TULUNGAGUNG - Jenang Tulungagung ternyata tidak sekadar makanan tradisional yang biasa ditemukan di pasar atau toko oleh-oleh. Di Desa Cluwok Bono, Kecamatan Boyolangu, terdapat usaha jenang yang mempertahankan proses produksi secara manual hingga lima jam.
Usaha tersebut dikenal sebagai UD Sari Murni atau jenang Pak Lasimun. Produk yang dibuat secara turun-temurun itu menjadi salah satu kuliner khas Tulungagung yang masih mempertahankan cara pengolahan tradisional.
Jenang Tulungagung produksi UD Sari Murni dibuat menggunakan bahan utama beras, ketan, gula merah, dan santan. Selain jenang, usaha keluarga tersebut juga menghasilkan madu mongso, wajik, dan jadah.
Berawal dari Produksi Dua Kilogram
Pemilik UD Sari Murni, Hana, mengatakan usaha tersebut sudah berlangsung sejak generasi neneknya. Pada masa awal, produksinya masih sangat sederhana.
Baca Juga: MacBook Neo Dibanderol Rp10 Jutaan, Apa yang Dipangkas Apple?
Sang nenek membuat sekitar dua kilogram jenang. Hasil produksi kemudian dipotong kecil-kecil dan dijual ke pasar.
Usaha itu kemudian diteruskan oleh ayah Hana yang dikenal dengan nama Pak Lasimun. Setelah ayahnya meninggal dunia, Hana melanjutkan usaha tersebut hingga sekarang.
Dengan demikian, usaha jenang Pak Lasimun kini memasuki generasi ketiga. Produksi yang awalnya berskala kecil berkembang menjadi usaha yang memiliki beragam produk makanan tradisional.
Beberapa produk yang tersedia antara lain jenang ketan, jenang manten, madu mongso, wajik, serta jadah yang juga dikenal dengan sebutan tetel.
Proses Pembuatan Jenang Bisa Lima Jam
Salah satu daya tarik jenang Pak Lasimun adalah proses pembuatannya. Seluruh bahan disiapkan terlebih dahulu sebelum dimasak dalam pawon atau tempat produksi.
Baca Juga: MacBook Neo Jadi MacBook Termurah, Benarkah Bisa Kalahkan Laptop Windows?
Untuk membuat jenang, bahan yang digunakan antara lain beras, ketan, gula merah atau gula Jawa, serta santan.
Kelapa diparut untuk menghasilkan santan. Santan kemudian dimasak menggunakan wajan besar selama kurang lebih satu jam.
Setelah santan siap, gula merah dimasukkan ke dalam adonan. Campuran tersebut kembali dimasak dan diaduk hingga mendidih serta berubah menjadi semakin pekat.
Tepung kemudian dimasukkan secara bertahap. Adonan yang awalnya cair perlahan berubah menjadi kental.
Dari seluruh rangkaian tersebut, proses pembuatan jenang hingga matang membutuhkan waktu sekitar lima jam. Adonan juga harus terus diaduk secara manual selama proses berlangsung.
Metode tersebut membuat pembuatan jenang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Ketelitian menjadi bagian penting agar tekstur jenang sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Madu Mongso Dibuat dari Proses Fermentasi
Selain jenang, madu mongso menjadi produk yang cukup menarik. Makanan tradisional ini menggunakan bahan dasar ketan hitam dan ketan putih.
Ketan terlebih dahulu diberi ragi hingga berubah menjadi tape. Setelah proses fermentasi selesai, tape tersebut kemudian dimasak menggunakan tahapan yang hampir sama dengan pembuatan jenang.
Perbedaannya terdapat pada komposisi bahan. Proses fermentasi juga membuat madu mongso memiliki daya tahan lebih lama.
Hana menyebut madu mongso dapat bertahan sekitar dua hingga tiga bulan tanpa bahan pengawet. Sementara itu, jenang memiliki masa simpan maksimal sekitar satu minggu.
Pernah Dikirim ke Malaysia dan Taiwan
Perjalanan usaha jenang Pak Lasimun tidak berhenti di pasar lokal. Produk madu mongso produksinya bahkan telah dikirim ke luar negeri.
Beberapa negara tujuan yang disebut antara lain Malaysia, Brunei, Taiwan, dan Hong Kong. Pengiriman dilakukan sesuai permintaan konsumen.
Sementara itu, wajik dan jadah lebih banyak dipasarkan di wilayah sekitar Tulungagung serta sejumlah daerah lain.
Keberadaan UD Sari Murni menunjukkan bagaimana kuliner tradisional tetap dapat bertahan di tengah perkembangan makanan modern. Resep keluarga dan proses produksi manual menjadi bagian dari identitas jenang Pak Lasimun.
Toko tersebut melayani pembeli sejak pagi hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Lokasinya berada di Desa Cluwok Bono, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Editor : Maylanni Diana Fitri