Dadiah khas Minangkabau Makin Sulit Dicari, Ternyata Ini Penyebabnya

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:40 WIB
Dadiah khas Minangkabau semakin sulit ditemukan karena susu kerbau terbatas. Simak proses dan olahan uniknya. (Ilustrasi Gemini AI)
Dadiah khas Minangkabau semakin sulit ditemukan karena susu kerbau terbatas. Simak proses dan olahan uniknya. (Ilustrasi Gemini AI)

PADANG - Dadiah khas Minangkabau menjadi salah satu penganan tradisional dengan proses pembuatan yang tidak biasa.

Terbuat dari susu kerbau yang difermentasi dalam bambu, makanan ini membutuhkan bahan baku yang tidak selalu mudah diperoleh. Terbatasnya pemerah susu kerbau membuat dadiah semakin sulit ditemukan dan harganya ikut meningkat.

Sekilas, dadiah mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik satu bambu berisi penganan tersebut terdapat proses yang bergantung pada susu kerbau, kondisi hewan, serta keterampilan pembuatnya.

Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach

Bergantung pada Susu Kerbau

Salah satu pembuat dadiah, Warni, memperlihatkan bagaimana susu kerbau diperoleh. Ia harus menghadapi kondisi kerbau yang terkadang sulit diperah.

Menurut penuturan dalam tayangan tersebut, hasil pemerahan dapat berbeda setiap hari. Kondisi atau mood kerbau turut memengaruhi banyak sedikitnya susu yang berhasil diperoleh.

Warni memiliki cara tersendiri untuk membuat proses pemerahan lebih mudah. Setelah mendapatkan susu yang cukup, bahan tersebut kemudian dibawa pulang untuk diproses menjadi dadiah.

Tahap berikutnya tidak kalah penting. Bambu yang digunakan sebagai wadah harus sudah tua dan dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan dilakukan agar kandungan air pada bambu berkurang sehingga susu tidak cepat mengalami perubahan.

Susu kerbau kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan dibiarkan semalaman. Dari proses tersebut lahirlah dadiah dengan tekstur serta cita rasa khas.

Kelangkaan Membuat Harganya Naik

Keberadaan dadiah berkaitan erat dengan ketersediaan susu kerbau. Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa jumlah pemerah susu kerbau kini dapat dihitung dengan jari.

Kondisi tersebut membuat pasokan bahan baku dadiah tidak selalu stabil. Pembuat juga belum tentu mendapatkan hasil pemerahan dalam jumlah yang sama setiap hari.

Dadiah produksi Warni bahkan dipasarkan hingga Padang. Harga di tingkat pembuat disebut sekitar Rp2.000 per bambu. Sementara itu, harga di warung makan dapat mencapai Rp5.000 per bambu.

Perbedaan harga tersebut salah satunya berkaitan dengan proses memperoleh bahan baku yang tidak sederhana.

Dari Sajian Pedas hingga Ampiang Dadiah

Keunikan dadiah juga terletak pada cara menikmatinya. Rasa dadiah yang cenderung hambar dapat dipadukan dengan cabai dan bawang merah untuk menghasilkan sajian bercita rasa pedas.

Ada pula ampiang dadiah yang menawarkan sensasi berbeda. Hidangan ini menggunakan ampiang yang terlebih dahulu direndam dengan air mendidih. Proses tersebut dapat dilakukan sesuai tingkat pengembangan yang diinginkan.

Setelah itu, ampiang dipadukan dengan kelapa muda, santan, dan gula tebu atau saka. Hasilnya adalah sajian manis yang berbeda dari dadiah bercita rasa pedas.

Bagi orang yang baru mencicipinya, rasa dadiah bisa terasa asing. Namun, justru karakter tersebut menjadi bagian dari daya tariknya.

Selain sebagai makanan, dalam tayangan tersebut juga disampaikan klaim mengenai pemanfaatan dadiah untuk perawatan rambut. Klaim tersebut merupakan bagian dari pengetahuan atau penggunaan tradisional yang dituturkan dalam tayangan.

Dadiah menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya berbicara soal rasa. Di dalamnya terdapat bahan baku, teknik pengolahan, kebiasaan masyarakat, hingga persoalan ketersediaan bahan yang menentukan keberlangsungan sebuah makanan khas daerah.

Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : TRANS TV Official
Ampiang Dadiah susu kerbau Dadiah khas Minangkabau Warni padang