PADANG - Dadiah khas Minangkabau merupakan penganan tradisional berbahan dasar susu kerbau yang difermentasi secara alami di dalam bambu.
Di balik rasanya yang unik, kuliner ini memiliki proses pembuatan cukup panjang, mulai dari memerah susu kerbau, menyiapkan bambu tua, hingga menyimpannya semalaman sebelum siap disantap.
Bagi masyarakat Minangkabau, dadiah bukan sekadar makanan tradisional. Penganan tersebut menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang masih dipertahankan meski keberadaannya kini semakin sulit ditemukan.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Susu Kerbau Jadi Bahan Utama
Proses pembuatan dadiah diawali dengan memerah susu kerbau. Dalam tayangan tersebut, Warni, seorang pembuat dadiah, memperlihatkan cara menghadapi kerbau yang tidak selalu mudah diperah.
Hasil susu yang diperoleh pun tidak selalu sama setiap hari. Jumlahnya bergantung pada kondisi kerbau. Karena itu, pembuat dadiah harus memiliki cara tersendiri agar proses pemerahan tetap berjalan.
Setelah susu terkumpul, bahan tersebut dibawa untuk diproses. Susu kerbau kemudian dituangkan ke dalam bambu yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Bambu yang digunakan bukan sembarang bambu. Wadah tersebut harus berasal dari bambu yang sudah tua. Bambu juga perlu dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan air sehingga susu tidak cepat mengalami perubahan yang tidak diinginkan.
Setelah susu dituangkan, bambu ditutup dan disimpan semalaman. Proses itulah yang membuat susu kerbau berubah menjadi dadiah dengan tekstur dan rasa khas.
Dadiah Bisa Dinikmati dengan Cara Berbeda
Dadiah memiliki rasa yang cenderung hambar dan tekstur yang berbeda dari penganan susu pada umumnya. Namun, masyarakat Minangkabau memiliki cara tersendiri untuk membuatnya semakin menarik.
Salah satunya adalah menyantap dadiah bersama cabai dan bawang merah. Campuran tersebut memberikan sensasi pedas yang berpadu dengan rasa khas dadiah.
Selain sajian gurih dan pedas, ada pula olahan yang dikenal sebagai ampiang dadiah. Menu ini menawarkan rasa manis dengan tambahan bahan seperti ampiang, kelapa muda, santan, serta gula tebu atau saka.
Ampiang terlebih dahulu direndam menggunakan air mendidih agar teksturnya lebih mengembang. Setelah itu, bahan-bahan pelengkap ditambahkan hingga menjadi hidangan yang siap disantap.
Harganya Lebih Mahal karena Sulit Didapat
Dadiah juga memiliki nilai ekonomi bagi pembuatnya. Dalam tayangan tersebut, dadiah produksi Warni dipasarkan hingga ke Padang.
Harga penganan ini relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa makanan tradisional lainnya karena bahan bakunya tidak mudah diperoleh. Jumlah pemerah susu kerbau disebut semakin terbatas, sedangkan hasil susu juga tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama setiap hari.
Dadiah yang dijual pembuatnya disebut berada di kisaran Rp2.000 per bambu. Ketika sampai di warung makan, harganya dapat mencapai sekitar Rp5.000 per bambu.
Keunikan dadiah bahkan tidak berhenti pada urusan kuliner. Dalam tayangan tersebut, muncul pula klaim tradisional mengenai pemanfaatannya untuk merawat rambut.
Bagi pencinta kuliner tradisional, dadiah menawarkan pengalaman berbeda. Dari proses pembuatannya yang masih menggunakan bambu hingga cara menikmatinya dengan cita rasa pedas maupun manis, penganan khas Minangkabau ini memperlihatkan bagaimana tradisi dan kreativitas kuliner dapat berjalan beriringan.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : TRANS TV Official