JAKARTA - Pendap Bengkulu mencuri perhatian Nex Carlos saat menjelajahi kuliner khas di Kota Bengkulu.
Sajian berbahan ikan tersebut memiliki proses memasak yang tidak sebentar karena dibungkus daun pisang dan dimasak semalaman dengan kayu bakar. Dalam perjalanan itu, Nex Carlos juga mencicipi bagar hiu yang tak kalah unik.
Baca Juga: Road Trip Labuan Bajo: Naik Feri 8 Jam hingga Living Onboard Kapal Pinisi
Dimasak Semalaman dengan Rempah
Perjalanan kuliner Nex Carlos di Bengkulu membawanya ke sebuah rumah makan yang menyajikan sejumlah makanan tradisional. Salah satu menu yang paling banyak direkomendasikan warga adalah Pendap Bengkulu.
Dari penjelasan pemilik rumah makan, Pendap tidak bisa dibuat secara instan. Ikan terlebih dahulu diolah dengan berbagai bumbu dan rempah. Kunyit menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk memberikan karakter pada masakan.
Setelah dibumbui, makanan tersebut dibungkus menggunakan daun pisang. Proses memasaknya dilakukan dalam waktu lama. Dalam video, disebutkan Pendap dimasak sejak malam hingga pagi menggunakan kayu bakar.
Lamanya proses memasak membuat tekstur Pendap menjadi sangat lembut. Ketika dicicipi, Nex Carlos memperhatikan bagian luar makanan yang sudah lunak, sementara bagian dalamnya berisi daging ikan yang telah diolah bersama bumbu.
Rasa yang muncul juga cukup kuat. Pendap memiliki perpaduan rasa pedas dan asin dengan sentuhan asam dari asam kandis. Karakter tersebut membuat makanan ini berbeda dari sajian ikan yang biasa ditemukan di daerah lain.
Bagar Hiu, Menu yang Tak Selalu Tersedia
Menu kedua yang dicicipi adalah bagar hiu. Makanan tersebut menggunakan daging hiu yang dimasak bersama kelapa parut dan campuran rempah.
Tekstur dagingnya berbeda dengan Pendap. Jika Pendap cenderung lembut, daging pada bagar hiu terasa lebih padat, tetapi tetap empuk ketika dikunyah.
Nex Carlos sempat menduga rasa makanan tersebut akan menyerupai rendang karena penggunaan rempah dan kelapa. Namun, perkiraan tersebut tidak sepenuhnya sesuai. Bagar hiu yang dicicipinya memiliki rasa yang berbeda karena tidak menggunakan santan.
Keberadaan menu bagar hiu juga tidak selalu tersedia setiap hari. Pihak rumah makan menjelaskan bahwa ketersediaannya bergantung pada kondisi tangkapan nelayan.
Dalam percakapan tersebut, Nex Carlos turut menanyakan mengenai jenis hiu yang digunakan dan bagaimana rumah makan memperoleh bahan tersebut. Pihak rumah makan menegaskan bahwa hiu bukan menjadi tangkapan yang sengaja dicari untuk kebutuhan menu.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam video, jika nelayan mendapatkan hiu sebagai tangkapan dan ikan tersebut sudah mati, dagingnya dapat dimanfaatkan. Karena itu, menu bagar hiu tidak selalu tersedia di rumah makan tersebut.
Harga dan Tradisi Kuliner Bengkulu
Selain mencicipi makanan, Nex Carlos juga menanyakan sistem harga di rumah makan tersebut. Pihak rumah makan menjelaskan bahwa makanan dihitung berdasarkan jenisnya.
Lauk ikan dihitung per potong, sedangkan sayuran dihitung berdasarkan porsi. Dalam video, Pendap disebut memiliki harga sekitar Rp15 ribu per potong. Bagar hiu juga dihitung berdasarkan potongan yang tersedia.
Kunjungan tersebut memperlihatkan sisi lain kuliner Bengkulu yang mengandalkan bahan lokal, rempah, serta teknik memasak tradisional. Pendap Bengkulu menjadi contoh makanan yang membutuhkan waktu pengolahan panjang sebelum siap disantap.
Bagi pencinta wisata kuliner, cerita tentang Pendap dan bagar hiu dalam perjalanan Nex Carlos menunjukkan bahwa Bengkulu memiliki sajian tradisional dengan karakter yang berbeda. Bukan hanya soal rasa, proses pembuatan dan cerita di balik makanan tersebut menjadi bagian menarik dari pengalaman kuliner.
Baca Juga: Road Trip Labuan Bajo: Naik Feri 8 Jam hingga Living Onboard Kapal Pinisi
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Nex Carlos