GUNUNG KIDUL - Tiwul Gunung Kidul memiliki cerita panjang sebagai makanan berbahan ketela yang dahulu digunakan sebagai pengganti nasi.
Kini, makanan tradisional tersebut berkembang menjadi jajanan khas dan oleh-oleh yang menarik wisatawan. Selain bisa dicicipi, pengunjung juga dapat melihat langsung proses pembuatan tiwul mulai dari pencampuran bahan hingga dikukus menggunakan kukusan bambu.
Tiwul menjadi salah satu makanan yang tidak bisa dilepaskan dari identitas kuliner Gunung Kidul. Bahan utamanya sederhana, tetapi pengolahannya menghasilkan makanan dengan karakter rasa dan aroma yang khas.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Wonosari, keberadaan sentra produksi tiwul memberikan pengalaman berbeda. Pengunjung tidak hanya membeli produk yang sudah jadi, tetapi juga dapat mengetahui bagaimana makanan tersebut dibuat.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Dari Tepung Ketela hingga Menjadi Tiwul
Proses pembuatan Tiwul Gunung Kidul dimulai dengan menyiapkan tepung ketela sebagai bahan utama.
Tepung tersebut kemudian dicampurkan dengan air, gula, serta sedikit jahe. Setiap bahan memiliki fungsi dalam menghasilkan karakter akhir tiwul. Gula memberikan rasa manis, sedangkan jahe membantu memberikan aroma dan sensasi rasa yang khas.
Setelah semua bahan tercampur, adonan tidak langsung dikukus. Ada tahapan penyaringan yang dilakukan terlebih dahulu.
Proses tersebut bertujuan mendapatkan campuran yang lebih halus sehingga bahan siap masuk ke tahap berikutnya. Setelah mendapatkan tekstur yang sesuai, adonan kemudian ditimbang berdasarkan porsinya.
Penimbangan menjadi bagian penting agar ukuran setiap produk tetap sesuai sebelum dimasak.
Dikukus dengan Kukusan Bambu
Setelah ditimbang, bahan tiwul kemudian masuk ke proses pengukusan.
Salah satu hal yang menarik dari proses tersebut adalah penggunaan kukusan berbahan bambu. Cara tradisional ini masih digunakan dalam proses produksi dan menjadi bagian dari karakter pembuatan tiwul.
Bahan yang telah dikukus kemudian menghasilkan tiwul khas Gunung Kidul yang siap disantap ataupun dikemas sebagai oleh-oleh.
Penggunaan peralatan sederhana tersebut memperlihatkan bahwa makanan tradisional tidak selalu membutuhkan proses yang rumit untuk menghasilkan cita rasa yang khas.
Justru dari bahan lokal dan teknik pengolahan yang sederhana, lahir makanan yang mampu bertahan dan mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Dulu Pengganti Nasi, Kini Jadi Oleh-Oleh
Tiwul memiliki perjalanan yang cukup panjang dalam kehidupan masyarakat Gunung Kidul. Pada masa lalu, makanan ini digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti nasi.
Ketela menjadi bahan pangan yang kemudian diolah menjadi tiwul untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
Namun, perubahan zaman membuat fungsi tiwul ikut berkembang. Kini, tiwul lebih dikenal sebagai jajanan tradisional dan oleh-oleh khas daerah.
Perubahan tersebut membuat tiwul memiliki pasar yang lebih luas. Wisatawan yang datang ke Gunung Kidul dapat menemukan berbagai pilihan tiwul di tempat penjualan oleh-oleh.
Bahkan, banyaknya pilihan bisa membuat pembeli bingung menentukan produk yang akan dibawa pulang. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki daya tarik di tengah banyaknya pilihan kuliner modern.
Menikmati Tiwul Saat Berkunjung ke Wonosari
Lokasi produksi yang berada tidak jauh dari Alun-Alun Wonosari juga membuat pengalaman mencicipi tiwul semakin menarik.
Wisatawan dapat melihat proses pembuatannya sebelum membeli produk yang tersedia. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah jajanan sederhana memiliki proses panjang sebelum sampai ke tangan konsumen.
Tiwul Gunung Kidul pada akhirnya bukan hanya tentang makanan dari tepung ketela. Kuliner ini menjadi bagian dari cerita pangan lokal yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dari makanan pengganti nasi hingga menjadi oleh-oleh khas, tiwul membuktikan bahwa kuliner tradisional masih memiliki ruang untuk terus dikenal oleh generasi sekarang.
Karena itu, bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Gunung Kidul, mencicipi tiwul sekaligus melihat proses pembuatannya bisa menjadi salah satu pengalaman kuliner yang menarik.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Ini Gunungkidul