Jenang Tulungagung Pak Lasimun Bertahan 3 Generasi, Berawal dari Jualan Rp500 di Pasar

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:20 WIB
Jenang Tulungagung Pak Lasimun bertahan tiga generasi. Berawal dari jualan Rp500 di pasar, kini usaha keluarga ini terus melestarikan kuliner tradisional.(SC Youtube)
Jenang Tulungagung Pak Lasimun bertahan tiga generasi. Berawal dari jualan Rp500 di pasar, kini usaha keluarga ini terus melestarikan kuliner tradisional.(SC Youtube)

TULUNGAGUNG - Jenang Tulungagung Pak Lasimun memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal sebagai salah satu makanan tradisional dari Kabupaten Tulungagung. Usaha tersebut bermula dari aktivitas nenek pemilik yang menjual jajanan pasar dengan harga hanya sekitar Rp500 hingga Rp1.000.

Kini, usaha jenang Pak Lasimun telah diteruskan hingga generasi ketiga. Siti Hana menjadi penerus usaha keluarga yang dirintis neneknya dan kemudian dikembangkan oleh kedua orang tuanya.

Jenang Tulungagung tersebut diproduksi di Dusun Cluwok, Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Produk yang dibuat tidak hanya jenang ketan, tetapi juga jenang campur, madu mongso, wajik, dan jadah.

Berawal dari Jualan Jajanan Pasar

Siti Hana menceritakan, usaha jenang Pak Lasimun bermula dari sang nenek yang merupakan warga asli Trenggalek. Saat itu, neneknya sehari-hari berjualan berbagai jajanan pasar.

Baca Juga: Kekeringan Ekstrem 2026 Makin Parah, Warga Rela Antre Air hingga Jual Ternak

Beberapa makanan yang dijual antara lain cucur, mendut, dan jenang manten. Produk tersebut dibawa ke pasar setiap pagi untuk dijual kepada masyarakat.

Produksi jenang pada masa itu masih sangat terbatas. Sang nenek memasak sendiri dalam jumlah kecil, kemudian jenang dipotong-potong sebelum dijual.

Harga makanan pada masa tersebut juga masih murah. Jenang dijual dengan harga sekitar Rp500 hingga Rp1.000.

Namun, permintaan terhadap jenang perlahan meningkat. Produk yang awalnya hanya digunakan sebagai jajanan sehari-hari mulai banyak dipesan untuk berbagai acara.

Jenang Manten Jadi Bagian Tradisi

Salah satu alasan usaha tersebut mampu bertahan adalah tingginya kebutuhan jenang dalam tradisi masyarakat Tulungagung.

Baca Juga: Makeup Naykilla Viral di TikTok, Ternyata Bisa Dibuat Pakai Produk Makeup yang Sudah Ada

Hana menjelaskan, jenang menjadi bagian penting dalam berbagai hajatan masyarakat Jawa, khususnya di Tulungagung. Jenang dan jajanan tradisional lainnya kerap disiapkan untuk kebutuhan acara keluarga.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap jenang terus muncul. Produksi yang awalnya hanya dilakukan untuk kebutuhan pasar berkembang menjadi usaha yang melayani pesanan masyarakat.

Seiring bertambahnya permintaan, usaha keluarga tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya.

Dikembangkan Generasi Kedua

Setelah sang nenek, usaha jenang dilanjutkan oleh generasi kedua. Ayah Hana, Pak Lasimun, bersama istrinya kemudian mengembangkan usaha tersebut.

Pada masa generasi kedua, jenang mulai dibuat dalam lebih banyak variasi. Tujuannya tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat untuk hajatan, tetapi juga menyediakan beragam jajanan pasar.

Usaha tersebut tetap dijalankan dengan tujuan sederhana. Keluarga ingin memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Hana, generasi sebelumnya tidak memiliki target bisnis yang terlalu jauh. Usaha itu awalnya memang menjadi sumber ekonomi keluarga.

Sang nenek sendiri diketahui memiliki latar belakang sebagai petani. Aktivitas membuat dan menjual jajanan menjadi pekerjaan tambahan yang kemudian berkembang menjadi usaha keluarga.

Kini Diteruskan Generasi Ketiga

Saat kedua orang tua Hana memasuki usia lanjut, pengelolaan usaha akhirnya diserahkan kepadanya. Hana kini menjadi generasi ketiga yang meneruskan jenang Pak Lasimun.

Ia melanjutkan produksi sejumlah makanan tradisional. Produk yang dibuat antara lain jenang ketan, jenang campur, madu mongso, wajik, dan jadah.

Usaha tersebut kini tidak hanya menjadi warisan keluarga. Jenang Pak Lasimun juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan makanan tradisional yang telah dikenal masyarakat secara turun-temurun.

Perjalanan tiga generasi tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat bertahan ketika memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat. Jenang bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan kebutuhan dalam berbagai kegiatan keluarga.

Dari produksi kecil di dapur rumah dan penjualan di pasar, usaha tersebut kini diteruskan oleh generasi ketiga. Resep serta tradisi membuat jenang tetap dijaga agar kuliner khas Tulungagung tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Editor : Maylanni Diana Fitri
jenang Tulungagung Jenang Pak Lasimun jenang manten kuliner tulungagung jajanan pasar