Pendap Bengkulu Bertahan di Tengah Badai, Dari Keliling Naik Motor Kini Raup Puluhan Juta

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:00 WIB
Pendap Bengkulu melewati perjuangan panjang dari jualan keliling hingga kini raup omzet puluhan juta. (Ilustrasi Gemini AI)
Pendap Bengkulu melewati perjuangan panjang dari jualan keliling hingga kini raup omzet puluhan juta. (Ilustrasi Gemini AI)

BENGKULU - Pendap Bengkulu bukan sekadar makanan tradisional berbahan ikan laut dan bumbu rempah.

Di balik cita rasanya, terdapat perjuangan panjang pelaku UMKM mempertahankan usaha sejak 2013, mulai dari berjualan keliling menggunakan sepeda motor hingga menghadapi keterpurukan saat pandemi Covid-19. Kini, usaha tersebut mampu memproduksi hingga 70 bungkus pendap siap santap setiap hari dan meraih omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Baca Juga: Road Trip Labuan Bajo: Naik Feri 8 Jam hingga Living Onboard Kapal Pinisi

Berawal dari PHK dan Warisan Keluarga

Usaha pendap tersebut dirintis pada 2013. Ide membuka usaha muncul setelah sang suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut membuat pasangan ini mencari cara untuk mendapatkan penghasilan sekaligus memanfaatkan modal yang tersedia.

Inspirasi kemudian datang dari keluarga. Orang tua sebelumnya memang telah memiliki pengalaman membuat pendap. Dari sanalah pasangan tersebut belajar langsung mengenai proses pembuatan makanan tradisional khas Bengkulu itu.

Awalnya, proses belajar dilakukan bersama orang tua, termasuk cara membungkus pendap. Dari keterampilan tersebut, usaha perlahan mulai dijalankan dan pelanggan mulai berdatangan.

Namun, membangun pasar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada masa awal, pendap harus dipasarkan secara langsung dengan sepeda motor.

Penjual berkeliling Kota Bengkulu untuk menawarkan dagangan dari satu tempat ke tempat lain. Sekolah dan kantor menjadi sejumlah lokasi yang disambangi untuk mencari pembeli.

Jangkauan penjualan bahkan berkembang hingga wilayah yang cukup jauh. Dagangan pernah dibawa ke arah Selatan hingga Seluma. Sementara ke arah Utara, pemasaran menjangkau kawasan Pondok Kelapa.

Pandemi Covid-19 Jadi Ujian Terberat

Perjalanan usaha kembali mendapat ujian berat ketika pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat mobilitas berkurang drastis. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penjualan pendap.

Saat masyarakat lebih banyak berada di rumah, pesanan ikut menurun. Pengiriman juga belum semudah sekarang karena sistem pemesanan online belum menjadi tumpuan utama usaha.

Situasi itu membuat pemasukan keluarga tertekan. Tabungan yang sebelumnya disimpan akhirnya digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk membayar keperluan rumah tangga dan pendidikan anak.

Meski demikian, kondisi sulit tersebut tidak membuat usaha berhenti. Setelah pandemi mereda, penjualan perlahan kembali bergerak. Pelanggan mulai berdatangan dan nama usaha semakin dikenal.

Pendap Bengkulu Kini Makin Dikenal

Saat ini, produksi pendap bisa mencapai sekitar 70 bungkus setiap hari. Proses pembuatannya memang sederhana, tetapi membutuhkan waktu cukup panjang.

Bumbu terlebih dahulu digiling. Selanjutnya, bumbu dipadukan dengan ikan laut dan dibungkus menggunakan daun keladi. Setelah dibungkus, pendap harus direbus selama kurang lebih delapan jam hingga matang.

Perjalanan selama lebih dari satu dekade tersebut menunjukkan bagaimana usaha makanan tradisional dapat bertahan melalui berbagai tantangan.

Dari berjualan keliling menggunakan sepeda motor, usaha pendap kini memiliki pelanggan dari berbagai daerah. Omzet yang mencapai puluhan juta rupiah per bulan juga menjadi hasil dari konsistensi mempertahankan produk lokal.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa UMKM makanan tradisional memiliki peluang untuk terus berkembang ketika mampu menjaga kualitas, memperluas pemasaran, dan bertahan menghadapi tekanan ekonomi.

Baca Juga: Road Trip Labuan Bajo: Naik Feri 8 Jam hingga Living Onboard Kapal Pinisi

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Tribun Bengkulu
Pendap Bengkulu Bengkulu makanan tradisional umkm COVID-19