Konsep tradisional itu masih terasa dari bangunan, perabot kayu, hingga cara penyajian makanan.
Menu yang ditawarkan juga tidak dibuat dengan konsep modern. Pengunjung dapat menemukan kopi hitam, kopi susu, teh, pisang goreng, telur dadar, sayur lodeh, tempe, sambal, jadah, hingga kerupuk.
Cara mengambil makanan dibuat seperti prasmanan rumahan. Sejumlah lauk diletakkan di meja panjang sehingga pengunjung bisa memilih makanan sesuai selera.
Pisang Goreng dan Telur Jadi Favorit
Salah satu menu yang dicicipi adalah pisang goreng. Satu porsinya berisi dua buah pisang dengan lapisan tepung yang renyah.
Bagian luar pisang terasa crunchy, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut dan manis. Tekstur tepung yang dibuat berkerut memberikan sensasi berbeda ketika disantap dalam kondisi hangat.
Selain pisang goreng, telur dadar juga menjadi menu yang menarik perhatian. Telurnya digoreng hingga bagian luar terasa crispy dan memiliki tekstur lebih renyah dibanding telur dadar biasa.
Untuk menu sayur, tersedia lodeh terong dan lodeh tempe dengan cabai hijau. Rasanya cenderung manis seperti karakter masakan Jawa Tengah, tetapi tetap memiliki sentuhan gurih dan pedas.
Pengunjung juga dapat membuat sambal sendiri. Bahan seperti cabai, garam, gula Jawa, gula pasir, dan terasi tersedia untuk diracik sesuai tingkat kepedasan masing-masing.
Sensasi Makan seperti di Rumah Nenek
Kekuatan utama Kopi Kelotok bukan hanya pada menu. Pengalaman makan menjadi daya tarik yang membuat tempat ini ramai dikunjungi.
Konsep warung rumahan membuat suasananya terasa akrab. Makanan tidak disajikan dengan plating mewah, tetapi justru mengandalkan cita rasa sederhana seperti masakan rumah.
Pengunjung juga bisa memilih duduk di area lesehan sambil menikmati pemandangan persawahan. Kombinasi udara sejuk, bangunan tradisional, makanan Jawa, dan kopi membuat suasananya terasa seperti kembali ke masa lalu.
Popularitas warung ini semakin meningkat setelah banyak wisatawan membagikan pengalaman mereka di media sosial. Bahkan, tempat tersebut disebut telah didatangi public figure hingga wisatawan mancanegara.
Bagi pencinta wisata kuliner Jogja, Kopi Kelotok menawarkan pengalaman yang berbeda. Bukan sekadar tempat minum kopi, warung ini menjadi ruang untuk menikmati makanan tradisional sekaligus suasana pedesaan yang masih terjaga.
Kehadiran tempat seperti ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu harus dikemas secara modern untuk menarik wisatawan. Justru kesederhanaan makanan dan suasana Jawa menjadi alasan pengunjung datang dan kembali.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Her Food Story