Gatot Gunung Kidul, Singkong Hitam yang Harus Direndam 3 Hari Sebelum Disantap

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 15:00 WIB
Gatot Gunung Kidul punya proses unik. Singkong direndam 3 hari sebelum dikukus dan disajikan dengan kelapa. (Ilustrasi Gemini AI)
Gatot Gunung Kidul punya proses unik. Singkong direndam 3 hari sebelum dikukus dan disajikan dengan kelapa. (Ilustrasi Gemini AI)

GUNUNG KIDUL - Gatot Gunung Kidul merupakan salah satu makanan tradisional berbahan dasar singkong yang memiliki proses pengolahan cukup panjang.

Berbeda dengan olahan singkong pada umumnya, gatot dibuat dari singkong yang dikeringkan hingga berwarna hitam, kemudian direndam selama tiga hari tiga malam sebelum dikukus dan disajikan bersama parutan kelapa, gula, serta garam.

Makanan tradisional ini memiliki tampilan yang cukup unik. Warna hitam pada gatot bukan berasal dari pewarna tambahan, melainkan dari proses pengeringan singkong. Setelah melalui sejumlah tahapan, singkong tersebut menghasilkan tekstur kenyal dengan cita rasa gurih dan manis yang khas.

Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach

Singkong Direndam Selama Tiga Hari

Proses pembuatan Gatot Gunung Kidul tidak bisa dilakukan secara instan. Singkong yang digunakan terlebih dahulu direndam selama tiga hari tiga malam.

Selama proses perendaman, air harus diganti setiap hari. Tahapan tersebut dilakukan agar tekstur singkong menjadi lebih empuk sekaligus mengurangi aroma yang kurang sedap.

Sebelum direndam, singkong memiliki tekstur yang keras dengan warna hitam pekat. Setelah direndam selama tiga hari, kondisinya berubah. Singkong menjadi jauh lebih lunak sehingga mudah dipotong menggunakan tangan.

Tahapan ini menjadi salah satu pembeda gatot dengan makanan berbahan singkong lainnya. Pengolahannya membutuhkan waktu dan ketelatenan sebelum singkong siap masuk ke proses berikutnya.

Dipotong dan Dikukus

Setelah proses perendaman selesai, singkong kemudian dipotong-potong. Bagian tulang atau serat keras di bagian tengah singkong juga dibersihkan agar lebih nyaman ketika disantap.

Potongan singkong selanjutnya dikukus selama kurang lebih 30 menit. Pengukusan dilakukan hingga tekstur gatot menjadi matang dan siap diberi bumbu.

Sementara itu, bahan pendamping juga dipersiapkan. Salah satunya adalah kelapa parut yang digunakan sebagai pelengkap. Kelapa yang dipilih sebaiknya masih agak muda agar menghasilkan tekstur yang lebih lembut ketika dicampurkan dengan gatot.

Kelapa Parut Jadi Pelengkap

Kelapa parut kemudian dicampur dengan garam dan gula pasir. Campuran sederhana tersebut menjadi bumbu yang memberikan perpaduan rasa gurih dan manis pada gatot.

Setelah singkong selesai dikukus, campuran kelapa parut ditaburkan di atasnya. Semua bahan kemudian diaduk hingga tercampur secara merata.

Gatot pun siap disajikan. Teksturnya dikenal kenyal, sementara perpaduan singkong, kelapa, gula, dan garam menghasilkan rasa sederhana tetapi khas.

Kuliner Tradisional yang Butuh Kesabaran

Gatot menjadi salah satu contoh makanan tradisional yang memperlihatkan bagaimana masyarakat mengolah bahan pangan sederhana menjadi sajian yang memiliki karakter tersendiri.

Bahan utamanya memang hanya singkong, tetapi proses pembuatannya membutuhkan waktu cukup panjang. Singkong harus melalui tahap pengeringan dan perendaman sebelum akhirnya dapat dimasak.

Karena itu, pembuatan Gatot Gunung Kidul tidak cocok dilakukan secara mendadak. Setidaknya dibutuhkan waktu beberapa hari sejak proses perendaman dimulai hingga makanan siap disantap.

Keunikan lainnya terletak pada warna hitam dan teksturnya yang kenyal. Ciri tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri dari gatot sebagai makanan tradisional khas Gunung Kidul.

Di tengah banyaknya makanan modern, gatot menunjukkan bahwa singkong yang sederhana tetap dapat diolah menjadi kuliner bercita rasa khas. Proses panjang di baliknya juga menjadi bagian penting dari pengalaman menikmati makanan tradisional tersebut.

Baca Juga: Wisata Labuan Bajo 3 Hari 2 Malam, Jelajah Komodo hingga Pink Beach

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Wulan Kuncoro
Gatot Gunung Kidul kelapa parut makanan tradisional singkong gunung kidul