JAKARTA - Ampiang Dadiah merupakan makanan khas Minangkabau berbahan susu kerbau yang difermentasi secara alami menggunakan bambu.
Kuliner tradisional yang telah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda ini memiliki rasa asam dengan tekstur menggumpal dan biasa disantap bersama ampiang, gula aren, serta parutan kelapa. Kini, keberadaan Ampiang Dadiah semakin sulit ditemukan karena produksi susu kerbau yang menurun.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Susu Kerbau Difermentasi di Dalam Bambu
Tidak seperti yogurt modern yang dibuat menggunakan peralatan dan proses produksi terkontrol, Dadiah mempunyai cara pembuatan yang diwariskan secara tradisional.
Susu kerbau segar dimasukkan langsung ke dalam potongan bambu berukuran sekitar 15 hingga 30 sentimeter. Bambu yang digunakan merupakan bambu baru dan tidak dicuci terlebih dahulu.
Bagian tersebut menjadi salah satu keunikan proses pembuatan Dadiah. Mikroorganisme alami yang berada pada bambu berperan dalam proses fermentasi susu.
Setelah susu dimasukkan, bambu kemudian ditutup menggunakan daun pisang atau daun waru. Susu selanjutnya dibiarkan selama dua hingga tiga hari sampai mengalami perubahan tekstur.
Ketika sudah menggumpal, Dadiah dapat dikonsumsi. Hasil fermentasi tersebut memiliki rasa asam yang menjadi karakter utama makanan tradisional Minangkabau ini.
Dadiah kemudian dipadukan dengan ampiang atau beras ketan yang telah ditumbuk dan dikeringkan. Tambahan gula aren dan parutan kelapa membuat rasa asam dari susu fermentasi berpadu dengan rasa manis dan gurih.
Bukan Sekadar Makanan Tradisional
Bagi sebagian masyarakat Payakumbuh, Ampiang Dadiah bukan makanan yang baru dikenal. Kuliner tersebut sudah diperkenalkan secara turun-temurun dalam keluarga.
Salah seorang warga yang diwawancarai dalam liputan tersebut mengaku telah mengonsumsi Ampiang Dadiah sejak kecil. Ia mengenal makanan itu melalui orang tuanya yang tinggal berdekatan dengan penjual.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Ampiang Dadiah sebelumnya cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, kondisi itu perlahan berubah seiring berkurangnya tempat yang menyediakan makanan tersebut.
Sanusmawati, 71, pemilik Bofet Sianok, mengatakan Ampiang Dadiah yang dijual di tempatnya merupakan warisan keluarga. Ia menjadi generasi keempat yang masih mempertahankan menu tersebut.
Menurutnya, makanan itu telah ada sejak zaman dahulu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pengunjung Datang karena Rindu
Samuel Jedi, pegawai Bofet Sianok, mengatakan konsumen Ampiang Dadiah berasal dari berbagai kalangan.
Selain masyarakat lokal, warga perantauan yang pulang ke kampung halaman juga menjadi salah satu kelompok yang mencari makanan tersebut. Mereka datang untuk kembali menikmati kuliner yang mungkin sudah lama tidak disantap.
Ada pula pengunjung yang datang karena penasaran dengan makanan berbahan susu kerbau fermentasi.
Kondisi tersebut membuat Bofet Sianok memiliki peran penting dalam mempertahankan keberadaan Ampiang Dadiah di Payakumbuh. Berdasarkan liputan tersebut, warung ini menjadi salah satu tempat yang masih menyediakan menu tersebut setiap hari.
Lokasinya berada sekitar 100 meter dari Tugu Adipura Kota Payakumbuh.
Di tengah semakin terbatasnya produksi susu kerbau dan berkurangnya tempat penjualan, keberadaan Ampiang Dadiah menjadi gambaran bagaimana kuliner tradisional membutuhkan regenerasi agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Bagi pencinta kuliner khas Minangkabau, Ampiang Dadiah menawarkan cita rasa sekaligus pengalaman berbeda. Di balik rasa asam dan penyajiannya yang sederhana, terdapat tradisi fermentasi serta warisan keluarga yang telah bertahan selama beberapa generasi.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Metro TV